Rabu, Desember 11News That Matters

MENGGAPAI ISTIJAABAH DI HARI ‘ARAFAH (Memelihara Kekhusyuan dan Mengedepankan Kelapangan)

MENGGAPAI ISTIJAABAH DI HARI ‘ARAFAH (Memelihara Kekhusyuan dan Mengedepankan Kelapangan)
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Selayang Pandang ‘Arafah

Itulah nama sebuah bukit sekitar 25 km dari Mekkah. Tempat ini menjadi sangat penting bila dikaitkan dengan ibadah haji, sehubungan dengan wukuf di tempat itu. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Al-Hajju ‘Arafah”, artinya “Haji adalah ‘Arafah”. (HR. Ahmad dan Ashhaabus Sunnan). Bahkan riwayat lain menyebutkan, Rasulullah bersabda : “Tidak ada hari yang ketika itu Allah lebih banyak membebaskan hamba dari (siksa) neraka selain hari ‘Arafah, dan sungguh ia telah dekat, kemudian Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikat, seraya berfirman : Mâ arâda hâulâi (apa yang mereka kehendaki?)”. (HR. Muslim).

Bukit ‘Arafah, berada pada ketinggian 750 kaki di atas permukaan laut, ia merupakan padang pasir gersang tanpa tumbuhan selama berabad-abad. Sekarang, pemerintah Arab Saudi berusaha menghijaukan agar suasana terik panas mentari tidak terlalu menyengat. Di tengah padang pasir itu terlihat bukit-bukit kecil yang dinamakan Jabal Rahmah. Setiap tahun, para jama’ah haji melakukan wuquf di ‘Arafah untuk memenuhi rukun haji mereka. Mereka datang dari berbagai penjuru negeri dengan berbagai warna kulit, bahasa, ras, dan usia, serta bentuk dan kondisi masing-masing yang beragam pula. Di hari itu mereka berkumpul sebagai “satu ummah” yang tidak mengenal batas, baik pangkat dan kedudukan serta pengaruh. Kaum bangsawan maupun orang biasa dipandang sama dan sederajat. Semuanya terbungkus kain ihram berwarna putih. Mereka berbeda, namun satu keyakinan yakni Islam, agama yang menjamin keselamatan dunia dan akhirat apabila manusia mengikuti ajaran (syir’ah) dan aturannya (minhâj).

Keistimewaan Hari ‘Arafah

Seperti halnya ibadah lain, ibadah di hari ‘Arafah memiliki sejumlah keistimewaan amal (fadhîlah ‘amal) yang tak ternilai harganya. Hal ini banyak diterangkan dalam kitab para ulama misalnya kitab Bayânul Mahajjah Fî Wadhâifa Syahri Dzilhijjah karya Ibnu Rajab al-Hanbali.

Di antara keutamaan itu adalah:

Pertama; Bagi para jama’ah haji, wuquf di ‘Arafah merupakan rukun yang tidak boleh terlewatkan. Jama’ah haji dipersilahkan mengambil posisi di seluruh kawasan ‘Arafah, karena bukit ‘Arafah seluruhnya tempat wuquf. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Waqaftu hâ hunâ, wa ‘arafatu kulluhâ mauqifun”, artinya: “Aku wuquf di sini, dan ‘Arafah seluruhnya adalah tempat wuquf”. Karena itu para jama’ah haji harus memperhatikan betul batas-batas ‘Arafah yang sudah ditentukan. Sambil menghadap qiblat, mengangkat kedua tangan, berdzikir dan berdo’a kepada Allah ‘azza wa jalla sampai matahari terbenam dan hilang bulatannya, lalu berangkat menuju Muzdalifah. Alangkah sayangnya, bila sebagian jama’ah kurang memperhatikan batas-batas serta rambu-rambu tersebut yang telah ditetapkan syari’ah, di mana masih banyak para jama’ah yang melaksanakan wuquf di luar area ‘Arafah, meninggalkan ‘Arafah sebelum matahari terbenam dan berdo’a bukan menghadap qiblat. Demikian Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin menuturkan dalam kutaibatnya Manâsikul Hajji Wal ‘Umrah, hlm. 30-32).

Bahkan banyak pula kaum muslimin lebih sibuk berkumpul di Jabal Rahmah ketimbang berdiam diri (wuquf) di ‘Arafah dengan keyakinan akan mendapatkan banyak keutamaan. Tentu saja pendapat itu tidak benar, mengingat tidak memiliki landasan. (Yusuf bin Abdillah bin Ahmad al-Ahmad, Shifatul Hajji wal ‘Umrah wa Ahkâmus Shalâti Fie Masjidin Nabawi, hlm. 30-31).

