Senin, Agustus 3MAU INSTITUTE
Shadow

BENIH-BENIH CINTA ITU BERSEMI DI MUSIM PANDEMI (Menakar Mashlahat di Tengah Mafsadat)

BENIH-BENIH CINTA ITU BERSEMI DI MUSIM PANDEMI (Menakar Mashlahat di Tengah Mafsadat)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien


Tidak ada yang sia-sia bagi Allah ‘azza wa jalla dalam menjalankan kehendakNya. Dia satu-satunya Dzat yang Maha berkuasa atas segala yang diinginkanNya. Tidak ada yang dapat menyamainya, sekalipun makhluq paling kuat di jagat raya menurut penglihatan manusia.

Dialah fa’âlun limâ yurîd/ فعال لما يريد “Maha berkehendak atas segala sesuatu yang dimaukanNya”. Demikian Allah sendiri yang menuturkan dalam QS. Al-Burûj/ 85: 16. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (ahli Tafsir abad 14) memaparkan pandangannya: “Allah ‘azza wa jalla Maha berkehendak atas apa yang diinginkan, dan tidak ada yang mampu melemahkan dan menggagalkan rencanaNya”.

Hal ini sangat sesuai dengan firmanNya yang lain:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya keadaanNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!”, maka terjadi.” (QS. Yâsîn/ 36: 82).

Apapun yang Allah ingin lakukan, Dia mampu dan kuasa atas hal itu. Berbeda dengan makhluq, mereka banyak membayangkan keinginannya, akan tetapi tidak semua keinginan itu mampu mereka wujudkan. Dan Allah jika menginginkan sesuatu, Dia mampu melakukan semuanya. Itulah perbedaan antara hamba dengan Tuhannya, karena sesungguhnya manusia itu pada hakikatnya lemah dan tidak memiliki kekuatan kecuali Allah yang memberikan kekuatan baginya.

Kembali kepada qadhaya kita saat ini, yakni wabah yang sudah dinyatakan sebagai pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia WHO semenjak 11 Maret 2020 seperti dijelaskan berikut ini:

“Pandemi adalah sebuah epidemi yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua, dan umumnya menjangkiti banyak orang. Sementara, epidemi merupakan istilah yang digunakan untuk peningkatan jumlah kasus penyakit secara tiba-tiba pada suatu populasi di area tertentu. Istilah pandemi tidak digunakan untuk menunjukkan tingkat keparahan suatu penyakit, melainkan hanya tingkat penyebarannya saja. Dalam kasus saat ini, COVID-19 menjadi pandemi pertama yang disebabkan oleh virus corona. Sebelum adanya pandemi tersebut, telah terjadi berbagai pandemi influenza di dunia. Di mana salah satunya adalah flu babi yang merebak pada tahun 2009. Penyakit ini terjadi ketika strain influenza baru (H1N1) menyebar ke seluruh dunia. Sementara itu, kasus pandemi influenza terparah di dunia terjadi saat pandemi flu Spanyol pada tahun 1918, yang menyebabkan 50 juta kematian di seluruh dunia.” (Lihat: Dina Rahmawati [ditinjau oleh dr. Karlina Lestari], COVID-19 Ditetapkan Sebagai Pandemi, Apa Artinya? dalam Sehatq.Com tertanggal 20 Maret 2020).

Namun di balik itu semua, seiring menjalarnya wabah yang kian menunjukkan belum ada tanda-tanda penurunan, kini semilir cinta mulai tumbuh bersemi dalam sanubari anak manusia yang tidak terduga sebelumnya. Sekedar turut serta menggelorakannya, kita bisa merasakan denyut-denyut cinta itu sebagai berikut:

1. Cinta Agama; Hal ini ditandai dengan tumbuhnya keyakinan akan adanya Dzat Maha pencipta, di mana selama ini sebahagian manusia di belahan bumi ini sepertinya banyak yang bersikap abai terhadap eksistensi Tuhan; Jangankan mematuhi aturan-aturanNya, wujudnya pun sebahagian manusia meragukannya. Kini pemandangan kian berubah, adanya wabah yang merata menyapu lapisan benua, hadirnya Tuhan Dzat pencipta itu sangat dibutuhkan hadirnya di tengah-tengah bencana yang semakin menggejala.

