RAGAM MODEL GURU

RAGAM MODEL GURU
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Masih terngiang dalam ingatan dan terbersit dalam pikiran, sungguh yang namanya Guru itu memiliki ragam yang berbeda. Itulah uraian yang dipaparkan para pemateri dalam perhelatan Tadriebul Mudarrisien di lingkungan pendidikan dan latihan Dewan Da’wah tentang hubungan orang tua, murid dan guru.

Acara yang dipimpin penulis sendiri (waktu itu sebagai Ketua Biro Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Dewan Da’wah), mencatat hal-hal penting berikut ini:

KH. Syuhada Bahri (sebagai aktivis senior dan Ketua Umum Dewan Da’wah saat itu) menjelaskan, bahwa Alloh ‘azza wa jalla adalah “Guru” orang-orang bertakwa. Menurutnya, firman Ilahy yang tertuang dalam kalamNya: “Wattaqullaaha wa yu’allimukumullaahu; Bertakwalah kamu semua, dan Alloh akan mengajari kamu semua” (QS. Al-Baqarah/2 : 282) menunjukkan bahwa menjadi orang takwa itu, gurunya adalah langsung Alloh. Oleh karenanya, tujuan pendidikan yang utama adalah menjadi manusia bertakwa dan orang-orang bertakwa itu gurunya tiada lain adalah Alloh ‘azza wa jalla itu sendiri.

Sementara itu, Prof. Dr. Sofyan Sauri (Guru Besar Pendidikan Nilai UPI Bandung) menguraikan, apabila diklasifikasi menurut kedudukannya, “Guru” itu terbagi menjadi enam kategori (dengan uraian tambahan penulis):

1. Maha Guru; Tidak ada yang bisa menandingi Alloh dalam mengajarkan segala sesuatu, karena itu manusia tidak akan mampu menyamai Dzat yang Maha memberi ilmu. Dialah Maha Guru, yakni Rabbul ‘Aalamien.

2. Guru Sejati; Manusia biasa tidak diberikan kemampuan untuk bisa sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Alloh. Namun, Alloh telah menurunkan sosok teladan manusia pilihan. Dialah Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam sebagai “Guru sejati” dengan sebutan uswah hasanah sebagaimana kalamNya: “Laqad kaana lakum fie Rasuulillaahi uswatun hasanah; Sungguh ada pada peribadi Rasulullah itu suri tauladan yang baik …” (QS. Al-Ahzaab/33: 21).

3. Guru Dasar; Mereka adalah orang tua yang secara biologis menyebabkan kita lahir, yakni ayah dan bunda (waalidain) yang memberikan pengajaran paling utama dan pertama. Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithrah; Setiap yang dilahirkan dalam keadaan fithrah …” (HR. Bukhari-Muslim).

Adapun tanggung jawab berikutnya, sangat ditentukan oleh siapa yang mengarahkan dan membawanya, apakah nantinya dia akan menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi (kalimat fa abawaahu dalam hadits yang mulia ini bisa mengandung makna orang tua biologis, bisa juga orang tua idiologis).

4. Guru Bayar; Mereka adalah profesional yang memang dibayar untuk mengajar (baik oleh pemerintah atau pun dipanggil sengaja oleh keluarga atau lembaga tertentu untuk mengajar). Perkara ini, bukanlah hal ‘aib dalam dunia pendidikan selama tidak berlebihan. Para khalifah terdahulu semisal Umar Ibnul Khathab radhiyallaahu ‘anh mengeluarkan dinar dan dirham dari kas Baitul Maal untuk kepentingan terselenggaranya program ini.

5. Guru Nyasar; Mereka adalah guru yang tidak direncanakan dan kadang tidak diharapkan kehadirannya. Secara spontan, proses pengajaran bisa terjadi di mana saja; pasar, terminal, stasiun, dalam kereta atau bis, bahkan di rumah sendiri seperti halnya Televisi dan alat-alat elektronik lainnya, juga tempat-tempat lain di mana seseorang ada dalam kerumunan itu. Adanya tindak kriminalisme, premanisme, vandalisme dan penyimpangan lain di kalangan remaja dan pelajar, salahsatunya karena faktor ini.

6. Guru Benar; Mereka adalah para pendidik dan pengajar yang benar-benar dipersiapkan dengan segala piranti ilmunya secara benar dan terpogram, baik keilmuan, mental dan moralnya untuk melahirkan anak didik yang berkwalitas. Ibnu Taimiyah rahimahullaah mengistilahkannya dengan “Pendidikan yang mampu melahirkan gerak intelektual (raudhatul adzhaan), ketahanan fisik (raudhatul abdaan) dan menghidupkan gerak jiwa (raudhatun nufuus). Ibnul Qayyim rahimahullaah meringkasnya dengan istilah “kecerdasan fikir (dzakiy)” dan “kecerdasan jiwa (zakiy)“. Para pakar pendidik abad ini, semisal Allaahu yarhamh Dr. Mohammad Natsir menyebutnya dengan “Pendidikan berteraskan Tauhid”. Maka sangatlah wajar, apabila Prof. Dr. M.N. Al-Attas (Pakar Pendidikan Islam Melayu) mendefinisikan hakikat pengajaran dan pendidikan itu adalah “Menibakan makna kepada jiwa dan menibakan jiwa kepada makna”.

Semoga Rabbul ‘Aalamien menjadikan kita menjadi guru dan sekaligus murid yang baik. Allaahumma faqqihnaa fied diin … Wallaahu a’lam.

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqidah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAIPI-UBA Jakarta

 

Teten Romly Qomaruddien

Print Friendly, PDF & Email

4 Komentar

  1. Alhamdulillahi Raabil ‘Alamiin, semoga manfaat ustadz tulisannya. Banyak ilmu yg didapat dari uraiannya tentang sosok seorang guru.
    Mau tanya juga ustadz.. perkataan prof. Al attas, pada paragraf terakhir:
    “Menibakan makna kepada jiwa dan menibakan jiwa kepada makna..
    Maksudnya apa ya ustadz TRQ..??

    • Dengan senang hati … Tibanya makna kepada jiwa dan tibanya jiwa kepada makna, artinya pendidikan harus mampu menyelaraskan antara ilmu yang diketahui dengan amal perbuatan yang mesti dilakukan (iqtidhaa’ul ‘ilmil ‘amala) atau sampainya apa yang diketahui kepada yang Maha tau. Singkatnya, ilmu harus menggerakan perbuatan.

      Ustadz TRQ ( Ustadz Teten Romly Qomaruddien)

      Baarakalloohu fiek wa syukran

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*