Rabu, Desember 11News That Matters

HAYAT JUANG POLITIK SANTUN SANG KHÂDIMUL UMMAH (Dari Pojok Diskusi Buku Biografi Mohammad Natsir di STAI Persatuan Islam Jakarta)

HAYAT JUANG POLITIK SANTUN SANG KHÂDIMUL UMMAH (Dari Pojok Diskusi Buku Biografi Mohammad Natsir di STAI Persatuan Islam Jakarta)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien


Sedikit pengetahuan penulis tentang sosok Allâhu yarham Mohammad Natsir; selain bukan maqam dan zaman-nya bagi diri ini untuk membincangnya, namun perjalanan hidup juangnya begitu sangat menarik untuk dikenang oleh generasi mana pun jua. Istilah Ayahanda Prof. Dr. Ir. AM. Saefuddin, “Pak Natsir itu tokoh multi talenta dan tidak pernah mati” (maksudnya: alam pikirannya terasa masih hidup, pen.).

Termasuk diri ini, yang sekedar kenal dari karya-karyanya, namun sempat melihatnya pada masa-masa akhir tahun 1993an dalam usia beliau 84 tahun. Ketika wafatnya, diri ini masih sempat menyaksikan ribuan jamaah mengantarkan jenazahnya, dan turut serta mengiringkan ke tempat peristirahatan terakhir di TPU Karet Bivak Tanah Abang Jakarta Pusat.

Ketika membicarakan negara, tidak lengkap rasanya tanpa menyebut keterlibatan dirinya. Ketika membahas perjuangan ummat, hambar rasanya tanpa menyinggung sejarah dakwah dan tarbiyahnya. Ketika mendiskusikan alam fikiran, kering rasanya tanpa melibatkan falsafah intelektualnya, ketika membincang hubungan antar tokoh tidak ada yang menyangsikan kepiawaian lobinya. Tidak terlewat dari itu semua, kesantunannya, lembut dan tegasnya, kesederhanaanny begitu sangat dikenang oleh anak-anak biologis dan anak-anak ideologisnya. Tidak terkecuali, lawan-lawan debatnya pun mengakui hal itu. Karena dalam dirinya mewarisi dialek berfikir sang pembaharuan di negeri ini, yakni Guru beliau Tuan Ahmad Hassan, pemilik jargon: “Lawan debatmu adalah kawan berfikir.” Karena itu pula, Prof. Dr. Syafiq Mughni menjuluki gurunya sebagai “pemikir Islam radikal.”

Semua kita tahu, beliau bukanlah Rasul. Kita pun mengerti dirinya bukanlah Nabi dan kita pun sadar, beliau adalah manusia biasa yang wajar. Wajarlah sudah, sosok beliau disebut-sebut sebagai pelayan ummat (khâdimul ummah), wajarlah pula dirinya dikenal sebagai sang maestro dakwah (rajulud da’wah) dan wajarlah pula dipanggil “abah” oleh semua, karena dirinya telah menjadi cahaya keluarga. Bukan sekedar keluarga di rumah, melainkan rumah dakwah di jagat ini. Bagaimana tidak, aroma semerbak mewangi tercium harum sampai ke negeri jauh nun di sana.

Anak-anak ideologisnya sering bercerita; Bagaimana Raja Arab Saudi Malik Faishal sangat menghargai jasa khidmatnya untuk negara dan dunia, terlebih agama. Maka penganugerahan “faishal award” pun layak disematkan padanya. Begitu sangat perhatiannya khâdimul haramain as-syarifain terhadap sosoknya yang waktu itu dijebloskan penjara orde lama. Raja Faishal sendiri yang menanyakan pada mereka di kala musim haji: “Mengapa kalian jebloskan pemimpin kami, Tuan Natsir itu bapak kami, bapak dunia Islam.” (penulis mendapatkan cerita ini dari Ustadz Abdul Wahid Alwi dan Ustadz Syuhada Bahri)

