Minggu, April 21MAU INSTITUTE
Shadow

ILMU DAN MAHABBATULLAAH

Oleh : Mahasantri MAU Institute

Narasi ini digoreskan untuk siapapun yang bergelar ahsanul khaaliqiin, untuk mereka yang pada pundaknya penuh dengan amanah dakwah, untuk mereka yang menggenggam tugas sebagai penyampai risalah, untuk mereka yang siklus detik demi detiknya bersahabat dengan ilmu sebagai “washilah khidmat”, yang setia menjadi pemburu ilmu dalam setiap putaran waktu, bahkan kalimat ini juga ditujukan termasuk untuk siapapun yang belum terbangun dari tidur panjang bahwa ilmu adalah pijar yang sinar dan nyalanya tidak akan pernah pudar.

Pada paragraf singkat yang tersaji ini, kita tidak akan berbicara tentang ilmu secara definitif, karena tentu jutaan pena sudah jauh lebih dahulu menuliskan perihal itu, begitu pun jutaan maktabah-maktabah ilmiah sudah sesak dengan karya-karya agung yang membicarakan ilmu. Maka hari ini kita akan mulai dengan dialog hati, melalui bahasan ilmu masing-masing kita akan saling mengoreksi sendiri-sendiri, saling mengukur dan meluruskan kembali rumusan diri.

Benarkah ilmu yang telah menetap dalam memori sudah mampu membawa kita menuju kedalaman kecintaan pada Ilahi?
Pemahaman ilmu yang dikemas secara istimewa maka akan menghasilkan cinta yang tidak biasa, tentu inilah sebentuk cinta yang tidak akan pernah binasa, cinta yang menyelamatkan pemeluknya dari segala bentuk sengsara, itulah cinta pada Allah ‘azza wa jalla yang kita sebut dengan mahabbatullaah.

Cinta jenis inilah yang mampu meluluhlantakkan hati seorang shahabat dan faaqih besar Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anh. Dikisahkan, bahwa Anas selalu menangis ketika mengingat sebuah peristiwa futuhaat, yakni pembebasan demi pembebasan negeri Muslim. Sudut matanya menganak sungai bukan karena ia kehilangan teman berjuang yang gugur di medan laga, bukan pula karena mengingat sengitnya pertarungan dan beratnya ma’rakah dalam durasi ratusan hari, melainkan tersebab ia terlambat dalam menunaikan shalat subuh dan kehilangan shalat sunnah qabliyyah. Padahal dalam kacamata fiqih, ulama membolehkan menunda shalat dalam situasi peperangan. Namun, keluhuran ilmu telah mampu melahirkan mahabbatullaah, hingga sebuah penyesalan panjang menyesakkan dadanya ketika melewatkan keberhargaan amal.

Begitu pun halnya, teladan menakjubkan datang dari ulama yang selalu harum namanya, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah. Di masa dentuman fitnah, ilmunya yang luhur membuatnya kukuh menolak kecacatan ideologi saat taring kerancuan paham khalqul Qur’an tengah mencengkram kaum Muslimin di belantara para penguasa Mu’tazilah. Dan kedalaman ilmunya telah membuat ruh sang Imaamus Sunnah ini lebih tertaut pada mahabbatullaah yang telah mengakar kuat pada dirinya dalam mengarungi babak-babak mihnah i’tiqaadiyyah yang tidak mudah, sehingga tameng kesabaran tetap tulus memeluk jiwanya bahkan saat jasadnya tertawan di balik jeruji besi kediktatoran zaman.

Demikianlah, kisah yang terpahat dengan indah, sejalan dengan yang seharusnya, bagaimana ilmu mengantarkan pada mahabbtullaah yang tertaut kuat dalam diri. Menyimak banyak tuturan berlandas wahyu, berlayar dan menyelam jauh dalam tulisan para ahli ilmu.

Lalu, siapakah yang akan memungkiri keutamaan berkutat dengan kemuliaan ilmu? Bahkan barisan para malaikat sekalipun, makhluk Allah yang tidak pernah berkhianat itu menurunkan sayap-sayap mereka dari ketinggian langit menuju rendahnya bumi hanya untuk mendo’akan keberkahan bagi hamba Allah yang berkumpul dalam “pagelaran” majelis ilmu. Tapi, menjadi terlalu dini jika kita berpuas diri dengan ilmu yang kita miliki, jika pengetahuan yang bersarang dalam ingatan ternyata tidak mampu menghadirkan kecintaan yang terimplementasikan dalam ketaatan.

Tentu, teladan sudah termaktubkan, sirkulasi ilmu terus hidup dalam pahatan tinta-tinta yang selalu basah. Namun, akan menjadi musibah jika antara kita dan ilmu tersekat oleh orientasi yang salah. Maka, semoga kita menjadi hamba yang selalu mengerti bahwa di atas mahabbatullaah, melalui jalan ilmu dan amal kitalah akan bertaruh sepenuh hati di sisa usia yang digariskan Dzat yang Maha menghidupkan dan mematikan.

Kita tidak diciptakan untuk menghidupkan imajinasi, tidak diberi kesempatan waktu hanya untuk melunasi mimpi-mimpi penuh ilusi atas nama nafsu semu dan ambisi duniawi. Maka ada kalanya kita harus berhenti mengejar “kesementaraan” yang hanya akan melahirkan kelelahan. Kita ada di atas bumiNya untuk sebuah misi suci, mengemban tugas risalahNya, menyelaraskan arah pandang dengan pedoman kitab yang dibawa sang Nabi, dan menyerahkan seluruh hidup kita untukNya semata, yakni satu-satunya Dzat yang layak diibadahi. Wallaahu yahdiinaa ilaa shiraathil mustaqiim


✍️ Tulisan ini digoreskan di atas Busway Bekasi, Cawang – RS Harapan Bunda Pasar Rebo Jakarta Timur (Rabu Dhuha, 15 February 2023)

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!