Senin, November 29MAU INSTITUTE
Shadow

Sebutir Pasir untuk Penulis Buku “Menafsir Natsir”

Sebutir Pasir untuk Penulis Buku “Menafsir Natsir”
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Bukan perkara mudah bagi seorang penulis, atau yang sedang belajar menulis, ketika ia memiliki keinginan kuat untuk membedah seorang tokoh. Terlebih tokoh tersebut, bukan teman sejawat, atau pun kaitan guru-murid yang turut serta senyawa dalam kehidupannya.

Meminjam bahasa para ulama, yang namanya mengenal itu, terbagi dua macam; mengenal sekilas tanpa kedalaman pengetahuan yang sebenarnya (ma’rifatul ‘ain wal jins), ada juga mengenal keadaan yang sebenarnya secara mendalam (ma’rifatul haal wal ahwaal). Tak terkecuali, ketika seorang penulis ingin membedah tokoh sekaliber Allaahu yarhamh Mohammad Natsir. Kalaulah bukan karena ikut membersamainya, atau memiliki kekuatan minat baca yang tinggi akan karya-karyanya, tentu saja akan terasa hampa adanya. Karena di situ, jiwa tidak turut hadir mengantarkan episode hidupnya.

Selain itu, kejujuran sangat dipertaruhkan. Maksudnya, ketika seseorang menulis tokoh, kemudian berupaya menghilangkan rekam jejaknya karena suatu misi tersembunyi yang bisa menciderai perjuangannya, maka sudah bisa dipastikan bahwa sejarah menjadi tercoreng karenanya. Perjalanan ketokohan orang-orang baik, hanya dapat diurai oleh orang-orang baik dan jujur terhadap ilmu. Yang tidak siap jujur, sebaiknya jangan mengurai sejarah. Karena sejarah bukanlah tempat berpesta dusta dan meraih citra. Jangankan penulis orientalis yang sering menabur racun, pembedah aktivis muslim sekalipun, ketika berbuat tidak jujur pada sejarah, maka tak bisa disembunyikan kalau sebenarnya ia tengah mempertontonkan kekurangannya (untuk tidak menyebut memperlihatkan kebodohannya).

Dengan rasa syukur yang mendalam, tepat awal bulan Agustus 2021 ini, al-faqir mendapatkan kiriman berharga berupa kumpulan tulisan tentang Mohammad Natsir dengan judul “Menafsir Natsir; Kontekstualisasi Pemikiran Mohammad Natsir dalam Wacana dan Gerakan Kontemporer” karya Wildan Hassan.

Yang menarik dari buku ini, justeru ditulis bukan oleh sejawat, hubungan guru-murid, atau orang yang pernah membersamainya, melainkan seorang milenial yang sejak duduk di “kobong pasantren” telah menunjukkan minat bacanya terhadap karya-karya Pak Natsir. Maka, tidaklah heran ketika dirinya menjadi aktivis mahasiswa dan pemuda, paling sering membuka diskusi-diskusi pemikiran sang tokoh tersebut. Lahirnya M. Natsir Institute, Halaqah Capita Selecta bersama rekan-rekannya, dan M. Natsir Corner di rumahnya yang digawanginya langsung, merupakan bukti kegigihan untuk meraih cita-cita yang diimpikannya. Menjadi pewaris “cucu ideologis” dan “Natsir Muda” yang sering diungkapkannya, bukanlah hal yang mustahil. Walaupun dalam bahasa guyon, menurut hemat al-faqir, tetap menjadi catatan. Karena dalam kelakar ideologis, mengandung cita ideologis pula. Kesempurnaan hanyalah milik Allah ‘azza wa jalla, berdosa rasanya apabila dalam kata penutup ini lupa atau tidak mengucapkan tahni’ah yang setinggi-tingginya atas jerih payah yang telah dilakukan dalam mengeja kata dan menggores kalimat hingga menjadi buku yang bermanfaat ini.
Marhaban bi washiyyati Rasuulillaahi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

✍️ Diambil dari Testimoni Buku: Anggota Komisi Penelitian, Pengkajian & Pengembangan (KP3) MUI Pusat, Ketua Bidang Kajian & Ghazwul Fikri Dewan Da’wah Pusat, Anggota Dewan Hisbah PP Persis, dan Kaprodi KPI STAIPI Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!