Sabtu, April 20MAU INSTITUTE
Shadow

MODERASI DAN PEMBAHARUAN BUKANLAH PERKARA YANG SALING TERPISAH

MODERASI DAN PEMBAHARUAN BUKANLAH PERKARA YANG SALING TERPISAH
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Dua bulan yang lalu, tepatnya Jum’at, 26 Agustus 2022. Lembaga Kaderisasi Ulama Istiqlal di bawah pembinaan Prof. Dr. Nazaruddin Umar, Prof. Dr. Quraisy Syihab, dan Prof. Dr. Ahmad Thib Raya menyelenggarakan perhelatan ilmiah berupa multaqaa dengan mengundang tokoh Ulama Mesir kelahiran Jeddah [turunan Yaman], yakni Syaikh Al-Habib ‘Ali Zainal ‘Abidin al-Jufri yang didampingi tokoh sepuh Syaikh Prof. Idris al-Jufri al-Maghribi dari Universitas Qarawiyin Maroko.

Seminar Internasional dalam rangka Kaderisasi Ulama untuk mewujudkan “para mujahid moderat” [meminjam bahasa Prof. Nazaruddin] sebagaimana disampaikan pembinanya ini, mengambil tajuk:

دور العلماء لترسيخ التوسط في التدين و إعادة إحياء الإبعاد الحضرية للإسلام

“Peran Ulama dalam Meneguhkan Moderasi Beragama dan Revitalisasi Dimensi Peradaban Islam”

Tokoh yang dikenal pengikutnya sebagai ulama humanis dan moderat ini menuturkan pandangannya: “Radikalisme muncul bukan disebabkan faktor pemikiran saja, melainkan ada yang lebih mendasar dari itu, yakni ketidakseimbangan atau persoalan mental [at-tatharruf haalah nafsiyyah laisa fikriyyah]. Radikalisme adalah soal kesehatan mental yang muncul dari ketidakseimbangan lima unsur dalam diri manusia; Yang kelima unsur tersebut menjadi rumusan insan kamil, manusia ideal dalam Islam [ruh, hati, aqal, nafsu, dan jasad]. Jangan hanya berpaku pada salah satu unsur, mendisiplinkan lima unsur ini!!”.

Dirinya mengakui, bahwa faktor eksternal seperti kepentingan politik, ekonomi, dan sosial yang terkadang di luar kendali dan kemampuan ulama. Maka dirinya mengajak para ulama untuk tetap istiqamah berdakwah dengan tiga prinsip yang agung, yaitu rendah hati, rahmat, dan cinta dengan siapa pun. “Saya anti kekufuran, saya anti maksiat, tetapi saya tidak pernah membenci orang-orang kafir dan orang maksiat”. Ujarnya demikian.

Itulah sebahagian kecil percikan untaian ceramahnya, yang bermuara pada ajakan: “Mari kembali kepada kemanusiaan kita, agar keberagamaan kita dapat diandalkan!!” sebagaimana yang banyak diurai dalam karya-karyanya. (Lihat: Habib ‘Ali al-Jufri, Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan, terj. Humanity Before Religiosity, Noura, Jakarta: 2021)

Menyimak uraiannya yang memanjakan telinga, dan ratusan hadhirin pun terkagum-kagum dengan bahasa indahnya. Sekalipun ada penerjemah, yakni Habib Novel Jindan dan moderator Dr. Ahmad Murodi, namun diri ini lebih merasakan betapa indah pilihan kata-kata yang diucapkannya. Terlepas dari itu semua, sepertinya ada yang menurut diri ini terlewatkan atau sengaja dilewatkan. Karena itulah dorongan untuk bertanya pun tidak bisa disembunyikan lagi, di mana term pembaharuan [tajdiid] nyaris tidak disinggung. Keheranan inilah yang mendorong diri ini berani mengajukan pertanyaan:

لوسمحتم أيها المشايخ … عندنا سؤال:
التجديد والتوسط شيئان لاينفصلان في الدين … ٱي ضوابط و مناهج ومعالم لإصلاح و مناسبة الفكرية لإقامة الحضارة الإسلامية تحت ميزان عقيدة ٱهل السنة والجماعة سلفا وخلفا وعصرا … شكرا على فضيلتكم!!!

