KELAHIRAN NABI HINGGA PERINGATAN (Sebuah Renungan Sejarah)

KELAHIRAN NABI HINGGA PERINGATAN (Sebuah Renungan Sejarah)
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Berbicara kelahiran Nabi, sejujurnya para penulis sejarah masih berselisih mengenai tanggal pastinya. Namun menurut riwayat yang masyhur, Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal di tahun Gajah. Itulah yang lebih populer di kalangan kaum Muslimin, bagaimana pun ini adalah sebuah tanggal yang diperkirakan yang menjadi konsensus (ijma‘, kesepakatan) di kalangan ummat dan bukan sebuah kepastian.

Sekali pun demikian, kesepakatan ini tetap dihargai. Akan tetapi, para ahli sierah tidak menemukan bahwasanya Nabi memperingati hari kelahirannya, demikian juga para shahabat, tabi’ien, tabi’ut taabi’ien dan generasi setelah mereka dari para Imam petunjuk. Kalau pun ada yang mengkaitkannya dengan peristiwa kelahirannya, itulah shaum sunnah di hari Senin sebagaimana dikuatkan oleh riwayat Imam As-Suyuthi.

Adapun sejak kapan dan siapa yang pertama kali mempelopori perayaan kelahiran Nabi, tidak diketahui dengan pasti. Yang jelas, para ahli sejarah selalu mengkaitkannya dengan dua peristiwa; Tradisi Syi’ah dan Perang Salib.

Bermula pada masa Dinasti Fathimiyah yang Syi’ah dengan pemerintahan Wazir al-Afdhal (487-515 H 1095-1121 M.) yang bukan sekedar merayakan nabi, melainkan kelahiran ‘Ali, Fathimah dan bahkan kelahiran sang Amir. Pengaruh ajaran ini masih tetap berlanjut hingga Mesir Modern, di mana peringatan Maulid Sayyidina Husain (putera ‘Ali bin Abi Thalib) serta wafatnya di Karbala diperingati lebih meriah dari pada Maulid Nabi.

Riwayat lain menyebutkan, baik sewaktu masih di Tunis tahun 909 M. lalu pindah ke Kairo dengan Khalifah IV Al-Muiz (952-975 M.) sampai Khalifah V Al-Aziz (975-996 M.) telah melakukan usaha-usaha resmi untuk menyebarkan ajaran Syi’ah. Salah satunya pesta besar-besaran ulang tahun kelahiran Nabi di seluruh negeri yang berada pada kekuasaan Dinasti Fathimiyah, termasuk Mekkah, Jeddah dan Yaman.

Sedangkan di kalangan Sunni, perayaan kelahiran Nabi dilakukan di Arbala’ tahun 604 H./1207 M. oleh Al-Malik Muzhaffar ad-Din Kukburi (salah seorang saudara Shalahuddin al-Ayyubi). Diterangkan oleh lbnu Khalikan (w. 681 H./ 1282 M.) bahwa pergolakan perang salib yang berlangsung 200 tahun, telah menyebabkan akulturasi kebudayaan antara pengaruh Kristen dan pengaruh Islam. Orang-orang kristen telah membawa berbagai hal yang positif dari peradaban dan kebudayaan Islam ke Eropa. Bagi ummat Islam, beberapa kebiasaan Kristen selama kurang lebih dua abad itu telah meninggalkan bekas pada tradisi baru. Pengaruh yang jelas adalah perayaan kelahiran Nabi dengan mencontoh perayaan Natal Yesus Kristus yang dalam Islam dikenal dengan ‘lsa al-Masih.

Nampaknya, kalau mengingat perjuangan dan gigihnya Sulthan Shalahuddin al-Ayyubi ketika mengembalikan ummat kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dari kekeliruan tradisi Fathimiyah yang Syi’ah dan heroiknya Sulthan dalam mengusir tentara Salib dari bumi Islam, kiranya menjadi bahan renungan dan mawas diri bagi kaum Muslimin hari ini.

Pemaknaan terhadap “mengingatnya kita” akan kebesaran dan perjuangan Rasulullaah hendaknya menjadi dorongan kuat untuk mengamalkan sunnahnya. Mencintai Nabi berarti memelihara sunnahnya dari berbagai kekeliruan dan menyayangi Nabi berarti menjaga ajarannya dari berbagai penyimpangan. Fa’tabiruu yaa ulil albaab … Wallaahul musta’aan
______

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAIPI-UBA Jakarta

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com