Minggu, April 5MAU INSTITUTE

KULIAH FALSAFAH ILMU BERSAMA GURU KAMI KH. ABDUL WAHID ALWI, MA. RAHIMAHULLÂH (Sebuah Pengantar Buku)

KULIAH FALSAFAH ILMU BERSAMA GURU KAMI KH. ABDUL WAHID ALWI, MA. RAHIMAHULLÂH (Sebuah Pengantar Buku)
Disarikan oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Alhamdu lillâhi Rabbil ‘âlamîn … Hamdan katsîran thayyiban mubârakan fîhi … Hamdan yalîqu bijalâlihi wa ‘azhîmi sulthânih nahmaduhu wa nasta’înuhu wa nastaghfiruhu wa na’ûdzu billâhi min syurûri anfusina wa min sayyi’âti a’mâlinaâ … Man yahdihillâhu falâ mudhilla lahu wa man yudhlilhu falâ hâdiya lahu .. Wa ba’du:

Di antara kenikmatan dan kemuliaan yang Allah ‘azza wa jalla curahkan untuk hamba-hambaNya adalah berupa kenikmatan diberikannya petunjuk akan kebenaran di sisiNya. Siapa yang mendapatkan hidayahNya, maka tidak ada seorang pun yang mampu menyesatkannya. Siapa pun yang memilih jalan kesesatan (hingga ia tersesat), maka tidak ada satu pun yang mampu memberikan petunjuk kepadaNya.

Merupakan anugerah yang tidak ternilai untuk manusia, berupa diturunkannya ilmu. Yang sudah tentu, ilmu yang dimaksud adalah “ilmu yang bermanfaat” (al-ilmun nâfi’), yakni setiap ilmu yang mengantarkan pemiliknya kepada cita-cita tertinggi (yaitu surga). Di samping itu, ilmu tersebut membuahkan hal-hal bermanfaat lainnya. Maka setiap ilmu yang menunjukkan kepada jalan tersebut (baik ilmu dunia atau pun ilmu akhirat), baik dari segi aqidah, akhlaq, maupun amal. Maka ia termasuk ilmu yang bermanfaat itu. (Lihat: Abdurrahman as-Sa’di, Ad-Dînus Shahîh, hlm. 31)

Al-Qur’anul Karîm dan As-Sunnah merupakan dua sumber yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Hal ini dapat diperhatikan pada contoh ayat-ayat berikut:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 31)

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Kami berfirman: Turunlah kamu semuanya dari surga itu, kemudian jika datang petunjukKu kepadamu, maka siapa yang mengikuti petunjukKu, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 38)

Para ahli ilmu memaknai al-hudâ itu dengan al-‘Ilmu, di mana di dalamnya mengandung pengertian; wahyu yang memberi pencerahan terkait “the way of life and the way of dead” (al-hudâ ad-dîniyyah), juga mengandung pengertian sains dan teknologi (al-hudâ al-kauniyyah) yang memberi inovasi bagaimana memanfaatkan jagad raya yang telah dikaruniakan Dzat Maha pencipta untuk disyukuri dan dinikmati saat ini, sebelum kita menikmati kekekalan sorgawi kelak, in syâ Allâh.

Demikian pula, ayat yang termaktub pada QS. Muhammad/ 47: 19 Fa’lam annahu lâ ilâha illallâh; “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah.” Juga ayat dalam QS. Thâhâ/ 20: 114 Wa qul Rabbî zidnî ‘ilman; “Dan katakanlah, ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” Semuanya itu menunjukkan hal tersebut.

Lebih dari itu, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai dan menghargai ilmu pengetahuan; Mengasingkan diri untuk mencari pencerahan (tahannuts) di gua Hira, dialognya bersama Malaikat Jibril dalam peristiwa isra’ mi’râj, perhatiannya terhadap teknologi dalam peristiwa perang parit (khandaq), pedulinya terhadap kesehatan, penghargaannya pada teknik pertanian berupa perkawinan tanaman menjadi bukti bahwa Rasul yang mulia memuliakan ilmu pengetahuan.

Namun demikian, apa jadinya apabila ilmu tidak membuahkan iman dan amal shalih? sebagaimana ditunjukkan Imam Ibnu Rajab dalam kitabnya Fadhlul ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf.

Untuk lebih selamat dan berkahnya menemukan sesuatu yang disebut ilmu sebagai kebenaran, maka kembali kepada sumber ilmu (yakni nûrullâh) merupakan jawabannya. Adapun sumber yang dimaksud adalah cahaya wahyu sebagai anugerah ilmu maqâshid (ilmu syar’i yang memiliki kejelasan maksud secara langsung kepada Allah ‘azza wa jalla) dan cahaya aqal sebagai anugerah ilmu wasâil (ilmu dunia yang memiliki fungsi sebagai perantara manusia dalam menghidup suburkan bumi) sebagaimana ditunjukkan firmanNya:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah Timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah Barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nûr/ 24: 35).

Agar tidak salah kaprah dalam memahami wahyu, maka kembali kepada metode berfikir Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya menjadi pilihan; Yakin bahwa Al-Qur’ân adalah wahyu Allah ‘azza wa jalla, mempercayai perkara ghaib dari Allah, mendahulukan wahyu di atas aqal, tidak mendebatkan perkara ghaib, memahami dan mengamalkan wahyu (bukan mewacanakannya), tidak ada kepentingan pribadi dalam menyampaikan pesan wahyu dan menjaga wahyu dari virus yang merusaknya.

Sebagai ikhtiar dalam mengawal itu semua, para penuntut ilmu hendaknya menghiasi cara berfikirnya dengan metode berfikir yang benar. Dengan hadirnya buah tangan berupa karya tulis Akhînas Shaghîr Teten Romly Qomaruddien yang berjudul: Metode Berfikir Islami; Menimbang Nalar Menjunjung Wahyu semoga menjadi pelita di tengah kegelapan malam dan bermanfaat untuk semua. Allâhumma faqqihnâ fid dîn.
_____________

*) Ditulis dalam perjalanan Yogyakarta – Jakarta pasca mengikuti “Simposium Nasional Optimalisasi Tiga Pilar Da’wah (Masjid, Pesantren dan Kampus)” di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com