KIAT SELAMAT DI HARI-HARI YANG PENUH KETEGANGAN

KIAT SELAMAT DI HARI-HARI YANG PENUH KETEGANGAN

(Saripati Kutaibat Ad-Dhawaabithul Munjiyat fiel Ayyaamil Muhlikat)
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Di antara tali ikatan iman yang menjanjikan kebaikan dunia dan akhirat adalah saling menasihati dalam kebenaran dan keshabaran sebagaimana ditunjukkan QS. Al-‘Ashr/ 103: 1 – 3.

Muhammad bin Shalih al-Harby menuturkan dalam prolog bukunya ini: “Saling menasihati dapat berfungsi sebagai berikut; memberi pengetahuan bagi yang tidak tahu, mengingatkan orang yang lupa dan lalai, memotivasi orang yang tahu agar berbuat dan berkelanjutan dalam perbuatannya, juga menjadi ajang pembinaan bagi ummat agar selamat dari jeratan-jeratan fitnah, (terutama) yang telah dirancangkan pihak musuh demi hancurnya ummat.”

Fadhielatus Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahullaah mengapresiasi tulisannya dan merekomendasikan agar disosialisasikan.

Adapun kiat-kiat yang dimaksud, adalah sebagai berikut:

Kiat pertama;
Memelihara kelembutan (ar-rifq) dan menghindari kekasaran (tasyaddud) merupakan perbuatan mulia dalam menghadapi berbagai keadaan.

Kiat kedua;
Mengedepankan kaidah dar’ul mafaasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih yang menyebutkan bahwa: “Mencegah kerusakkan harus diutamakan dari pada mendatangkan kemashlahatan” merupakan sikap bijak dalam menimbang berbagai persoalan.

Kiat ketiga;
Menjaga kelapangan dan tidak mudah terperangkap emosi sesaat, hingga terjebak fanatisme.

Kiat keempat;
Tidak terburu-buru menilai sesuatu dan menyimpulkannya sebelum mendapatkan gambaran yang utuh.

Kiat kelima;
Hendaknya berkata jujur dan bersikap adil, bahkan terhadap musuh sekalipun.

Kiat keenam;
Tidak mudah menganggap baik suatu perkataan atau perbuatan yang tidak memiliki argumen kuat.

Kiat ketujuh
Komitmen dalam memelihara persatuan Muslimin dan selalu waspada terjadinya perpecahan, serta berupaya meminimalisir perbedaan.

Kiat kedelapan;
Meningkatkan loyalitas terhadap orang-orang beriman, terutama para ulama Rabbany yang diharapkan menjadi rujukan dalam urusan agama dan dunia.

Kiat kesembilan;
Dalam meninggikan bendera ajaran Islam, hendaknya menghindari faham-faham yang menyimpang dari pedoman pokok (kitaabullaah dan sunnah rasuNya).

Kiat kesepuluh;
Tidak memberikan loyalitas terhadap orang-orang kufur, kecuali dalam perkara-perkara yang sudah disepakati (mu’ahhad, mu’taman) dan dibenarkan agama.

Kiat kesebelas;
Merenungkan kembali hadits-hadits tentang fitnah akhir zaman (ahaadietsul fitan); mengimani dan membenarkan apa yang diberitakan Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan tidak berlebihan dalam mencocokkannya dengan realita yang ada.

Semoga Rabbul ‘aalamien senantiasa memberikan keberkahan dan keselamatan bagi agama dan ummatnya. Allaahumma a’izzal Islaam wal Muslimien … Aamiin yaa mujiebas saailiin

______________

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAI Persatuan Islam Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com