Kamis, Agustus 27MAU INSTITUTE
Shadow

MUSYAAHADAH; MUARA CINTA PARA ULAMA

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

“Cinta itu saling menguatkan, bukan melemahkan”. Demikian pesan ulama pujangga kebanggaan negeri zamrud khatulistiwa. Tadabbur ulang terhadap karya sastra legendaris seperti “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” atau “Di Bawah Lindungan Ka’bah” karya Buya Hamka, mengingatkan akan butiran nasihat emas ulama terdahulu. Salah satunya ulama abad pertengahan dari Andalusia Imam Ibnu Hazm al-Andalusiy [seorang faqih dan teolog Muslim ternama pada masa keemasan Islam Eropa yang wafat 456 H.].

Dengan latar belakang kaum bangsawan dan keluarga terdidik, karya demi karyanya lahir dari pengembaraan berpikir dan renungannya. Tidak terkecuali goresan sastrawi yang menakjubkan “Thuuqul Hamaamah” [bermakna: “Untaian Kalung Merpati”], yang di dalamnya sarat gejolak jiwa sekaligus obat penawar gundah yang bisa menjadi terapi hati yang mengagumkan.

Untuk menunjukkan bahwa perasaan cinta asalnya benar-benar anugerah dari yang Maha kasih sayang, maka Al-Imam Ibnu Hazm mengungkapkan suasana batinnya dengan penuh penghayatan mendalam sebagaimana berikut:

Mereka yang tak mengenal cinta mencelamu.
Sungguh, cintamu padanya adalah kewajaran.
Mereka bilang, cinta telah membuatmu hina, padahal kau adalah orang yang paling hafal agama.
Kukatakan pada mereka, mengapa mencelanya karena ia mencintai dan dicintai sang kekasih?
Jangan menganggap dirimu suci dan lepas dari perasaan itu, dengan menyebut cinta sebagai dosa.
Bahkan Tuhan-pun tidak akan mencela sang pecinta, Dia tidak pernah menghina umatnya yang tengah mengalami masa jatuh cinta. (Lihat: Untaian Kalung Merpati, hlm. 74)

Namun demikian, tidak berarti dirinya mengajarkan tentang makna sebuah kebebasan, melainkan sikap bijak yang sudah seharusnya dimiliki oleh setiap mereka yang tengah dilanda perasaan cinta. Ibnu Hazm melanjutkan senandung qalbunya::

Dari setiap panggilan cinta aku akan beranjak, karena yakin hati-hati adalah sifat yang bijak.
Cinta bagiku, awalnya adalah pandangan mata pada bunga-bunga yang merekah di wajah seorang wanita.
Jika terlalu bernafsu memetik bunga-bunga itu, maka segera kau akan terjebak pada perangkap.
Seperti tertipu melihat kolam yang dangkal, seketika ia tergelincir dan tenggelam dalam cemoohan. (Lihat: Untaian Kalung Merpati, hlm. 133)

Sungguh fatamorgana yang bisa menghiasi siapa saja dari jiwa manusia, satu pun tidak akan ada yang mampu membendungnya. Keinginan dan hasrat yang tidak bisa dicegah bisa jadi membuat seseorang akan kehilangan arah, maka saat ujian besar seperti inilah semua insan yang berjiwa lemah wajib kembali pada kekuatan dirinya dengan tidak melupakan Dzat yang Maha memiliki segalanya.

Al-Imam Ibnu Hazm menggambarkan, betapa kuatnya dorongan orang yang tengah dilanda badai rasa itu. Jangankan perjumpaan yang diinginkan, terhalang hijab penghalang sekalipun bukanlah alasan, lalu senandungnya dilanjutkan:

Kuredakan gejolak rindu dengan berjumpa, api cinta ini telah kuasai seluruh relung jiwa.
Meski kau tak tampak di mata, cintaku tetap nyata.
Meski jarak memisahkan, hati kita selalu bersama.
Planet mengitari orbit melingkar seperti cincin, kau dan seluruh cintamu adalah batu cincinnya. (Lihat: Untaian, hlm. 201)

Dengan beragam perbincangan syair yang mendebarkan, tibalah saatnya pada mata air nasihat yang menyejukkan. Percikan dan tetesannya menjadi penawar kegundahan, beningnya menjadi pelepas kelelahan. Sudah tentu rasa tawarnya menggerakkan kembali kesegaran dan kebugaran imani yang kembali tumbuh. Berikutnya Ibnu Hazm mengingatkan:

