Selasa, Agustus 4MAU INSTITUTE
Shadow

AKTIVIS PIAWAI YANG PENGALAMAN DAKWAH BIL KITAABAH ITU TELAH DIPANGGIL ALLAH JALLA JALÂLUH

AKTIVIS PIAWAI YANG PENGALAMAN DAKWAH BIL KITAABAH ITU TELAH DIPANGGIL ALLAH JALLA JALÂLUH

Siapa yang tidak kenal sosok sederhana dan murah senyum itu? Beliau selalu menyapa orang yang ditemuinya ketika berpapasan, bahkan pada orang yang usianya di bawah jauh sekalipun, termasuk pada generasi kami.

“Assalaamu ‘alaikum … Gimana antum sehat, di mana sekarang, anak-anak juga sehat yah … Gimana menurut antum, perkembangan ummat sekarang?” Itulah kalimat yang kerapkali diri ini terima dari lisannya sembari memancarkan jiwa optimisme yang penuh dengan ketulusan.

Sesekali beliau menarik tangan agar duduk lebih rapat, yang ternyata tarikan itu sekedar agar pesan beliau bisa didengar lebih dekat. Dengan nada sedikit gemetar namun jelas, beliau berungkali menuturkan nasihatnya: “Hampir semua tulisan saudara selalu saya baca … saya senang bisa membacanya. Lanjutkan!!! … Namun ingat yaahh, kata Pak Natsir tulis sesuatu yang mudah dipahami oleh ummat. Dan jangan lupa, sisipkan selalu berita-berita terkini keummatan itu dalam tulisan agar ummat mengetahui perkembangan.”

Sungguh nasihat emas yang tak akan mudah melupakannya sepanjang perjuangan ini tentunya. Pengalamannya dalam dunia retorika, menjaga tutur kata sungguh kami saksikan di lapangan; di rapat-rapat, tukar pendapat dan pengalaman, bahkan dalam obrolan biasa sekalipun, beliau sangat hati-hati dalam memilih narasi dan memilah kata-kata. Sebuah perjalanan yang tidak sia-sia, ketika diri ini harus membersamai beliau ke tanah kelahirannya di Kalimantan Barat 10 tahun silam.

Hal lain yang masih terngiang, suatu ketika diri ini dapat tugas di Masjid As-Syukur Kebayoran Lama, berdekatan dengan RS Permata Hijau. Setibanya di tempat, rupanya beliau sudah ada di tempat itu lebih awwal. Ketika waktu jum’at tiba, diri ini segera menghampiri beliau dan memohon kepada pengurus agar beliau sudi menyambut tawaran untuk menyampaikan pesan khutbahnya di mesjid itu. Namun apa yang terjadi? Sambil menepuk-nepuk punggung, beliau masih sempat menasihati: “Antum jaga kesehatan, lihat kami-kami yang sudah tua ini … Sudahlah antum yang naik, saya ingin sekali mendengarkan anak muda.” Dengan berat hati, diri ini pun mengikuti sarannya untuk naik.

Tidak cukup sampai di situ, di sela-sela sakitnya, di mana beliau jalannya saja harus dipapah. Sebagai anggota Dewan Pembina Dewan Da’wah, beliau selalu duduk di kursi kedua pojok sebelah kanan depan (antara Ustadzunaa KH. Ahmad Cholil Ridhwan dan Ustadzuna KH. Abdul Wahid Alwy). Beliau sangat cermat menanggapi setiap butir bahan yang dibicarakan. Ketika Dewan Da’wah tengah mempersiapkan Simposium Nasional Tiga Pilar Kekuatan Ummat; Masjid, Pondok Pesantren dan Kampus yang akan digelar di Yogyakarta, panitia sangat membutuhkan naskah asli Pak Natsir terkait bahasan dimaksud. Spontan beliau mengacungkan tangan seraya mengatakan: “Saya masih menyimpan arsip ketikan bapak”, ujarnya. Prof. AM. Saefuddin yang memimpin rapat dan diikuti peserta yang hadir, langsung menatap fokus ke arah suara. Siapakah gerangan laki-laki itu?

Beliau adalah ayahanda kita H. Ramlan Mardjoned yang tepat hari ini; Sabtu, 25 April 2020 (Ramadhan hari ke-2) jam 13.15 menghembuskan nafasnya yang terakhir di RS PELNI Petamburan Jakarta dalam usia 74 tahun. Rencananya, jenazah akan dikebumikan di Pemakaman Al-Azhar Memorial Garden Karawang Jawa Barat.

Semoga Allah jalla jalaaluh menempatkannya pada tempat yang mulia. INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI’UUN … (Yang turut berduka: @TenRomlyQ. bersama keluarga, Goresan Kesan Murid untuk Sang Guru; Bekasi, bakda ‘Ashar, 25 April 2020)

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com