Mohon maaf para masayikh, saya memiliki pertanyaan: “Pembaharuan [tajdiid] dan moderasi [tawassuth], merupakan dua perkara yang tidak dapat dipisahkan. [Pertanyaannya adalah], apakah ada rumusan, metode, dan rambu-rambu yang menuju kepada perbaikan dan keselarasan pemikiran guna melejitkan peradaban Islam di bawah timbangan ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah? [baik pada masa salaf, khalaf, dan saat ini].” Terima kasih atas perhatian yang mulia!!!

Pertanyaan ini, al-hamdulillaah berhasil memancing beliau hingga menjawab penuh semangat dengan durasi yang sangat panjang sekali. Beliau bilang: “Ini pertanyaan mendalam dan sangat penting untuk dijelaskan, dan saya minta izin kepada hadirin untuk menjelaskannya sedikit panjang lebar”. Tuturnya menegaskan.

Menyinggung persoalan tajdiid yang ditanyakan, beliau memberikan beberapa catatan terlebih dahulu sebagai nasihat. Di antaranya, kebiasaan menyalahkan dan meremehkan, serta membanggakan diri sendiri merupakan sikap tercela. Adapun rumusan, pedoman, dan rambu-rambu beragama tidak lain hanya bisa kembali dengan menghidupkan disiplin ilmu syar’i dan memperhatikan ilmu ushuul yang ditetapkan para ulama.

Karenanya, beliau mengingatkan agar berhati-hati untuk tidak terjebak dengan tipu daya fatwa. Terutama fatwa para penyeru tajdiid yang tidak menyandarkan fatwanya kepada fatwa yang mu’tamad, yakni fatwa yang dipercaya dan dijadikan pegangan bermadzhab. Menurutnya, haram berfatwa apabila tidak merujuk pada fatwa yang mu’tamad.

Sekalipun beliau tidak menyebutkan kelompok tajdiid manakah yang dimaksud dalam sindirannya, diri ini mencoba memahaminya dengan penuh husnuz zhan dan berusaha mengambil faidah [istifaadah] dari mutiara nasihatnya itu. Namun demikian, sebagai penuntut ilmu diri ini belum terpuaskan dahaga jiwa, karena uraian jawaban panjangnya belum menyentuh makna tajdiid yang sebenarnya.

Kita boleh setuju dengan pandangan beliau, apabila para penyeru tajdiid yang dimaksudkannya adalah mereka yang mengkritisi amalan ajaran agama ini tanpa piranti ilmu dan berfikir bebas dan liar [liberal, hurriyyah]. Adapun mereka yang tengah berusaha dengan dukungan piranti ilmu dalam mengembalikan kerusakan ajaran agama kepada kemurniannya [i’aadatul Islaami ilaa ashlihaa] yang genuine dengan reformasi berfikir yang terjaga [al-ashaalah wal ishlaah], tentu tidak termasuk yang dimaksudkan. Karena menurut diri ini, moderasi [tawassuth] dan pembaharuan [tajdiid], merupakan dua perkara yang saling beririsan. “Hanya sekedar mirip, namun tidaklah sama dan tidak perlu dipersamakan!!”, terlebih pemaknaan terhadap tajdiid yang keluar dari makna sebenarnya. (Lihat; Mafhuum Tajdiidud Diin karya Busthami Sa’ied)

Selain dihadiri jajaran pengurus Masjid Istiqlal dan beberapa tokoh Nasional semisal Prof. Dr. Alwi Syihab, Tuan Guru Dr. Muhammad Zainul Majdi, Ibu Hj. Yeni Wahid [Wahid Institute], hadir pula Sayyid Abdullah Thoha dan Ir. Haidar Bagir (Mizan Group), Abdullah Beik (Ketua ABI), juga ratusan peserta dari para alumni Mesir, Maroko, Negeri Syam, dan alumni Timur Tengah lainnya. Wallaahu yahdiinaa ilaa sabiilir rasyaad


✍️ Tulisan ini digoreskan sebagai bahan pemantik diskusi Forum Mubahatsah yang pernah diadakan di Sumedang Jawa Barat, dengan tema kajian: Tajdiid dan Tawassuth dalam Narasi Islam Klasik dan Kontemporer

Print Friendly, PDF & Email

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!