Kamis, Mei 28MAU INSTITUTE
Shadow

SETENGAH BULAN MULIA “DI RUMAH AJA” (Menilik Serba-serbi Ramadhan Era Pandemi)

SETENGAH BULAN MULIA “DI RUMAH AJA” (Menilik Serba-serbi Ramadhan Musim Pandemi)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien


Sekalipun melalui masa-masa yang tidak biasa, kaum Muslimin tetap masih setia dan ceria menikmati anugerah bulan mulia; masjid-masjid tetap mengumandangkan adzan walaupun yang shalat berjamaah terbatas, suara tilawah pun masih terdengar dari masjid-masjid, mushalla perkotaan dan langgar-langgar pedesaan. Rumah-rumah kaum Muslimin jadi lebih rame, di mana para ayah bergiliran jadi imam shalat dengan si kakak dengan segala keterbatasan dan serba-serbinya yang cukup unik namun menggembirakan.

Tadarrus dan taklim ramadhan yang biasa digelar di majlis-majlis dan mimbar-mimbar mulia berubah posisi dan tempat menjadi dari rumah masing-masing. Dengan serta merta semua dibikin sibuk, bukan hanya anak-anak dan para guru dengan tugas sekolahnya saja, juga para asatidz pun dituntut untuk lebih akrab dengan cara berbeda-beda dalam melayani permohonan jamaahnya. Kajian online pun menjadi alternatif untuk mengisi rutinitas thalabul ilmi; mulai kuliah WA, rekaman VN, video youtobe, app zoom dan lainnya.

Banyak hikmah di balik musibah; di samping lebih meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan, juga berbagai inovasi baru pembelajaran mulai banyak ditemukan. Di antara yang paling menonjol adalah pergulatan pengetahuan keagamaan ummat yang lebih marak secara media dan lebih bervariasi secara isi. Terlepas dari plus minusnya, yang jelas suasana ilmiahnya lebih dapat dan lebih hidup. Beberapa catatan penting yang menjadi sorotan adalah sebagai berikut:

1. Lafazh adzan yang bertambah

Dengan adanya stay at home atau al-baqâ fil bait, kini secara serempak kaum Muslimin mengenal pembendaharaan ilmu dalam praktek melafazhkan adzan. Walaupun tidak semua rumah Allah ‘azza wa jalla para mu’adzinnya mengumandangkan as-shalâtu fî buyûtikum atau as-shalâtu fî rihâlikum, namun masyarakat faham bahwa itu seruan keringanan agar para jamaah yang biasanya shalat berjamaah di masjid-masjid, dipersilahkan untuk shalat di rumahnya masing-masing atau di kendaraannya apabila sedang dalam perjalanan.

2. Ibadah, belajar dan Taklim di Rumah aja

Seperti tradisi baik kaum Muslimin sebelumnya, bakda shalat berjamaah biasanya mereka menyelenggarakan taklim berupa kuliah singkat, kajian kitab, tanya jawab agama, bahkan diskusi ilmiah. Kini, semuanya dikendalikan dari rumah sang guru atau ustadz dan ustadzahnya masing-masing. Sungguh kemuliaan yang luar biasa, di tengah-tengah keadaan yang serba terbatas guru-murid, ustadz dan jamaahnya bersepakat waktu untuk menyelenggarakan taklim online melalui media yang ada.

3. Perbedaan fiqih wabah

Sebagaimana sudah diketahui, bahwa fiqih itu memiliki karakteristik yang flexible, yakni lentur dan luwes. Maka sudah menjadi ruhnya fiqih, bahwa hukum mengikuti perkembangan perubahan waktu dan tempat (taghyîrul azminah wal amkinah). Maka dalam hal ini, keselarasan antara dalil dan kenyataan menjadi sesuatu yang saling bertautan menjadi fiqhul wâqi’ atau fiqhun nawâzil (pemahaman realita dan peristiwa).

Ada banyak masalah keagamaan, yang akhir-akhir ini membutuhkan pemahaman yang lebih menentramkan, di mana wabah menuntut adanya fiqih tersendiri yang disebut fiqih wabah. Beberapa masalah yang dimaksud di antaranya: shalat fardhu berjamaah yang biasanya di masjid berubah menjadi di rumah, shalat berjamaah berjarak, bergantinya shalat jum’ah menjadi zhuhur, tidak diselenggarakan shalat tarawih di mesjid, kemungkinan tidak diselenggarakan shalat ‘iedul fithri, pemulasaraan jenazah khusus covid dan lain-lain.

