AJARAN AGAMA; ANTARA YANG MENGOKOHKAN DAN YANG MEROBOHKAN

AJARAN AGAMA; ANTARA YANG MENGOKOHKAN DAN YANG MEROBOHKAN

Oleh:

H.T. Romly Qomaruddien, MA.

 

Bumi ini tak akan pernah sepi dari dua kondisi yang selalu berhadapan dan saling tarik menarik; antara yang mengibarkan bendera al-haq dengan bendera al-baathil, antara yang mengajak pada terang [an-nuur] dengan yang mengajak pada gelap [az-zhulumaat], antara yang menggiring pada petunjuk [ar-rusyd] dengan yang mengajak pada kesesatan [al-ghayy], antara yang memenangkan barisan Alloh [hizbullaah] dengan yang memenangkan komplotan syaitan [hizbus syaithaan] atau antara yang mendukung kelompok kanan [ashhaabul yamiin] dengan yang mendukung kelompok kiri [ashhaabus syimaal]. Demikian Alloh Jalla Jalaaluh menuturkan bentangan ayat-ayatNya.

 

Sunnatullah ini diisyaratkan Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam berikut ini: “Tiada pernah sepi, akan ada di antara ummatku yang senantiasa mengusung kebenaran, tak akan mampu memadharatkan mereka orang yang menghadangnya sampai tibanya hari kiamat” [HR. Muslim dari Abi Hurairah radhiyallaahu ‘anh].

 

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan dalam kitabnya Miftaahu Daaris Sa’aadah dengan menukil paparan Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam riwayat Imam Thahawi: “Akan muncul generasi kemudian yang adil [ khalafun ‘uduul], mereka akan mengangkat martabat ajaran agama ini dengan ilmu dari kerusakan para pegundal; penyimpangan para perusak wahyu yang ekstrim [tahrieful ghaalien], skenario orang-orang phobia [intihaalul mubthilien] dan penakwilan para pentafsir tanpa piranti ilmu [ta’wielul jaahilien]”.

 

Di antara mereka ada yang merusak agama dengan cara merubah-rubah wahyu, menggugat autentisitasnya, menuduh wahyu sudah fosilled [barang rongsokan tak berguna] dan perilaku-perilaku tahrief lainnya. Ada juga yang membuat strategi penghancuran agama dengan cara perang pemikiran [ghazwul fikri; proxy war, perang terminologi, perang identitas dan lain-lain] yang melahirkan produk-produk kemungkaran berpikir dan diabolisme¬† intelektual. Ibnul Jauzi menyebut berbagai logika perlawan terhadap yang berbau wahyu dengan sebutan “talbies iblis”, artinya logika berpikir ala iblis. Semakin sempurnalah bursa kesesatan penghancuran agama ini dengan munculnya para pentafsir yang memahamkan agama kepada ummat ini tanpa piranti ilmu dan kaidah-kaidah yang mu’tabar, sehingga melahirkan tafsir-tafsir “jalan lain” yang keluar dari semestinya.

 

Benar, apa yang disampaikan Syaikhul Mujaddid Muhammad At-Tamimi dalam Kasyfus Syubuhaat [artinya: Menyingkap Fenomena Kebatilan] yang menuturkan: “Musuh-musuh agama ini begitu sangat siaga dalam menghancurkan ajaran agama ini. Mereka memperbanyak ilmu [‘uluumun katsierun], menguasai literatur [kutubun], memperkuat argumen [hujajun] dan mempertajam ketangkasan logika [fashaahatun]. Hendaknya kalian bersiap diri dalam menghadapi mereka dengan cara-cara yang seperti mereka lakukan”.

 

Dengan bimbingan wahyu, semoga Alloh menjadikan kita berada pada barisan yang mengokohkan agama ini. Aamiin … Wallaahul musta’aan

______

 

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqidah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAIPI-UBA Jakarta

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com