2. Cinta Ilmu Pengetahuan; Bagaikan berlomba-lomba, datangnya wabah telah menyebabkan berbagai temuan ilmu pengetahuan; Para ilmuwan dunia, kini semakin disibukkan untuk mencari sebab munculnya wabah, termasuk bagaimana jalan keluarnya. Demikian pula tokoh agama, sibuk berijtihad untuk melahirkan “fiqih bencana”. Pro kontra dalam menerapkan fatwa pun tidak dapat dihindari, antara yang mendahulukan kemashlatan umum dengan yang berpegang pada teks wahyu secara letterlijk (makna zhahir apa adanya). Di sisi lain, pembelajaran online pun kini mendapatkan momentumnya. Tidak terkecuali, majelis-majelis ilmu pun mulai bertumbuhan mengambil waktu tepat kapan sang guru, dosen atau pun ustadz menyampaikan ilmunya.

3. Cinta Keluarga; Satu peluang yang sangat sulit didapatkan, khususnya pada masyarakat perkotaan di era industri dan teknologi ini, kehadiran secara lengkap di tengah-tengah keluarga pun menjadi barang mahal yang langka untuk didapatkan. Dengan adanya wabah, di mana aturan keselamatan “mengharuskan” seluruh penduduk melaksanakan seruan stay at home, menyebabkan suasana rumah menjadi luar biasa. Tentu saja, dengan segala konsekuensi yang berbeda. Namun jika kita pandai mengambil hikmah, tentu banyak pelajaran berharga (‘ibrah) yang bisa didapatkan.

4. Cinta Jiwa Raga; Kecintaan ini merupakan sebuah kemutlakkan adanya, di mana tidak ada yang akan lebih mencintai diri seseorang, melainkan cinta pada dirinya sendiri. Masifnya penularan berupa pandemi global, telah “mengajarkan” pengalaman kepada kita, di mana Allah ‘azza wa jalla menggerakkan setiap hati untuk lebih memperhatikan keselamatan dan kesehatan jiwa raganya. Memelihara kedisiplinan, penerapan pola hidup sehat, menjalani kebiasaan yang baik dan pemenuhan hak hidup yang wajar menjadi tanggung jawab masing-masing. Adapun di luar dirinya, hanya berkewajiban mengingatkan semata.

5. Cinta Kemanusiaan; Kecintaan yang satu ini mendapatkan kedudukkan yang sangat tinggi, terlebih kalau kecintaannya itu di atas landasan bahwa Allah ‘azza wa jalla sangat memuliakan jiwa manusia. Di tengah merebaknya wabah, nyawa manusia begitu sangat mahalnya. Kalaulah bukan karena ingin menyelamatkan sesama manusia, tentu para relawan tidak akan berdiri di garda depan menolong saudaranya yang sangat membutuhkan. Karenanya menjadi sangat tepat, apabila belakangan ini muncul istilah bahwa menolong dengan sigap tanpa membedakan obyek yang kita tolong, merupakan sebuah proses “memanusiakan manusia”.

6. Cinta Lingkungan; Kecintaan ini pun kerapkali beriringan dengan kemanusiaan, keduanya selalu sinergi saling menguatkan. Keasrian, kebersihan, ketertiban dan keindahan alam lingkungan sangat berhubungan erat satu sama lain; Kepedulian akan lingkungan hidup, menjadi cerminan sejauh mana manusia sangat peduli dengan sesamanya. Karena itulah, memelihara kehidupan bumi dengan segala kedamaian yang diwujudkannya, mengundang kasih sayang Dzat yang menciptakannya. Benar apa yang dituturkan selama ini oleh sosok teladan: “Sayangilah apa yang ada di muka bumi, niscaya Dzat yang ada di langit menyayangimu.”

7. Cinta Tanah Air; Yang terakhir inilah wujud kecintaan yang bersifat manifestatif, yang berarti kecintaan akumulasi dari kecintaan-kecintaan yang ada. Terwujudnya masyarakat atau warga negara yang baik (good citizen), merupakan dambaan seluruh penduduk bumi. Hidup di atas landasan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan menjadi impian yang semua manusia berburu harap dengannya.

Persoalannya, dapatkah semua itu terwujud dengan sempurna, sementara penduduknya masih mengabaikan kecintaan terhadap agama, kurang perhatian terhadap ilmu pengetahuan, menelantarkan keluarga, tidak peduli keselamatan jiwa raga, menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan menganggap remeh urusan lingkungan? Jawabannya singkat, hanya manusia beriman dan bertakwa pada Dzat yang Maha mencipta yang dapat mewujudkannya. Semoga di tengah-tengah kemafsadatan, masih banyak kemashlahatan yang dapat kita kita manfaatkan … Wallâhu a’lam bis shawwâb
____

*) Ditulis hari Jum’at (waktu zhuhur), 03 Maret 2020 jelang pengajian online Kajian Santai Untuk Persistri (KASTURI) Se-Jabodetabek bersama Www.MadrasahAbi-Umi.Com

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com