Minggu, April 21MAU INSTITUTE
Shadow

KETIKA TAAT TERASA BERAT

KETIKA TAAT TERASA BERAT
Oleh:

Teten Romly Qomaruddien

Di antara sekian perkara yang sering tak terasa dan tak terlihat, adalah ketaatan. Apa pun bentuk pelanggaran manusia, pada akhirnya tertuju pada satu titik fokus, yakni tidak lagi mau taat pada Dzat yang wajib ditaatinya Allah ‘azza wa jalla.

Ketaatan berhubungan erat dengan keimanan dan ketakwaan, di mana keduanya merupakan unsur terpenting dalam kepasrahan seorang hamba di hadapan Rabb-nya. Itulah yang disebut dengan taqwallaah, di mana para cerdik pandai mendefinisikan nya dengan imtitsaalul awaamiri wa ijtinaabun nawaahi; menjalankan apa yang telah menjadi perintah Allah dan menghindari larangannya.

Selain itu, bertambah dan berkurangnya iman atau menyala dan redupnya iman itu sangat ditentukan oleh perbuatan ketaatannya. Siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan, maka sungguh bertambah iman mereka. Dan siapa saja yang kurang sungguh-sungguh dalam ketaatan, maka pasti berkuranglah iman mereka. Benar apa yang disampaikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah yang menuturkan Al-iemaanu yaziidu bit thaa’ati wa yanqushu bil ma’shiyyati; “Iman bertambah karena ketaatan, sedangkan iman berkurang karena kemaksiatan”.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullaah menambahkan, bahwa penyebab kurangnya ketaatan adalah dikarenakan perbuatan dosa. Perbuatan dosa inilah yang menjadikan seorang hamba merasa berat melakukan ketaatan. Malasnya beramal shalih, menjadikan hati seseorang menjadi hitam kelam, yang akhirnya cahaya iman yang memberikan semangat berbuat ketaatan akan redup secara perlahan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani mewartakan: “Sebagian kaum salaf pernah ditanya, apa sebab kebaikan itu terasa berat dilakukan dan kejelekan itu terasa ringan dikerjakan? Ia menjawab: Karena kebaikan itu telah datang rasa pahitnya dan belum terlihat rasa manisnya. Karenanya terasa berat dilaksanakan, maka beratnya itu jangan membawa dirimu meninggalkannya. Sedangkan kejelekan itu, telah datang rasa manisnya dan belum datang rasa pahitnya. Karena itu perbuatan dosa ringan untuk dilakukan, maka janganlah ringannya itu membawamu untuk terjatuh ke dalamnya.” (Lihat: Fathul Baari, 13/ 614)

Menarik untuk dicermati, Imam Ibnul Jauzi rahimahullaah memberikan contoh konkretnya; “Karena inilah kalian melihat pecandu khamr dan seks tidak bisa menikmati (walau hanya) 1/10 dari nikmatnya orang yang belum kecanduan. Namun karena kebiasaannya sudah seperti itu, dia pun menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan untuk mendapatkan apa yang sudah menjadi kebiasaannya.” (Lihat: Dzammul Hawaa, hlm. 13)

Bagaimana ketaatan yang sesungguhnya, diperlihatkan oleh manusia-manusia mulia yang Allah ‘azza wa jalla ridhai ketika mereka harus berhenti seketika dari budaya maksiat yang telah menjadi kebiasaannya? Peristiwa ini bisa disimak pada kisah turunnya ayat: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah/ 5: 90).

Begitu ayat ini turun, maka gelas-gelas yang masih berisi khamr itu ditumpahkan dibuang tanpa sisa. Bukan sekedar itu, Sayyid Quthb melukiskan dalam Fie Zhilaalil Qur’aan bahwa para shahabat pun menuju tempat penyimpanan khamr mereka dalam gentong-gentong. Seketika dihancurkan dan tergenanglah jalanan Madinah hari itu dengan zat yang diharamkan tadi.

Sungguh, mereka adalah generasi yang sigap, baik dalam keadaan lapang atau sempit (QS. At-Taubah/ 9: 41), mereka adalah generasi “sami’naa wa atha’naa” ketika diserukan perintah Allah ‘azza wa jalla (QS. Al-Baqarah/ 2: 286), dan mereka dikenal sebagai generasi radhiyallaahu ‘anhum wa radhuu ‘anhu; “Allah meridhai mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah.” (QS. Al-Bayyinah/ 98: 8)

Apa yang disimpulkan Imam Athaillah As-Sakandari ada benarnya, bahwa “Jika engkau merasa berat untuk taat dan beribadah, serta tidak menemukan kenikmatan dalam hati. Sementara itu, engkau merasa ringan menjalankan maksiat, bahkan menemukan kenikmatan di dalamnya. Ketahuilah! bahwa engkau belum jujur dalam pertaubatanmu. Andai pangkalnya benar, pasti cabangnya juga benar”.

Semoga Rabbul ‘Aalamiin meringankan jiwa dan raga kita untuk berbuat taat kepadaNya. Taqabbal yaa Samii’ad du’aa


✍️ Goresan pena ini disampaikan Al-faqir sebagai materi jelang berbuka di acara “Syi’ar Ramadhan” Pro1 91.2 FM RRI Jakarta

Print Friendly, PDF & Email

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!