BAHAGIA DI PENGHUJUNG BULAN PENUH CINTA

BAHAGIA DI PENGHUJUNG BULAN PENUH CINTA
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Bahagia dan cinta merupakan dua pekerjaan hati yang saling berkoneksi. Ekspresi kepuasan batin yang sulit disembunyikan dan ungkapan rasa senang yang tidak bisa dihalang. Bermula dari proses cinta dan berakhir di ujung bahagia.

Bila diibaratkan pasangan, shaum dan kebahagiaan merupakan pasangan yang ideal dengan segala pernak pernik ujian di dalamnya; mulai dari menahan rasa lapar dan haus yang sangat, berpantang dari segala keinginan dan dorongan kesenangan, hingga harus menekan gelora dan ledakan syahwat jiwa. Semuanya berjalan dan mengalir laksana air seiring dengan kesabaran dan kegigihan diri hingga berhasil memetik hasilnya. Suatu saat kelak, buah kesungguhan itu, akhirnya akan menjadi indah pada waktunya.

Itulah yang dirasakan oleh mereka orang-orang yang shaum dengan penuh rasa cinta, di mana imaanan wa ihtisaaban, yakni kelezatan iberibadah dengan penuh iman dan kesungguhan menjadi proses amalannya. Pantaslah, apabila Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam menuturkan: “Lis shaaimi farhataani, farhatun ‘inda ifthaarihi wa farhatun ‘inda liqaai Rabbihi”. Artinya: “Bagi orang yang shaum, memiliki dua kebahagiaan; bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika berjumpa dengan Rabbnya” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh).

Ramadhan dengan segala keberkahannya, meninggalkan kesan yang teramat dalam. Orang yang shaum, sungguh mengenal karakternya. Orang yang shaum, begitu sangat perhatian akan waktu-waktunya. Orang yang pernah merasakannya, pasti akan merindukannya kembali. Dan orang yang shaum pun, akan disiplin mempertahankannya. Benar para pujangga berkata: “Cinta hadir karena perkenalan, bersemi karena perhatian, berbunga karena kerinduan dan bertahan karena kesetiaan”.

Dengan saling menghaturkan kata bahagia di penghujung bulan mulia, semoga kita mampu menyambut syawwal ini sebagai bulan peningkatan ilmu, amal dan seluruh khidmat kita kepada Rabbul ‘Aalamien …. Taqabbalallaahu minnaa wa minkum; “Mudah-mudahan Allah jalla jalaaluh menerima amal ibadah kita”. Aamiin yaa Mujiebas saailiin …
___________________

Penulis adalah: Pengasuh kajian madrasahabi-umi.com.

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com