Merupakan hal yang wajar, apabila dalam pelaksanaannya terjadi pro-kontra antara yang berpegang pada kepatuhan muqarrar fatwa (indhibâth bilfatwâ) atau pun perasaan iman yang mendalam (dzauq îmâni) yang dipertahankan (penulis tidak menyebut itu adalah ego). Di samping itu, pemetaan zona di lapangan yang masih tarik menarik kerapkali memunculkan perbedaan antara masih mungkin menggunakan masjid atau tidak mungkin.

Kondisi pro-kontra ini tidak sekedar terjadi di tanah air, melainkan terjadi pula di negeri-negeri Muslim lain. Karena negeri kita sangat luas teritorialnya, penduduk Muslimnya sangat banyak, ditambah dengan kumpulan organisasinya yang banyak pula, maka sangatlah wajar apabila kontroversinya juga lebih banyak. Antara yang mengikuti pandangan ulama KSA, fatwa ulama Mesir dan Timur Tengah lainnya, seruan MUI Pusat. Juga diramaikan pula oleh pandangan-pandangan ulama secara pribadi yang berseberangan dengan fatwa-fatwa sebelumnya, di antaranya Fatwa Syaikh Ahmad Al-Kûry dari Mauritania dan Prof. Dr. Syaikh Hakim Al-Mathiry dari Kuwait yang mengkritisi pendapat bahwa tidak cukup alasan untuk meninggalkan shalat jum’ah karena wabah.

Namun demikian, kalau menilik kembali pandangan Prof. Dr. Syaikh Washfi ‘Asyur Abu Zaid sebagai pakar Maqâshidus Syarîah di Istanbul Turki, bahwa berbagai persoalan kekinian akan mudah terjawab apabila menggunakan pendekatan ilmu ini.

4. Ramadhan dan akhir zaman

Bukan sekedar diramaikan dengan nuansa kontroversi fiqih, ramadhan kali ini pun dihebohkan pula dengan berita yang berseliweran di media sosial terkait dengan “kegaduhan akhir zaman”. Di antaranya menyebarnya khabar bias bin lemah yang diklaim sebagai hadits Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Dengan berbagai cara; tulisan WA, posting facebook, cuitan twitter, gambar flyer dan tayangan youtobe tentang akan terjadinya asap tebal dan dentuman hebat bertepatan dengan hari jum’at di pertengahan ramadhan.

5. Dugaan konspirasi

Tidak cukup sampai di sana, berbagai dugaan yang beraroma politik intelejen, mulai muncul sebagai berita hangat yang mengharu birukan jagat pemberitaan. Apakah virus yang muncul itu bersifat alami, atau rekayasa biologis? Tuduhan negeri Paman Sam terhadap negeri Tirai Bambu terkait penyebaran virus yang dikendalikan, kini telah mulai menuai hembusannya. Berbagai keberatan beberapa negara tertentu atas perkembangan kebijakan Tiongkok dengan segala pengaruh ekonomi, politik, sosial, pendidikan, budaya dan hankam sepertinya itulah gambaran global yang bakal terjadi. Dampaknya, bukan hanya pada negara-negara besar sebagai kekuatan negara ketiga, juga mulai mencuat di kancah percaturan nasional kita.

Itulah sebagian lintasan berfikir yang cukup menggelayut di benak, semoga tidak dilihat sebagai ramalan buruk, melainkan sebagai kisi-kisi yang bisa menjadi peluang untuk membaca zaman. Selagi kita masih di bulan ramadhan, tanpa terasa kita telah melewati setengah bulan mulia. Harapannya adalah, ramadhan kali ini dengan segala serba-serbinya benar-benar menjadi madrasah tadrîbiyyah yang mampu menjadikan kita tercerahkan dan tumbuhnya ‘izzah diri untuk lebih mampu membangun masa depan.

Allâhumma sallimnâ li ramadhâna wa sallim ramadhâna lanâ wa tusallimhu minnâ mutaqabbalan
______

*) Ditulis jelang ‘ashar, 19 Ramadhan 1441 H. di Komplek Perkantoran Dewan Da’wah Kebon Jeruk Jakarta Barat

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com