Sekaliber Mufti negara Mamlakah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Bâz yang begitu menyokong semangat dakwahnya, Grand Syaikh Al-Azhar Abdul Halim Mahmud begitu sangat menghargainya, bagaimana seorang tokoh besar presiden fiqih dunia Syaikh Prof. Dr. Yusuf Qaradhawi, Fathi Yakan (ulama-ulama Ikhwânul Muslimîn) dan tokoh-tokoh dakwah lainnya yang begitu terkesan dengan model dakwahnya, bagaimana seorang Sayyid Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadawy (ulama Srinagar Lucnow India) dan Sayyid Abul A’la al-Maududy (Jamâat Islamy Pakistan) menyebut-nyebut dirinya. Dan tentunya tokoh-tokoh dunia lainnya yang selalu menanyakan: “Bagaimana kabarnya Tuan Natsir?” setiap anak-anak juangnya berkunjung ke negara-negara mereka (diceritakan kembali oleh Allâhu yarham Ustadz Muzayyin Abdul Wahhab).

Wawasan dan pergaulannya yang luas dan didukung dengan keilmuan yang mumpuni, membuat sosok ini disegani kawan dan lawan (baik dahulu atau sekarang), termasuk tokoh-tokoh Sekuler dan Atheis sekalipun. Dalam konteks sebagai tokoh Masyumi, seorang tokoh Katolik Prof. Dr. Romo Frans Magnis Suseno pernah menuturkan: “Tidak ada kekhawatiran apabila negara dipimpin oleh bapak-bapak Masyumi.” Dr. Sohirin Muhammad Sholihin (Dosen IIUM) pernah menyebutkan bahwa Pak Natsir sebagai tokoh yang mampu menselaraskan peradaban Timur yang Islam dan Barat (al-iltimâs bainas tsaqâfatain).

Sungguh berkah hidupnya, ketiadaannya masih dikenang juga, bahkan sampai saat ini berkali-kali tokoh-tokoh negeri jiran masih sering datang ke Jakarta dan bercerita tentangnya. Dalam suatu kesempatan diskusi, penulis memberanikan diri bertanya pada mereka, gerangan apa yang menyebabkan tuan-tuan rutin “menyengajakan diri” datang ke Jakarta dan menemui tokoh tersebut? Mereka menjawab dengan entengnya: “Dr. Mohammad Natsir bapak kami, Jakarta tempat bertanya kami. Dari tokoh inilah kami belajar keikhlasan dan pantang menyerah dalam perjuangan.”

Jantung ini berdetak ketika mendengar jawabannya, jarum hati ini bergerak, lalu bergumam: “Kubaca karya-karyamu, kudiskusikan jalan fikiranmu; dari fiqih persatuan hingga fiqih bernegara, dari kaderisasi da’wah ilallâh hingga pemberdayaan dan pemetaan benteng ummat (masjid, pesantren dan kampus), dari filsafat hingga kebudayaan, dari pendidikan integral hingga fiqih da’wah, dari perang pemikiran (ghazwul fikri hingga gerakan pemurtadan (harakatul irtidâd) dan gerakan-gerakan/ aliran menyimpang (harakah haddâmah). Bahkan sampai urusan “sekecil” apa pun (menurut umumnya orang menilai seperti halnya seorang bakul tempe yang ditanggapi serius oleh beliau sampai larut waktu, termasuk orang yang mau meminta sumbangan pun masih sempat diperlakukan layaknya tamu terhormat).”

Penulis termasuk orang yang harus bersyukur, karena pernah “diceritain” ayah tentang sosok laki-laki ini semasa masih di bangku Sekolah Dasar kelas V di kampung halaman, ayah sering tampak “heboh” kalau sudah bercerita dirinya. Sebagaimana layaknya anak sekolah, tibalah saatnya Pak Guru memberikan tugas Pe-eR agar anak-anak murid menggambar tokoh pahlawan kemerdekaan dan tokoh nasional perintis bangsa. Naluri penulis spontan mengingat nama besarnya dan mulai menggerakkan pensil gambar melukis setengah badan berpeci hitam yang ada di cover Majalah Al-Muslimun Bangil Jawa Timur.

