Kamis, Juni 17MAU INSTITUTE
Shadow

IKHTIYAR MENJADI GOLONGAN YANG SELAMAT

IKHTIAR MENJADI GOLONGAN YANG SELAMAT
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Kata “golongan” dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, terkadang menggunakan qaum untuk menyebut kumpulan manusia secara umum. Terkadang juga hizbun untuk menyebut kumpulan ideologis, atau jamie’an untuk menyebut sebuah kumpulan yang diharapkan komitmennya. Demikian pula thaaifah, untuk menyebut sebahagian dari kumpulan yang lebih banyak, dan juga firqah atau firaq untuk menyebut bagian ummat yang mesti diwaspadai.

Dalam istilah Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat ridhwaanullah ‘alaihim, taabi’in dan generasi berikutnya menyebutnya dengan:

  1. Al-Jamaa’ah; “siapa saja yang mengikuti Nabi dan para shahabatnya yang mulia” (jawaban beliau atas pertanyaan shahabat). Dikatakan pula, “Siapa saja yang berkumpul di atas al-haq walaupun sendirian” (Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anh) atau “Kumpulan ahlul haq walaupun jumlahnya sedikit” (‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anh). Kebalikannya adalah Al-Firqah; “Kumpulan ahlul bathil walaupun jumlahnya banyak” (‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anh).
  2. Al-Firqatun Naajiyah; “Golongan yang selamat di antara golongan lain yang binasa” (isyarat hadits tentang terpecahnya ummat 72 golongan).
  3. Thaaifah Manshuurah; “Kumpulan ummat Nabi yang ditolong Alloh ‘azza wa jalla karena thaatnya” (isyarat hadits tentang dunia tidak akan pernah sepi dari ahlul haq).
  4. As-Sawaadul A’zham; “Mayoritas ummat terbanyak dalam tha’at pada Alloh ‘azza wa jalla dan rasul-Nya”..
  5. Al-Ghuraba; “Kumpulan ummat yang menampilkan ajaran agama di tengah maraknya kemungkaran”_ (jawaban Nabi terhadap pertanyaan shahabat).

Semua itu menunjukkan, merekalah yang sejatinya disebut “golongan yang selamat”. Wajarlah apabila Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anh menisbatkan mereka sebagai golongan yang disebut “yauma tabyadhdhu wujuuh; manusia yang berseri-seri di hari kiamat ketika menghadap Penciptanya” (Qs. Ali ‘Imran/3:106). Abu Syihab az-Zuhri menyebutnya dengan “safienatu nuuh; penumpang kapal nabi Nuh”. Beliau bertutur: “Orang-orang yang berpegang pada kitab Alloh dan rasul-Nya laksana menumpang kapal nabi Nuh; Siapa cepat naik, mereka akan selamat. Siapa menjauh, mereka akan tenggelam”.

Berarti, walaupun mengaku-ngaku atau mengklaim diri, bahkan mensimbolkannya sebagai “ummat perahu Nuh”, namun bertentangan dengan kitab Alloh dan rasul-Nya, maka mereka bukanlah yang termasuk golongan yang selamat itu, termasuk kita. _*Wallaahu A’lam*_
_________________

_*Penulis adalah:*_ Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat) dan Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!