Jika kau mati karena cinta, jadilah mati syahid!
Jika kau tetap hidup, maka hiduplah dengan kemuliaan!
Begitulah kata-kata orang yang paling terpercaya.
Terkenal kejujurannya, jauh dari cela dan cacat. (Lihat: Untaian, hlm. 258)

Selain Al-Imam Ibnu Hazm, ada pula Al-Imam Abu Hamid al-Ghazali [sama-sama seorang teolog Muslim dan ahli kejiwaan terkemuka di zamannya] yang menuturkan bahwa cinta adalah ungkapan dari ketertarikan tabiat terhadap sesuatu yang dianggap menyenangkan. Dalam pandangannya, bagi orang-orang baik secara naluri cinta itu bersifat pasti dan karakter jiwa yang mengalir tanpa bisa dihindari. Karena itu Al-Ghazali memaparkan:

اِنَّ حُبَّ القَلْبِ لِلمُحْسِنِ اِضْطِرَارًا لاَ يُسْتَطَاعُ دَفْعُهُ وَهُوَ جُبْلَةٌ وَفِطْرَةٌ لَا سَبيْلَ إِلَى تَغْيِيرِهَا

“Sungguh kecintaan hati orang yang berbuat baik merupakan sesuatu yang bersifat pasti, tidak bisa ditolak. Itu merupakan watak dan naluri yang tidak ada jalan untuk mengubahnya.” (Lihat: Ihyaa Uluumiddiin, juz IV, hlm. 298).

Setelah itu, Imam Al-Ghazali membagi cinta menjadi lima kategori. Pertama, cinta kepada diri, kesempurnaan dan keberadaannya. Kedua, cinta kepada setiap orang yang berbuat baik kepadanya. Ketiga, cinta kepada orang-orang yang selalu berbuat baik kepada orang lain, meski kebaikan itu tidak diperbuat untuknya. Keempat, cinta pada setiap sesuatu secara materi, seperti kecantikan, ketampanan, etika baik, ucapan lemah lembut dan lainnya. Kelima, kecintaan yang disebabkan satu frekuensi yang terjalin dalam diri masing-masing orang yang saling mencintai.

Lain Al-Ghazali, lain pula ulama lainnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah [seorang faqih besar dan teolog Muslim yang sangat kritis dari negeri Syam, wafat 728 H.]. Menurutnya, hati diciptakan untuk mencintai kebenaran [sumber kebenaran adalah Allah], menginginkan [perjumpaan dengan-Nya] dan berusaha mendapatkan keridhaan-Nya. Setelah itu Syaikhul Islam menguraikan:

فحقيقة المحبة لا يتم إلا بموالاة المحبوب، و هو موافقته في حبه ما يحب و يبغض ما يبغض. و الله يحب الإيمان و التقوى و يبغض الفسوق و العصيان

“Hakikat cinta tidaklah sempurna kecuali dengan loyal kepada yang dicintainya, yaitu menyesuaikan diri, dengan mencintai setiap perkara yang dicintai olehnya dan membenci setiap perkara yang dibenci olehnya.” (Ibnu Taimiyah, Al-‘Ubuudiyyah, hlm. 28).

Masih banyak ulama lain, yang telah memberikan mutiara nasihat bermutu tinggi dalam goresan penanya; Al-Imam Ibnul Jauwzi [wafat 597 H.] dalam kitab “Dzammul Hawaa” [bermakna: Tercelanya Hawa Nafsu], Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauwziyyah [wafat 751 H.] dalam kitab “Raudhatul Muhibbiin” [bermakna: Taman Orang-orang Bercinta] dan lainnya.

Tidaklah mereka tulis karya-karya mulia itu, melainkan rasa tanggung jawab agar semua insan mampu menempatkan anugerah cinta pada tempatnya. Bermula dari anugerah cinta [mahabbah], berproses menjadi kedekatan [muraaqabah] dan akhirnya bisa bermuara dalam kesaksian [musyaahadah] ketika berjumpa dengan Rabbul ‘Aalamiin. Allaahumma nas’aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa kulla ‘amalin maa yuqarribunaa ilaa hubbika.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!