Qaddarallâh … selepas tamat SD, tidak disangka berkesempatan mengikuti “Pesantren Kilat Ramadhan” di Jakarta dan diajak para asatidz katanya ada ifthar jama’i di kediaman Pak Natsir. Walau tidak mengerti apa yang akan dilakukan, sebagai “anak bawang” yang ikut-ikutan akhirnya sumringah juga karena turut terlibat dalam acara yang penuh berkah ini. Terbentang lama panjangnya waktu, tanpa terasa diri ini merasa sudah semakin dewasa untuk memahami wajah dan wijhah seorang tokoh. Terlebih ustadz pengampu di pesantren mewajibkan membaca buku-buku karya tokoh Masyumi di samping pelajaran yang baku di pesantren, terutama Capita Selecta dan Fiqih Da’wah Mohammad Natsir.

Laksana “pucuk dicinta ulam tiba”, setamatnya mondok di Pesantren Persatuan Islam Cibatu dan Tarogong Garut, di tengah-tengah pengabdian masyarakat dipertemukan “orang-orang hebbat” yang “sezaman dan bertemu langsung” dengan Pak Natsir dalam wadah kaderisasi dakwah Lembaga Pendidikan Da’wah Islam Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, di situ pula penulis dipersaudarakan dengan kader-kader daerah dengan pertalian guru-murid yang sangat akrab dan “membekas.”

Dengan penuh ta’zhim dan segan, mulailah kesenyawaan dalam aktivitas dakwah berpadu. Memperhatikan satu persatu “anak-anak ideologis abah” yang luar biasa; ada yang ahli tentang hukum dan politik, ada yang ahli mengurai sejarah/ sierah, riset dakwah dan jurnalistik, fiqih dan hadits, tafsir dan pemikiran, wawasan dunia Islam, dakwah pedalaman, aqidah dan kristologi, bahkan aliran-aliran (baik klasik atau pun kontemporer). Hari-hari yang begitu indah, menyenangkan dan penuh semangat. Sebelah depan hingga belakang tempat belajar, nampak terlihat pekerja-pekerja ikhlas yang fokus dengan garapannya; ada yang menggarap buletin, majalah anak Sahabat, majalah Media Dakwah, Suara Masjid, Serial Khutbah Jum’ah, Lembaga Kemanusiaan berupa Komite Penanggulangan Krisis, toko buku dan penerbitan Media Da’wah (MD), serta dokumen-dokumen penting di bagian Gudang yang banyak menyimpan tulisan kritis dan berani sejak zaman LIPPM dengan hasil-hasil risetnya. Setiap acara penting, kami (aktivis putera dan aktivis puteri) dilibatkan sebagai panitia. Sambil menyelam minum air, sering kami jadikan kesempatan menimba ilmu mereka di tengah-tengah kesibukan yang ada. Seringnya mengikuti acara demi acara, membuat semakin jelas sosok para tokoh yang ada di hadapan kita. Demikian pula dengan wajah Pak Natsir, yang selama ini menjadi penantian untuk dapat bertemu. Akhirnya beliau pun benar-benar terlihat dari jarak dekat, sekalipun jalannya mesti dipapah.

Tidak diduga sebelumnya, taqdir Allah ‘azza wa jalla pun menunjukkan kebesaranNya, dengan wasilah berangkat umrah bersama salah satu keluarga cucu cicitnya Pak Natsir, maka shilaturrahim pun berlanjut menjadi pengajian keluarga dari rumah ke rumah di daerah Bogor Kota dan Komplek Pesantren Pertanian Darul Falah Ciampea Bogor.

Kembali lagi pada awal tulisan, dengan telah hadirnya buku Biografi Mohammad Natsir; Kepribadian, Pemikiran dan Perjuangan karya Bapak Lukman Hakiem bersama Tim, semoga semua kita dapat mensyukurinya serta terinspirasi untuk lebih menanamkan semangat juang dalam membangun ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ
____

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddâmah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAI Persatuan Islam Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com