Senin, Juli 15MAU INSTITUTE
Shadow

AL-QUR’AN AGUNG; MU’JIZAT ABADI SEPANJANG ZAMAN

Oleh : Teten Romly Qomaruddien

Seputar Istilah Mu’jizat

Dalam pengertian umum, mu’jizat merupakan isim faa’iI dari a’jaza yu’jizu i’jaazan artinya “sesuatu yang dapat membuktikan kelemahan.” Menurut Mannaa’ Al-Qaththaan dalam Mabaahits Fii ‘Uluumil Qur’aan disebutkan, yang disebut i’jaaz adalah tampaknya kebenaran Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam pengakuannya sebagai seorang pengemban risalah dengan membuktikan kelemahan bangsa Arab untuk menghadapi mu’jizat yang abadi, yaitu Al-Qur’aan al-Kariim. Dengan makna itu, maka muncullah definisi istilah yang popular sebagai berikut: “Sesuatu hal yang luar biasa [amrun khaariqun] dengan disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.” (Al-Qaththaan, 1420, hlm. 258-259).

Sisi perbedaan dengan mu’jizat yang diberikan kepada Nabi-nabi lain, adalah keabadian mu’jizat itu senantiasa kekal sepanjang zaman, sementara mu’jizat Nabi-nabi lainnya lenyap seiring hilangnya penerima mu’jizat. Hal ini dikarenakan risalah kenabian Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersifat menyeluruh, sedangkan Nabi-nabi lain bersifat khusus [Muhammad Bahr Isma’il dalam Diraasat Fii ‘Uluumil Qur’aan, 1411, hlm. 394).

Dalam bahasa As-Suyuuthi, mu’jizat yang sampai kepada Nabi-nabi lain bersifat empirik fisik [hissiyyah], sedangkan mu’jizat yang sampai kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersifat ‘aqliyyah atau memerlukan pendalaman akal [bashiirah]. (As-Suyuuthi, Al-Itqaan, 1418, hlm. 3-4).

Pandangan-pandangan tersebut, didukung hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak seorang Nabi pun yang diutus, melainkan dikaruniakan kepadanya bukti-bukti kenabian [yang berlaku terbatas sesuai kondisi kaumnya], sedangkan bukti kenabian yang disampaikan kepadaku adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepadaku [berlaku terus menerus tidak terbatas waktu dan tempat].” (HR. Al-Bukhari, no.4696 dan Muslim, no. 152).

Ada banyak keistimewaan dalam Al-Qur’an, di mana seseorang tidak akan mampu memahaminya, melainkan menggunakan nalar/ akalnya, mengkaji dan meneliti serta merenungkannya. Persinggungannya dengan akal, Al-Qur’an senantiasa sesuai dengan situasi dan kondisi mana pun, kekal sepanjang zaman, seiring dengan berjalannya dakwah Islamiyah. Demikian komentar Fathimah Isma’il Muhammad Isma’il dalam Al-Qur’aan wan Nazhar al-‘Aqli, hlm.192. Atau dalam bahasa Muhammad Al-Ghazali dalam Kaifa Nata’aamal ma’a al-Qur’aan bahwa mu’jizat Al-Qur’an bersifat mujarridah mustamirrah wa daimah [artinya: lintas zaman, sinambung, dan tetap]. (Muhammad Ghazali, 1413, hlm.140).

Dengan demikian, sangatlah wajar apabila Ibnu Taimiyyah mengatakan “Huwa kaafin fid da’wah wal bayaan wa huwa kaafin fil hujaj wal burhaan“ [artinya: kemu’jizatan Al-Qur’an cukup untuk dijadikan pijakan dalam dakwah, penjelasan, argumen, dan penerangan). (Lihat: Fathimah Isma’il, hlm. 192)

Mu’jizat Keilmuan Dalam Al-Qur’an

Dalam pandangan mayoritas ulama, mu’jizat keilmuan dalam Al-Qur’an minimalnya ada empat aspek yang sangat jelas, yaitu aspek kebahasaan [al-i’jaaz al-lughawy], aspek ilmiah [al-i’jaaz al ‘ilmy], aspek hukum [al-i’jaaz at-tasyrii’] dan aspek pemberitaan masalah ghaib [i’jaaz al-Qur’aan bi isti’maalihi al-ghaib].