Terlepas dari keyakinan mereka (semoga Allah memaafkannya), sudah semestinya kaum muslimin membenahi amalannya ketika berada di sana, mengingat ‘Arafah termasuk tempat yang sudah ditentukan dan saat yang tepat dikabulkannya do’a seseorang (sâ’atul ijâbah). Banyak waktu yang dimasukkan sebagai sâ’atul ijâbah, hari ‘Arafah merupakan salah satunya. (Lihat Jawâmî’ud Du’â Minal Qur’âni wa Shahîhis Sunnah, Dar Ibnul Mubârak, hlm. 26-27).

Kedua; Bagi kaum muslimin yang tidak menunaikan ibadah haji, disunnahkan “Shaum ‘Arafah”, karena bertepatan dengan pelaksanaan wuqufnya jama’ah haji di ‘Arafah. Mengenai keistimewaan shaum di hari ini bagi kaum muslimin yang tidak menunaikan ibadah haji adalah: “Yukaffirus sanataini mâdhiyatan wa mustaqbalatan”, artinya: “Dapat menghapus dosa satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang”. (HR. Jama’ah kecuali Al-Bukhari dan Tirmidzi, Imam Thabarani meriwayatkan dari shahabat Zaid bin Arqam, Sahl bin Sa’ad, Qatadah bin Nu’man, Ibnu Umar dan Abi Sa’id al-Khudriy radhiyallaahu ‘anhum).

Adapun bagi yang menunaikan wuquf (jama’ah haji), Nabi melarangnya. Beliau bersabda: “Nahâ ‘an shaumi yaumi ‘arafata bi arafâtin”. Artinya: “Beliau melarang shaum ‘arafah di ‘arafah”. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abi Hurairah radhiyallaahu ‘anh).

Menentukan Hari ‘Arafah

Sebagaimana telah diketahui, penentuan ibadah beragam; Ada ibadah yang ditentukan oleh hari, berapa pun tanggalnya, yang penting harinya sesuai (seperti halnya shalat Jum’at, shaum Senin dan shaum Kamis). Ada pula yang ditentukan dengan tanggal, apa pun harinya, asalkan tanggalnya sesuai (seperti hari ketujuh dari kelahiran [‘aqieqah], shaum ayyaamul baidh pada 13, 14 dan 15 pertengahan bulan qamariyah dan penentuan hari ‘Arafah).

Secara umum, sama seperti halnya pembahasan penentuan hilal Ramadhan dan hilal Syawwal, bahwa ibadah shaum dan haji ditentukan dengan munculnya hilal sebagai pijakan dalam menentukan ibadah-ibadah lainnya yang berkaitan dengan keduanya. Maka Allah ‘azza wa jalla menurunkan ayat-Nya : “Orang-orang bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hilal-hilal itu. Katakanlah ia (hilal) itu pertanda waktu (mawâqit) untuk manusia dan pelaksanaan ibadah haji” (QS. Al-Baqarah/ 2:189).

Dengan demikian, penentuan ibadah di bulan Dzulhijjah ini sangat tergantung kepada kapan bulan ini pertama kali muncul, dan kapan bulan sebelumnya (Dzulqa’dah) berakhir. Hal ini senada dengan Imam Asy-Syaukani, bahwa hilal itu Ismun limâ yabdû fî awwalis Syahri wa fî âkhirihi, artinya: “Nama bulan ketika baru muncul dan ketika berakhir”. (Lihat Fathul Qadîer 1/ 240).

Dalam prakteknya, untuk menentukan ketetapan waktunya, kaum muslimin masih dihadapkan kepada perbedaan, antara yang berpegang kepada hisâb haqîqî dan yang berpegang kepada ru’yatul hilâl (melihat hilal secara langsung). Untuk kasus penentuan hilal Ramadhan, kapan mulai shaum dan kapan mulai berbuka (‘iedul fithri) sudah sama-sama dimaklumi bahwa qaidah Anna likulli baladin ru’yatuhum, artinya “Bahwa bagi tiap-tiap negeri sesuai dengan ru’yatnya” dapat dijadikan pegangan yang cukup menenangkan. Demikian pula dengan qaidah “Itsbâtul hâkim fî masâilil ijtihâdi yarfa’ul khilâf”, artinya: “Penetapan seorang hakim atau waliyyul amri dalam masalah ijtihad dapat menghilangkan perbedaan”. Bagaimana dengan perbedaan shaum ‘Arafah dan Iedul Adhha?, masihkah qaidah-qaidah tadi dapat dijadikan pegangan?
Mengingat penentuan jatuhnya wuquf ‘Arafah sepenuhnya tanggung jawab pemerintah Saudi Arabia, karena tempatnya ada di sana. Dalam hal ini, kaum muslimin, terutama para pemimpinnya masih belum ada kesepakatan, sehingga perbedaan ini nampaknya masih akan sering terjadi di setiap tahunnya seperti halnya tahun-tahun lalu.

