Senin, Juli 15MAU INSTITUTE
Shadow

AGAR MUDIK TETAP ASYIK DAN SIMPATIK

AGAR MUDIK TETAP ASYIK DAN SIMPATIK
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Suasana batin kaum Muslimin pada Ramadhan 1443 H tahun ini memang berbeda dengan suasana dua tahun sebelumnya, di mana tahun 2020 dan 2021 pemerintah memberlakukan larangan mudik demi memutus mata rantai penyebaran virus corona. Kini dengan dibolehkannya kembali, dalam sekejap jalanan kembali dipenuhi kendaran bermotor dan kendaraan roda empat.

Dari sisi sosiologis dan psikologis sangatlah wajar, apabila kaum Muslimin menumpahkan rasa gembiranya dengan mudik. Di satu sisi, kegembiraan setelah menunaikan ibadah shaum Ramadhan, dan di sisi lainnya hidupnya kembali suasana kehidupan yang lebih optimis penuh antusias. Terlebih telah dibukanya kembali kebolehan mudik, sekalipun masih ada persyaratan yang mesti diperhatikan.

Tradisi ini seolah sudah menjadi trend tahunan bagi masyarakat urban yang memang asalnya dari kampung halaman. Selain itu, ada pula yang sifatnya “pertukaran penduduk” dari desa ke kota, atau sebaliknya dari kota ke desa. Selama tidak ada penyimpangan dalam menjalankannya, maka perkara ini merupakan sesuatu yang mubah saja. Al-ashlu fiel asyyaai al-ibaahatu illaa maa dallad daliilu ‘alan nahyi; “Perkara dalam segala sesuatu asalnya boleh, kecuali ada dalil yang melarang”.

Agar mudiknya tetap asyik dan simpatik, maka perlu dimunculkan kiat-kiat yang siap membantu memuluskannya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Meluruskan niat
Agar mudik lebih terasa semangat ibadahnya, tentu memasang niat dan memeliharanya merupakan keputusan yang tepat di mana niat akan menunjukkan arah hati.

2. Pamitan dan minta do’a kepada tetangga dekat
Merupakan adab mulia, apabila seseorang meninggalkan rumahnya yang cukup lama, maka berpamitan dan minta do’a akan lebih menurunkan rahmat dan barakah Allah ‘azza wa jalla.

3. Memelihara adab-adab safar
Ketika perjalanan sudah dimulai, memperhatikan adab-adab safar adalah keniscayaan. Hidup disiplin selama di perjalanan [disiplin shalat lima waktu, tidak menggugurkan shaum selama kondisi wajar, tidak mengganggu pihak lain di perjalanan, selalu menghidupkan dzikir dan do’a keselamatan, serta amalan baik lainnya].

4. Menjadikannya ajang shilaturrahim
Kesempatan langka dan jarang terjadi ini, hendaknya menjadi perantara [wasielah] bagi tumbuhnya shilaturrahim sesama saudara, teman sekolah, para jamaah masjid-mushalla, dan handai tolan lainnya.

5. Menghidupkan majelis taushiyyah
Selagi suasana penuh kehangatan dan setiap jiwa tengah menerima dengan lapang akan kesalahan yang dilakukan, maka menghidupkan majelis saling menasihati akan lebih terasa maknanya. Seiring dengan ibadah mulia yang penuh berkah, disempurnakan dengan beningnya hati untuk lebih mampu saling memaafkan.

6. Meneguhkan pewarisan nilai
Memanfaatkan kebersamaan yang terjalin dalam suasana hari raya bersama sanak keluarga, akan semakin menemukan momentumnya untuk melakukan penataan diri dan meneguhkan pewarisan nilai dari para “sesepuh” kepada anak-anak muda, dari senior kepada yunior, dan dari para orang tua kepada anak cucu mereka.

7. Mewujudkan proyek amal jama’i
Dengan berkumpulnya handai tolan, banyak yang bisa dilakukan untuk mewujudkan proyek amal bersama; mulai dari ta’aawun keluarga, hingga proyek keummatan.

Sungguh menarik, apabila pulang kampungnya seorang Muslim penuh dengan hiasan kemuliaan; Bukan sekadar mudiknya semakin asyik, melainkan bisa menumbuhkan rasa simpatik. Semoga dimudahkan, diberkahkan, dan selamat sampai tujuan!!!


✍️ Jentik jemari ini ditulis bertepatan malam ke-29 Ramadhan 1443 H. pada perjalanan Bekasi-Kebayoran Lama dalam rangka “Penutupan I’tikaf Ramadhan” Masjid As-Syukur (Depan RS. Medika Permata Hijau) Jakarta Selatan.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!