Nampaknya, para ulama klasik lebih tertarik dalam memaparkan kemu’jizatan Al-Qur’an dalam aspek kebahasaan, hukum, dan pemberitaan ghaib. Model pendekatan tersebut tidaklah keliru, namun ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an [dalam konteks kekinian], alangkah baiknya apabila aspek ilmiah [i’jaaz al-‘ilmy] pun mendapat perhatian agar mu’jizat keilmuan benar-benar mendapatkan tempat yang sepadan sesuai dengan fithrah zaman, sehingga pesan-pesan Al-Qur’an yang sangat menjunjung tinggi peradaban dan keilmuan serta perhatian yang sangat dalam mengenai pemberdayaan alam yang menyebabkan Al-Qur’an sebagai segala sumber inspirasi ilmu tidak terbelenggu dengan kesan-kesan lokal dan sektoral, melainkan universal dan rahmatan li al- ‘aalamiin. Hal ini adalah sangat wajar, mengingat objek Al-Qur’an itu adalah manusia dan objek manusia adalah ilmu, penelitian, dan penemuan semuanya telah menjadi tugas kekhalifahan manusia untuk memakmurkan jagat raya ini. (Muhammad al-Ghazali, 1413, hlm. 137)

Ketika “sesuatu itu” sudah ditemukan, maka hasil penemuan itu bukanlah mu’jizat lagi, karena ilmu sudah berhasil mengungkap hal-hal yang melebihi isyarat-isyarat yang ada dalam Al-Qur’an. Oleh karenanya, menurut Muhammad al-Ghazali, yang dimaksud i’jaaz al-‘ilmy dalam Al-Qur’an adalah pengungkapan suatu rahasia yang ada pada waktu itu manusia tidak mampu mengetahuinya sama sekali, dan baru pada abad-abad kemudian diketahuilah bahwa yang diungkapkan Al-Qur’an itu benar. Itu membuktikan kebenaran isyarat Al-Qur’an. Misalnya peristiwa israa’, yakni berjalannya Nabi dari Masjid al-Haraam ke Masjid al-Aqsha, itu merupakan bentuk mu’jizat material yang terjadi pada waktu tertentu, tetapi israa’ tidak dianggap sebagai mu’jizat yang kekal, karena yang kekal hanyalah Al-Qur’an (Muhammad al Ghazali,1413, hlm.138)

Apabila ditelaah dari penafsiran definitif, nampaknya ada perbedaan linguistik [khilaaf al-lafzhi] dalam penafsirannya, di mana para ulama terdahulu lebih mendefinisikan “kekalnya mu’jizat”, sedangkan pemikir kontemporer [dalam hal ini Muhammad al-Ghazali] menafsirkan adanya “keterbatasan mu’jizat” yang tidak kekal tanpa menafikan kekalnya mu’jizat Al-Qur’an. Oleh karenanya, kerapkali pemikiran Al Ghazali ini atau pun yang sefaham dengannya mendapat kritikan yang cukup serius dari para ulama yang berhaluan salaf.

Pembuktian Aspek Ilmiah Kemu’jizatan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kitab ‘aqidah dan hidayah, satu kitab yang selalu mendorong agar manusia menggunakan “nalar ilmiah”. Tidaklah Al-Qur’an melahirkan teori baru secara langsung yang selalu berubah, melainkan mendorong untuk berfikir dan memperhatikan alam. Al-Qur’an tidak mengebiri kreativitas akal dalam memikirkan alam semesta atau menghalanginya dari penambahan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat dicapai. Itulah keajaiban Al-Qur’an yang tidak terjadi pada kitab-kitab sebelumnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman :

Katakanlah olehmu [Muhammad], perhatikanlah apa-apa yang ada di langit dan di bumi …” (QS. Yuunus/10: 101)

Demikian pula ayat berikut ini : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran/3: 190)

Ayat tersebut turun sebagai jawaban Allah atas pertanyaan orang-orang Quraisy kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, di mana sebelumnya mereka bertanya kepada orang Yahudi tentang mu’jizat Nabi Musa ‘alaihi as-salaam dan bertanya kepada orang Nashrani tentang mu’jizat Nabi ‘Isa ‘alaihi as-salaam, lalu mereka bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kiranya Nabi memohon kepada Allah untuk menjadikan bukit Shafa menjadi gunung emas. Lalu Nabi pun berdo’a dan Allah ‘azza wa jalla menurunkan ayat ini. (Khalid Abdurrahman Al- ‘Akk, Shafwat al-Bayaan Li Ma’aani al-Qur’aan, hlm. 75).

