Minggu, September 19MAU INSTITUTE
Shadow

BERSYUKURLAH, MAKA KAMU TERLIHAT CANTIK

BERSYUKURLAH, MAKA KAMU TERLIHAT CANTIK (Sebuah Ikhtishar Narasi Etik)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Sebenarnya, buku yang ada di tangan ini, yakni “Cantik dalam Perspekptif Islam” (karya Abu Ihsan dan Ummu Ihsan, Pustaka Imam Asy-Syafi’i: 2017) sudah lama menemani, dan menempati ruang perpustakaan buku-buku lokal yang ada di rumah tugas (sekitar lima bulanan), bahkan dibawa-bawa sebagai bacaan santai di bis. Selain tampilannya menarik, juga ditulis oleh sejoli suami isteri yang sinergi berkhidmat di dunia da’wah bil kitaabah. Selain ada beberapa permintaan di kolom parenting MadrasahAbi-Umi.Com, tampaknya tak ada salahnya apabila ringkasan buku tersebut diambil faidahnya untuk kebaikan bersama.

Adapun yang menjadi fokus bahasan, adalah bagaimana Islam memandang, atau mendudukkan makna “cantik”. Sekalipun buku ini bukanlah kategori buku ilmiah murni (layaknya hasil tesis atau disertasi), namun tidak juga dimasukkan buku fiksi. Karena di dalamnya banyak membubuhkan referensi yang bisa dirujuk. Tepatnya, disebut buku bimbingan saja yang sarat dengan panduan yang bisa diterapkan dalam sikap kehidupan yang seharusnya. Dengan gaya bahasa yang renyah dan familiar, namun tidak kehilangan cita rasa ilmiahnya.

Minimalnya, buku ini mengandung tujuh mutiara yang layak diperhatikan, yaitu:

Pertama; Hakikatnya, tak ada makhluq yang paling sempurna dalam bentuk penciptaannya, selain manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Thuur/ 95: 4)

Dengan menjadikan ayat tersebut sebagai dalil, penulis buku ini memberikan catatan menarik, “bahwa untuk menjadi orang yang pandai bersyukur, tak harus menunggu cantik. Justeru bersyukurlah, maka kamu akan terlihat cantik”. Jadi, orang yang cantik itu adalah mereka yang percaya bahwa dirinya merupakan makhluq ciptaan Allah yang indah. Yang sadar bahwa dia sebuah mahakarya. (Lihat: hlm. 10).

Kedua; Idiom “bagus”, atau pun “baik”, sebagaimana dijelaskan Ar-Raghib al-Ashbahani dalam Al-Mufradaat, mengandung dua macam makna; baik bersifat fisik (khalq), dan baik bersifat non fisik, atau akhlaq (khuluq). Hal ini disandarkan pada do’a yang termaktub dalam hadits ini:

اللهم كما حسنت خلقي فحسن خلقي

“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan rupaku, maka baguskanlah akhlaqku.” (HR. Ahmad dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anh)

Menurut penulis buku, inilah kecantikan lahir, yakni kecantikan yang terlihat jelas, dan kasat mata (outer beauty). Ada pula kecantikan batin, yakni kecantikan yang terpancar dari hati (inner beauty) (Lihat: hlm. 11)

Ketiga; Sejatinya orang cantik itu, memiliki sifat rahmah, yaitu kasih sayang atau penyayang. Dengan merujuk hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang umum, betapa sifat ini adalah sifat hamba-hamba yang mulia di sisiNya.

إنما يرحم الله من عباده الرحماء

“Sesungguhnya orang-orang yang Allah sayangi di antara hamba-hambaNya adalah orang-orang yang penyayang.” (HR. Muttafaq ‘Alaih dari shahabat Usamah bin Zaid radhiyallaahu ‘anh)

Sifat ini sangatlah tampak, apabila ada pada diri seseorang yang mengisyaratkan varian kasih sebagai berikut; Memberikan kasih sayangnya kepada orang tua, menunjukkan kasih sayangnya kepada suami dan anak-anak, serta menebar kasih sayangnya kepada sesama hamba-hamba Allah lainnya. (Lihat: hlm. 17-24)

Keempat; Peribadi yang lemah lembut adalah sifat unggulan bagi orang-orang cantik, di mana mereka akan melahirkan sifat-sifat unggulan lainnya. Maka sangatlah wajar, apabila Nabi yang agung menuturkan:

إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله

“Sesungguhnya Allah itu Maha lembut, dan mencintai kelembutan dalam setiap perkara.” (HR. Bukhari Muslim dari ‘Aisyah).

