Rabu, Juni 23MAU INSTITUTE
Shadow

DI BALIK INDAHNYA KAWASAN TALEGONG (Catatan Ziyarah Muhibbah Tim KDK MUI Pusat)

DI BALIK INDAHNYA KAWASAN TALEGONG (Catatan Ziyarah Muhibbah Tim KDK MUI Pusat)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Sepanjang jalan, tak henti-hentinya bibir ini berucap tasbih melihat indahnya panorama alam. Dua jam dari pintu Tol Soreang Bandung, melewati pegunungan, hamparan kebun teh yang hijau, hingga lembah-lembah yang indah menantang. Itulah kawasan Talegong perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Garut Selatan. Adapun perjalanan dari kota Garut melalui jalur selatan ini, membutuhkan waktu lima jam perjalanan roda empat.

Sebagaimana disampaikan Ketua Majelis Ulama setempat (Ustadz Uu Rohmat, S.Pd. I), masyarakatnya cukup guyub dan pemerintah daerah pun sangat peduli dengan perkembangan penduduknya. Di tengah keterbatasan fasilitas yang dimiliki, masyarakat Talegong bahu membahu menolong sesama saudaranya. Di antaranya mereka berjibaku “rawe-rawe rantas malang-malang putung” untuk melakukan program bedah rumah.

Jauhnya kawasan ini dari hiruk pikuk kota, kerapkali dimanfaatkan oleh kelompok agama tertentu sebagai sasaran misi pemurtadan. Demikian pula, di samping maraknya kembali pemahaman “wajibnya kembali berbaiat pada Imam”, secara ekonomis sebagian kondisi masyarakat yang jauh dari layak, seringkali dijadikan sasaran “Bank Emok” (emok: bahasa sunda, artinya duduk perempuan berlipat sembari tawarkan pinjaman langsung tunai) yang menawarkan pinjaman dengan riba yang tingi. Namun, berkat kesigapan tokoh-tokoh masyarakat dan dibantu oleh komponen ummat lainnya seperti Pagar Aqidah (Gardah) Jawa Barat, pelan tapi pasti masalah ini mulai teratasi. Ujar Ustadz Suryana yang telah lama membina kawasan ini.

Apa yang disampaikan Bapak penyuluh KUA Ustadz Aep Mulyono ada benarnya; “Yang namanya dakwah itu harus kahartos jeung karaos (bisa dipahami dan dirasakan), antara ngaji jeung ngejo (kebutuhan ilmu agama dan kebutuhan perut) harus seimbang.” Paparnya demikian.

Untuk merespon semua itu, Komite Dakwah Khusus (KDK) MUI Pusat bersama Pagar Aqidah (Gardah) Jabar menggelar Diklat (Pendidikan dan Latihan) Nasional Kristologi ke-3 yang berlokasi di daerah rawan tersebut pada hari Sabtu dan Ahad (14-15/ 11/ 2020) di gedung Madrasah Aliyah Al-Hikmah Kecamatan Talegong Kabupaten Garut.

Diklat yang bertemakan: “Membentengi ‘Aqidah Ummat dari Pemurtadan dan Aliran Menyimpang” ini menghadirkan para nara sumber sebagai berikut; Drs. H. Abu Deedat Syihab, M.H. (Pakar Kristologi & Ketua KDK MUI Pusat), H.Teten Romly Qomaruddien, M.A. (Kabid Kajian Dewan Da’wah & Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam Komisi; ‘Aqidah), Drs. H. Suryana Nurfatwa, S.H.I (Ketua MKP Gardah Jawa Barat) dan keynote speak oleh Dr. H. Nadjamuddin Ramly, M.Si (Wasekjen MUI Pusat).

Beberapa bahasan yang disampaikan; mulai dari: Peran MUI dalam Mengawal Aqidah Ummat, Kiat Menghadapi Modus-modus Pemurtadan, Fenomena Aliran Menyimpang dan Mengenal Peta Pemurtadan di Jawa Barat (khususnya) menjadi kajian menarik bagi para peserta sebagai pemantik ghairah dan ‘izzah dakwah. Adapun yang bertindak sebagai moderator; Epen Supendi, SIP, M.Si, Drs. H. Ali Syamsuddin dan Noura Yosse (Ketiganya merupakan anggota KDK MUI Pusat).

Suasana diklat semakin riuh, setelah bapak Kepala Camat Talegong turut memberikan testimoni di tengah 100an peserta, bahwa ajaran Islam itu sangatlah indah, cinta damai dan sangat selaras dengan cita-cita NKRI tentunya. Terlebih pekikan takbir menggema dipimpin oleh Bapak Camat sendiri yang masyarakat mengenalinya sebagai Muslim mu’allaf asal Timor Leste.

Sejumlah tokoh dan aparat pun hadir; Danramil yang diwakili oleh Babinsa dan Bimaspol, Bapak Sekcam yang mengikuti diklat sebagai peserta sampai akhir acara, hingga Ketua MUI Kecamatan yang menutup doa peresmian proyek pipanisasi di Curug Sumpel.

Selain menggelar diklat untuk para da’i, guru-guru dan para aktivis muda (utusan ormas seperti Pemuda PERSIS, Ajengan pondok pasantren dan relawan muda lainnya), KDK pun menyerahkan bantuan MUI Pusat berupa “Pipanisasi air bersih”. Menurut Abu Deedat, “Bantuan pipanisasi air bersih tersebut sangat dibutuhkan warga di daerah Talegong ini, sebab warga tidak bisa membuat sumur karena tanahnya bebatuan. Alhamdulillah dengan pipanisasi air bersih itu, sebanyak 400 warga lebih bisa mendapatkan air bersih dengan baik, ini merupakan salah satu bentuk dakwah yang dilakukan MUI.” Pungkasnya, di sela-sela peresmian dan pamitan ke warga masyarakat. Wallâhul musta’ân.
_____

Penulis adalah: Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat dan Ketua Bidang Kajian Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!