FIQIH PENDIDIKAN (Perspektif Do’a Ma’tsur)

FIQIH PENDIDIKAN (Perspektif Do’a Ma’tsur)
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Tidak ada yang kebetulan, melainkan sudah menjadi kehendak Alloh Jalla wa ‘alaa. Sebagai pemilik kalamNya yang tergores dalam bentangan ayat-ayat suci, sungguh menakjubkan ketika gugusan firman-firman itu begitu saling berhubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat lainnya. Tak terkecuali antara maksud suatu ayat dan pemahamannya dengan mentadabburi kalimat demi kalimat yang digunakannya.

Dalam hal ini, do’a dan fiqih pendidikan yang begitu erat, jelas tertuang dalam ayat do’a berikut ini: “Wakhfidh lahumaa janaahad dzulli minar rahmah wa qul Rabbir hamhumaa kamaa rabbayaanie shaghieran; Dan rendahkanlah dirimu dengan kasih sayang di hadapan mereka berdua (orang tua), dan katakanlah yaa Tuhanku sayangilah mereka berdua sebagaimana keduanya menyayangiku saat aku masih kecil” (QS. Al-Israa/17: 24).

Bila dicermati, ayat ini banyak mengandung pelajaran yang sangat berharga dalam melahirkan fiqih pendidikan yang berbasiskan “pola asah, asih dan asuh” secara sekaligus. Di dalamnya mengandung ajaran yang sangat luhur dalam melahirkan manusia-manusia beradab. Adapun kandungan yang dimaksud adalah:

1) Ayat ini mengajarkan bagaimana seseorang dapat memuliakan orang tua dengan merendahkan diri di hadapan keduanya, sekaligus selalu mendo’akannya.
2) Kata Rabbi, merupakan kata permohonan dan sekaligus menjadi tujuan mengapa orang harus dididik.
3) Untaian do’a ini menunjukkan bahwa “kasih sayang” merupakan unsur ruhani pendidikan dan pengajaran yang paling pokok.
4) Kalimat rabbayaanie, menunjukkan kejelasan definitif dan proses dari pendidikan itu sendiri.
5) Kata shaghieran merupakan kata yang menunjukkan bahwa pendidikan harus dimulai sejak dini.

Untuk jelasnya, dapat diuraikan dalam paparan masing-masingnya sebagai berikut:

Pertama, mengisyaratkan, betapa orang tua (waalidain) adalah guru terbaik dalam mengajarkan pokok-pokok adab. Sangatlah tepat bila dikatakan mereka itu guru pertama dan utama (madrasatul uulaa wal aulaa).

Kedua, menegaskan kejelasan tujuan pendidikan, bahwa mengenalkan nilai-nilai tauhid merupakan target asasi mengenalkan para pembelajar kepada Rabbul ‘Aalamien yang menciptakan mereka. Sungguh tepat para ahli menyebutkan, fahaqieqatul ‘ilmi maa tuushalul ma’luum ilal ‘aliim, bahwa yang disebut hakikat ilmu itu menyampaikan apa yang diketahui (objek pengetahuan) kepada yang Maha tahu (subjek pengetahuan, yakni Al-‘Aliim yang menciptakan pengetahuan itu sendiri).

Ketiga, mengajarkan bahwa ajaran kasih sayang (rahmah) merupakan unsur ruhani paling penting yang dapat melahirkan suasana belajar-mengajar lebih nyaman, khidmat dan semua yang terkait (orang tua murid, murid, penyelenggara pendidikan dan praktisi pendidikan) senyawa dalam keikhlasan mengawal pendidikan. Inilah yang selalu ditanamkan para tokoh pendidikan klasik khususnya (semisal Abu Hamid al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad atau Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Tuhfatul Waduud bi Ahkaamil Mauluud). Menurut mereka, terjadinya koneksitas keberkahan dalam belajar akan terwujud apabila kasih sayang hadir dalam suasana tersebut.

Keempat, menguraikan proses pendidikan sesuai dengan makna tarbiyah yang meliputi: tumbuh, berkembang dan membimbing. Artinya, dengan pendidikan inilah, manusia bisa tumbuh dan berkembang melalui bimbingan pembelajaran.

Kelima, menekankan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa keemasan (golden age) dalam pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran, di samping masa fithrah yang masih sangat original.

Dengan bimbingan do’a dan ikhtiar maksimal, semoga generasi Rabbaani senantiasa lahir di tengah-tengah kita. Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin …
_______

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqidah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAIPI-UBA Jakarta

Print Friendly, PDF & Email

2 Komentar

  1. Dari kelima hal tersebut, adakah yang paling urgent ustadz, dalam bahasa lain. Dari kelima kesimpulan itu, manakah yang lebih didahulukan, sehingga terjadi konektisitas antara orang tua dan anak, Syukron ustadz

    • (Syukron atas pertanyaan nya),
      Ayat do’a tersebut, merupakan khabariyan, yakni bersifat informatif. Semuanya urgent, namun apabila ditanyakan mana paling urgent? Sebenarnya bukan untuk memilih satu di antara yang lima, melainkan kata kunci dari yang lima adalah mengajar dengan kasih sayang (baik guru-murid, orang tua-murid, orang tua-guru)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*