Minggu, September 19MAU INSTITUTE
Shadow

SALING MENGHARGAI TIDAK BERARTI HARUS SALING MEMBENARKAN (Sekedar Mengingatkan Saudara Seiman)

SALING MENGHARGAI TIDAK BERARTI HARUS SALING MEMBENARKAN (Sekedar Mengingatkan Saudara Seiman)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien


Lima hari lagi tanggal 25 Desember 2020 akan tiba, lalu disusul dengan gegap gempitanya perayaan Natal bagi ummat Kristiani yang meyakininya sebagai kelahiran Yesus Kristus. Bagaikan satu paket, biasanya berlanjut dengan pesta New Year. Bukan sekedar pemeluk keyakinan tersebut yang merayakannya, melainkan saudara-saudara kita seiman pun kerap kali larut dalam perayaan di dalamnya.

Sumringah, berbinar, berencana sesuatu, bahagia dan tampak lebih optimis. Itulah salah satu nuansa batin yang muncul pada momentum ini, bahkan sebahagian mereka ada yang turut ambil bagian dalam pesta pora tahunan ini dengan segala tradisi yang sudah mulai mengakar; mulai dari begadang hingga larut malam, bermain mercon sampai puas dengan segala jenisnya hingga lengkingan bunyi tiupan terompet yang saling bersahutan di tengah malam.

Dengan segala hiruk pikuk yang terjadi, didukung oleh pandangan akan keragaman tanpa batas sering kali melahirkan pandangan turunannya, yakni harus “saling menghargai” di mana sisi kemanusiaan (insâniyah) harus lebih didahulukan ketimbang faham keagamaan (dîniyyah). Bagaimana Islam memandang situasi seperti ini, di mana “saling menghargai” tersebut mulai berubah dan bergeser maknanya menjadi “saling membenarkan”. Lalu, seperti apa Islam memandang konsep pluralitas itu?

Al-Qur’an Bicara Pluralitas

Sebagai kalam suci, Al-Qur’an memberikan informasi kepada manusia, bahwa Allah ‘azza wa jalla menganugerahkan kepada setiap ummat di zamannya berupa “panduan hidup”. Apabila panduan tersebut datangnya langsung dari Allah, itulah syir’ah, dan apabila datangnya dari para Nabi, Itulah minhâj atau manhaj. Bagi Allah, tidak ada yang sulit apabila Ia menghendaki ummat ini harus bersatu padu sebagai ummat yang satu. Namun Allah berkehendak lain, di mana keragaman yang ada merupakan ujian dariNya. Al-Qur’an mengisyaratkan:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap ummat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu ummat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Mâidah/ 5: 48)

Di sisi lain, Allah ‘azza wa jalla menjadikan untuk manusia ragam bahasa, warna kulit, serta bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Semua ini menunjukkan bahwa keragaman (pluralitas) itu sebuah keniscayaan. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُم ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya, (Allah) menciptakan langit dan bumi serta berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rûm/ 30: 22)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurât/ 49: 13)

Iman itu Harus Pasti

Tanpa menghilangkan rasa untuk saling menghargai apa yang menjadi keyakinan orang lain, keimanan bukanlah “barang tawaran” yang bisa dikompromikan, melainkan keyakinan pasti yang harus dipertahankan dan tertanam dalam jiwa seseorang yang mengimani Allah dan rasulNya. Toleransi bukanlah berarti “mencampur adukkan” ajaran agama. Bagi mereka apa yang mereka yakini, untuk kita apa yang kita imani. Bukankah Al-Qur’an menegaskan dalam gugusan ayatNya:

قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ

“Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepadaNya kami mengikhlaskan hati.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 139)

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُم ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepadaNya-lah kembali (kita).” (QS. As-Syûra/ 42: 15)

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (Al-Kâfirun/ 109: 6)

Tauhid Mesti Diutamakan

Di antara ayat-ayat mulia dalam Al-Qur’an adalah terdapat dua surat yang sering dibaca, yaitu dua surat yang berkaitan langsung dengan tauhîd (disebut juga sebagai sûratail ikhlash) yang Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk membacanya; surat qul Huwa Allâhu ahad dan qul yâ ayyuhal kâfirûn.

Beberapa hadits Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam menuturkan dalam sabdanya:

1. Dari shahabat Jâbir bin ‘Abdillah radhiyallâhu ‘anh, ia mengatakan:

كَانَ يَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ)

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam biasa membaca di shalat dua raka’at thawaf yaitu surat qul Huwa Allâhu ahad (Al-Ikhlash) dan surat qul yâ ayyuhal kâfirun (Al- Kâfirûn).” (HR. Muslim, no. 1218)

2. Dari shahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anh, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَرَأَ فِى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)

“Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam biasa membaca di dua raka’at sunnah fajr (qabliyah shubuh) yaitu surat qul yâ ayyuhal kâfirûn (Al-Kâfirûn) dan surat qul Huwa Allâhu ahad (Al-Ikhlash).” (HR. Muslim no. 726)

3. Dari shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anh, ia mengatakan:

رَمَقْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعًا وَعِشْرِينَ مَرَّةً ، أَوْ خَمْسًا وَعِشْرِينَ مَرَّةً يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ وَبَعْدَ الْمَغْرِبِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) ، (وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ).

“Saya melihat Nabi shallallâhu ’alaihi wa sallam shalat sebanyak dua puluh empat atau dua puluh lima kali. Yang beliau baca pada dua rakaat sebelum shalat shubuh dan dua rakaat setelah maghrib adalah surat qul yâ ayyuhal kâfirûn (Al-Kâfirûn) dan surat qul Huwa Allâhu ahad (Al-Ikhlash).” (HR. Ahmad 2/ 95)

Sebagai insan yang beriman pada Allah dan rasulNya, sampai hatikah kita “merusak” ketauhidan yang sudah terpatri dalam hati terbajak dalam jiwa? Tegakah kita mengucapkan sesuatu yang bukan ajaran kita?? Lupakah kita bahwa Allah itu Esa (Ahad), Allah itu tempat bergantung semua makhluq (As-Shamad), Dia tidak berputra dan tidak diputrakan (Lam yalid wa lam yûlad) dan tidak ada seorang pun bagi Allah yang dapat menyamaiNya (Wa lam yakun lahû kufuwan Ahad). Karenanya, mari kita camkan dengan seksama disertai ketulusan hati untuk memurnikan Tauhid, bahwa “Saling menghargai yes, saling membenarkan no”.*
____

Penulis adalah: Ketua Prodi KPI-STAIPI Jakarta, Anggota DH PP Persatuan Islam (Komisi ‘Aqîdah), Anggota Fatwa MIUMI (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK-MUI Pusat dan Ketua Bidang Kajian & Ghazwul Fikri Dewan Da’wah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!