Dengan demikian, dari kelembutan jiwa itulah lahir gurita kelembutan lainnya; lembut hati bagi kerabat sekitar (rafiiqul qalbi dzii qurbaa), mudah akrab dengan sesama (qariibun). selalu ingin membantu orang lain (hayyinun), dan selalu ingin memudahkan orang lain (sahlun). Ternyata benar, yang namanya kelembutan (jauh dari sifat kasar), harus diupayakan (innamal hilmu bit tahallum). (Lihat: hlm. 26-30)

Kelima; Orang cantik itu tak pernah meremehkan kebaikan, sekalipun orang lain menganggap kecil. Larangan dari Nabi teladan sangatlah dipegang.

لاتحقرن من المعروف شيئا ولو أن تلقى أخاك بوجه طلق

“Janganlah kamu memandang remeh suatu kebaikan, walau sekedar bermanis muka saat bertemu saudaramu.” (HR. Muslim dari Abu Dzar).

Sudah menjadi sifat yang otomatis, tak pernah meremehkan perkara kebaikan sekalipun kecil (ihtiqaar), dapat menumbuhkan raut muka yang selalu riang (thalaqatul wajhi), menyisipkan senyuman (tabassam), dan selalu menjaga tutur kata yang baik (kalimah thayyibah). (Lihat: hlm. 31-38)

Keenam; Senang berbagi, tak luput dari perhatian mereka. Apa yang bisa mereka perbuat, mereka akan menunaikannya walau harus berbagi “kuah sayur” pada tetangganya. Mereka begitu yakin taujih hadits yang mulia:

أنفق يا إبن أدم أنفق عليك

“Berinfaqlah kamu, niscaya kamu diberi infaq.” (HR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah).

Sungguh, keperibadian hebat dimiliki oleh mereka. Rasa ingin berbagi, mereka tunjukkan dengan amalan seperti ini; Menghindari sikap SMS (Seneng Melihat orang Susah, atau Susah Melihat orang Seneng), selalu berbagi dengan tetangga sebelah (hadiyah lil jiiraan), senang menanam sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain (gharsuz zar’a), senang menyingkirkan sesuatu yang membuat bahaya bagi orang lain, kerikil atau kotoran (imaathatul hajar auw al-adzaa), memenuhi kebutuhan orang banyak seperti air sumur (ifraaghud dalwi), meringankan beban saudaranya (iksyaaful kurbi), melunasi utang bagi yang kesulitan (iqdhaau dainin), dan menghilangkan rasa dahaga orang yang kehausan (ithraadul juu’i). (Lihat: hlm. 39-46)

Ketujuh; Selain yang telah disebutkan, mereka pun memiliki sifat-sifat istimewa, yang membuat mereka semakin menjadi peribadi ideal; kuat dan tegar, memiliki rasa syukur dan tampil sederhana (qanaa’ah), namun memiliki cita-cita yang tinggi (‘uluwwul himmah), serta mereka meyakini bahwa hidup bukan sekadar menunggu kematian. (Lihat: hlm. 47-51)

Subhaanallaah wa tabaarakallaah … Di samping itu, kecantikan jiwa mereka tampak tersaksikan dari pemeliharaannya terhadap sikap laku berikut; menjauhi sifat kesombongan dengan mahkota tawaadhu’, menjunjung tinggi sifat malu, senantiasa berhias diri dengan ilmu (tafaqquh fid diin), pandai merawat fisik (sekalipun bukan untuk dipamerkan dengan tabarrujul jaahiliyyah), sangat memahami batas-batas mahram sebagaimana ditunjukkan al-Qur’an dan as-Sunnah, dan mereka pun senantiasa berhias diri dengan tetap memelihara adab-adab yang sesuai dengan haknya. (Lihat: hlm. 52 hingga akhir)

Benar, apa yang disampaikan Rasul teladan:

إن الله جميل يحب الجمال ويحب معالي الامور ويكره سفاسفها

“Sesungguhnya Allah Maha indah, dan Dia menyukai keindahan, menyukai perkara-perkara mulia, dan (sekaligus) Dia pun membenci perkara-perkara hina lagi tercela.” (HR. At-Thabarani dari shahabat Husain bin ‘Ali radhiyallaahu ‘anh)


✍️ Goresan ikhtishar ini ditulis sebagai materi pendidikan karakter dalam Liqaa Maftuuh santri Ummahaatul Ghad (UG) Pesantren Persatuan Islam 81 Cibatu Garut Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!