Sedemikian jauh dan luasnya Al-Qur’an menatap peradaban ke depan dan melakukan berbagai motivasi kepada manusia untuk selalu memperhatikan berbagai gejala alam [aayaat al-kaun] yang terbentang dalam ayat-ayat qur’aaniyyah-Nya. Dari berbagai renungan para ulama dan observasi para ilmuwan di lapangan, melahirkan “penemuan-penemuan” di mana Al-Qur’an sudah lebih dahulu menggambarkannya sebelum penemuan yang dilakukan manusia; mulai masalah bulan sabit atau hilaal [QS. Al Baqarah/2:189] sampai ihwal kejadian alam semesta [QS. Al-Anbiyaa/21:30], dari ihwal awan dan hujan [QS. An-Nuur/24:43] sampai perkara petir [QS. Ar-Ra’d/13:13], dari masalah reproduksi sampai geneologi [QS. Al-Qiyaamah/75:36-39, An-Najm/53:45-46, Al-Waaqi’ah/56:58-59, Al-Baqarah/2:223, Al-Insaan/76:22 dan Al Mu’minuun/23:12-14], dari ihwal gunung [QS. An-Naml/27:88, An-Naba’/78:7] sampai ihwal pemisah dua laut [QS. Al-Furqaan/25:53].

Di antara kitab-kitab yang banyak mengupas masalah mu’jizat keilmuan dalam Al-Qur’an adalah: Qishat al-Khalq Rihlah Imaaniyyah Mashiiriyah Fii A’maaq al-Qur’aan al-Karîm oleh Samihah Ibrahim Mas’ud, Al-Qur’aan wa ‘Uluum al-Ardh oleh Muhammad Samih ‘Afiyat, Al-I’jaaz at-Thibby oleh Dr. Sayyid al-Jumali, Isyarat Qur’aaniyyah Li ‘Uluum al-Ardh [Makalah Ilmiah] oleh Dr. Zaghul Raghib an-Najar, Konsep Qur’an Tentang Sejarah [terj.] oleh Mazherudin Siddiqi, Ensiklopedia Ilmiah dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah [terj.] oleh Dr. Abdul Basith al-Jamal dan Dr. Daliya Siddiq Al-Jamal, Jelajah Alam bersama Al-Qur’an [terj.] oleh Dr. Maurice Bucaile dan Dr. Zakir Naik, juga The Gloroious Koran and Modern Science The Greatest Surprice oleh MD. Anisur Rahman [Ilmuwan Fisika Rajshahi University Bangladesh].

Kesimpulan

Dari ulasan sederhana ini, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an al-Karim sebagai kalam Allah ‘azza wa jalla mengandung di dalamnya i’jaaz yang sangat tinggi mengingat kandungannya sangat lengkap dan sifatnya abadi sepanjang hayat sebagai “kitab petunjuk” [kitaab al-hidaayah] yang mampu menyadarkan semua umat manusia yang mendapatkan petunjuk-Nya dari kitab tersebut dan mampu melemahkan musuh-musuh yang menolaknya.

Dialah [Allah] yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk [Al-Qur’an] dan agama yang haq supaya mengalahkan semua agama, walaupun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. At Taubah/9: 33). Wallaahu yahdiinaa ilaa shiraath al-mustaqiim

_____________✍️ Tulisan ini merupakan goresan kenangan Al-Faqir dalam Diskusi Ilmiah bersama Dr. K.H. Ahzami Sami’un Jazuli, M.A. (Dosen Ilmu Tafsir) di Program Studi Pemikiran Islam Pasca Sarjana Universitas Islam Jakarta Tahun 2008.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!