Tidak terkecuali tahun ini (1439 H.), di mana itsbat pemerintah Indonesia melalui Badan Hisab dan Ru’yat Kementrian Agama RI telah menetapkan bahwa penanggalan 9 Dzulhijjah 1439 bertepatan dengan hari selasa, 21 Agustus 2018 dan otomatis hari Rabu-nya, 22 Agustus 2018 adalah 10 Dzulhijjah 1439 H. Perhitungan yang sama, dikuatkan oleh temuan ormas-ormas Islam semisal persyarikatan Muhammadiyah sebagaimana termaktub dalam Maklumat No.1/ MLM/ 1.0/ E/ 2018 dan Surat Edaran PP. Persatuan Islam No. 0978/ JJ-C.3/ PP/ 2018.

Bahan Pertimbangan

Terjadinya perbedaan pelaksanaan ‘Iedul Adhha, sudah lama terjadi. Tentunya sangat mempengaruhi kekhusyuan kaum muslimin dalam menjalankan ibadah tersebut (khususnya shaum ‘Arafah dan shalat ‘Iedul Adhha serta hari-hari tasyrieq bagi negara-negara di luar Saudi Arabia). Hal inilah yang membuat Allah Yarhamh, Dr. Mohammad Natsir sebagai anggota Majelis Ta’sîsî, Mudier Maktab dan Penasehat Umum Rabithah al-‘Alam al-Islamy melayangkan suratnya tertanggal 23 Shafar 1396 H. dengan No. 109/2/76 kepada Sekjen Rabithah al-‘Alam al-Islamy, Syaikh M. Shaleh Qazzaz untuk mengeluarkan suatu penjelasan sehubungan masalah tersebut. Maka Sekjen Rabithah al-‘Alam al-Islamy menyetujui usulan Syaikhul Azhar Dr. Abdul Halim Mahmud (waktu itu) yang berpendapat, ummat Islam sedunia, sebaiknya mempunyai satu pendapat dalam menentukan hari wuquf di ‘Arafah, sehingga Hari Raya Haji dirayakan pada hari yang sama di seluruh dunia. Beliau menegaskan: “Jadi saya berpendapat, karena Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Tinggi telah memudahkan cara-cara berkomunikasi modern antara masing-masing Negara Islam, maka sebaiknya semua Negara itu berpedoman kepada ru’yah Saudi Arabia dalam menentukan permulaan bulan Dzulhijjah. Inilah pendirian yang dapat mempersatukan pendapat kaum muslimin seluruhnya dalam persoalan wuquf di ‘Arafah”. (diterjemahkan dari harian An-Nadwah oleh Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Pusat). Pendapat yang sama, dikemukakan pula oleh Kementrian Agama Kuwait saat ini.

Namun, tentu saja tidaklah cukup sampai di situ, di mana persoalan ini merupakan ranah fiqih yang dinamis dan terbuka untuk berargumen, selama hujjahnya bisa dipertanggung jawabkan. Hal ini perkara yang sudah umum diketahui, termasuk ulama-ulama Kerajaan Saudi Arabia pun memakluminya. Sekali lagi, ini soal fiqih, soal ijtihad, soal hujjah yang harus disikapi secara ‘arif dan bijaksana dengan penuh kelapangan dada. Polemik ilmiah semacam ini bisa dilihat dalam Nailul Authaar karya ulama klasik As-Syaukani atau pun Kaifa Nata’amal Ma’as Sunnah an-Nabawiyyah karya ulama kontemporer Syaikh Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy ketika membahas ru’yatul hilaal.

Berikutnya, sikap serupa ditunjukkan Syaikh Muhammad Shaleh al-‘Utsaimin dan Syaikh Prof. Dr. Sulaiman ar-Ruhaily rahimahullaahu ‘anhumaa yang berpendapat tidaklah mengapa bila penentuan penanggalan di tanah air berbeda dengan penentuan penanggalan yang ditetapkan KSA. Artinya, sangat mungkin ada pandangan lain yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai contoh, penanggalan KSA pernah juga dikoreksi oleh Dewan Hisab dan Ru’yat Persatuan Islam, para ahli di KSA pun menerima kritikan itu (ditanda tangani oleh Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Razaq ‘Afiefy rahimahullaah) dan beliau pun menghaturkan terima kasih.

Dengan demikian, kontroversi mengenai hal ini semoga tidak menyebabkan kontra produktif yang bisa mengganggu kekhusyuan ibadah dan keutuhan persatuan ummat. Justeru sebaliknya, ikhtilaf mu’tabar ini menjadikan ummat semakin dewasa dalam berfikir dan memacu ummat semakin memiliki keinginan untuk mendalami agamanya (tafaqquh fied diin).

Semoga Allah ‘azza wa jalla senantiasa mempertautkan hati kaum muslimin, memberikan ampunan (maghfirah) dan petunjuk-Nya (hidayah) serta menjadikan do’a-do’a mereka dikabulkan (mustajâbah, maqbûlah) di sisi-Nya. Allahumma Amien
__________________

Pemateri adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAIPI-UBA Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com