Senin, Desember 9News That Matters

DAHSYATNYA MADRASAH ORANG TUA DI RUMAH (Goresan Sederhana Untuk Para Pemuja Emansipasi)

DAHSYATNYA MADRASAH ORANG TUA DI RUMAH (Goresan Sederhana Untuk Para Pemuja Emansipasi)
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Bila sebelumnya ada hari ayah (12 November), lalu disusul dengan hari ibu (22 Desember) dan di bulan ini ada hari Kartini (21 April) dan seterusnya. Begitulah apa yang sudah berjalan saat ini seolah menjadi sebuah ketentuan dan ketetapan bersama. Terlepas pro-kontra mengapa hari-hari itu mesti muncul, yang jelas hal itu dikarenakan ada harapan dan pelajaran keteladanan yang hendak diambil. Termasuk hari yang disebut terakhir, yaitu sosok Kartini yang digambarkan sebagai “wanita hebat” peletak dasar emansipasi wanita di tanah air dengan perannya yang mencerdaskan dan mengagumkan. Namun apa yang terjadi, penampilan sosok wanita ini lebih dimunculkan dan disuarakan sebagai “suara pembebasan wanita” yang menuntut keadilan gender, yang jauh dari aroma-aroma religius sama sekali. Padahal, sumber lain menyebutkan sebaliknya.

Membincangkan peran ayah dan peran ibu, tentu sangatlah mulia. Namun akan lebih mulia apabila peran keduanya dilihat dari sisi yang lebih menonjolkan sentuhan pemeliharaan keturunan (hifzhun nasab) dalam bahasa fiqih, atau pelestarian generasi (naqlul ajyaal) dalam bahasa sosial, yang keduanya dikaitkan dengan pemeliharaan agama (hifzhud dien). Karena dengan agamalah semuanya menjadi bernilai dan memiliki kedudukkan yang amat terhormat.

“Indung nu ngandung jeung bapa nu ngayuga, indung tunggul rahayu jeung bapa tangkalna darajat”. Seorang ibu, dialah sosok wanita yang mengandung kita, dan bapak karena sosok dialah yang menyebabkan kita ada -atas idzin Allah ‘azza wa jalla-. Ibu adalah puncaknya kebahagiaan dan bapak adalah perantara kemuliaan. Karena itulah agama mengajarkan birrul waalidain dan akrim abaaka wa ummaka, “hormatilah kedua orang tuamu”. Demikian pula dengan do’a yang selalu terlantun “Rabbighfirlie wa liwaalidayya warhamhumaa kamaa Rabbayaanie shagieran” dan “Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaaman”. Semua ini menunjukkan betapa eratnya hubungan madrasah orang tua dan lahirnya generasi pemimpin. Artinya, “pendidikan rumah” itu sangat dahsyat pengaruhnya dalam perkembangan anak-anak kita. Karenanya tidak ada alasan sedikit pun untuk “mengerdilkan” peran orang tua di rumah; pasangan kita, terlebih ibu kita atau istri kita.

Sungguh tuduhan yang tidak berdasar, bila “wanita rumahan” atau “ibu rumah tangga” dianggap sebagai penghalang kebangkitan. (Lihat bantahan Muhammad Mahdi al-Istanbuly, Nisaa’ Haular Rasuul war Radd ‘alaa Muftariyaatil Mustasyriqien, 1992: hlm. 369).

Lupakah kita, gerakan emansipasi wanita di beberapa negara mulai menunjukkan kegagalannya. Mereka ramai-ramai menuntut pulang ke rumah suaminya, mulai “sesak” dengan kemerosotan moral yang semakin mengalami titik nadir. Contohnya di Swedia, 100 ribu wanita melakukan demonstrasi dengan mengajukan petisi kepada pihak pemerintah terkait hal itu. (Lihat Al-Qaradhawy, Marakidzul Mar’ah Fil Hayaatil Islaamiyyah dalam Panduan Fiqih Perempuan, 2004: hlm. 90).

Masih ingatkah kita, surat penyesalan Marlyn Monroe yang ditulis kepada para gadis, sebelum mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri? Jiwa yang lemah itu bertutur: “Hati-hatilah dengan sanjungan, hati-hatilah dengan setiap orang yang menipu dirimu dengan gemerlapnya ketenaran, sesungguhnya akulah wanita yang paling malang di dunia ini, aku tak dapat hidup sebagai ibu, aku adalah wanita yang gagal dalam berumah tangga. Alangkah indahnya kehidupan rumah tangga yang mulia dalam segala hal. Sesungguhnya kebahagiaan wanita sejati adalah hidup dalam rumah tangga yang mulia nan suci, bahkan sebenarnyalah kehidupan rumah tangga adalah kunci kebahagiaan seorang wanita dan seluruh manusia …” (Dipetik kembali Al-Istanbuly, 1992: hlm. 371).

Sungguh pengakuan yang jujur dan proses fithrah tengah benar-benar kembali dan tidak ada satu pun makhluq yang mampu merubah fithrah yang ditetapkan Allah ‘azza wa jalla.

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lil muttaqiena imaaman
_________________

✍ Goresan pena ini pernah ditulis sebagai pelengkap buku “Yaa Ukhti Kenalilah Dirimu (2007) bersama Ummu Yazied, dengan judul: Emansipasi Wanita Dalam Sorotan.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com