Kamis, Juni 17MAU INSTITUTE
Shadow

DAKWAH TAUHID SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB ITU KEREN

DAKWAH TAUHID SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB ITU KEREN
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Sungguh aneh tapi nyata, apabila generalisasi tuduhan yang bertubi-tubi selalu diarahkan kepada nama besar pendakwah tauhid yang telah membuka mata dunia akan pentingnya pemahaman agama, terlepas di dalamnya ada perdebatan. Hal semacam berbeda pandangan itu, tentu saja adalah suatu yang wajar terjadi.

Dalam berbagai diskusi yang diikuti, dengan jam terbang yang sangat terbatas. Dari diskusi ke diskusi internal, nampaknya ada natijah yang pernah disampaikan para ulama besar dunia, di antaranya Fadhilatus Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turky (Mantan Sekjen Liga Dunia Islam) yang pernah menuturkan: “Tidaklah isue wahabi digelindingkan, melainkan ada dua kelompok yang berkepentingan; zionisme dan syi’ah.” Apakah ini bualan, ataukah omong kosong tanpa makna?

Pertanyaan tersebut menjadi sangat penting dimunculkan, karena dalam waktu bersamaan diskusi ke diskusi eksternal yang diikuti, menunjukkan seperti demikian. Atau sederhananya, silahkan dirujuk dan ditelaah hampir seluruh pro kontra mengenai Islam Toleran dan Islam Non Toleran, kerap kali dihembuskan mereka dalam membicarakan persoalan “radikalisme agama” yang sudah ditafsirkan secara liar.

Seiring dengan tingkat kesadaran intelektual, para ilmuwan dari berbagai bidang disiplin ilmu, lalu dilengkapi dan disemarakkan oleh para ulama mutafaqqihiina fid diin yang menjalin sinergi ilmu dengan sangat damainya. Subhaanallaah … mutiara mutu manikam yang terkandung dalam harta karun peradaban para salafunas shaalihiin begitu sangat mencerahkan suasana. Maka tidaklah heran, bagaimana pandangan-pandangan Ibnu Taimiyyah banyak ditimbang kembali dari perspektif Islamisasi Pengetahuan contohnya. Prof. Dr. Thaha Jabir al-Ulwany (IIIT Herndon Virginia AS) menulis Islaamiyyatul Ma’rifah ‘inda Ibni Taimiyyah. Atau seorang Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara (Guru Besar Filsafat UIN Jakarta) pernah mengurai kitab Tuhfatul Waduud bi Ahkaamil Mauwluud dalam Mozaik Khazanah Islam; Bunga Rampai dari Chicago yang menjelaskan betapa dahsyatnya ulama salaf dalam menjelaskan konsep pendidikan dan pengajaran anak, di mana semua itu sangat relevan dengan perkembangan zaman.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (abad ke-7 H. di Syria), juga murid-muridnya yang sering dituduh sebagai biang kerok kerusakan pemahaman agama oleh sebahagian kalangan, lalu dilanjutkan lima abad berikutnya oleh Syaikhul Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahab (abad ke-12 H. di Jazirah Arabia) dengan Madrasah Ibnu Taimiyyah-nya. Justeru pandangan ahli lintas disiplin ilmu, mereka telah berhasil menorehkan tinta emas sejarah pembaharuan pemikiran Islam dan perhelatan teologis yang mengagumkan sepanjang zaman. Tak ketinggalan, seorang Ir. Soekarno (bapak proklamator RI) di era tahun 1930-1940an, sekalipun dirinya sangat tersanjung dengan pemikiran Kemal Ataturk yang rasional-sekuler, namun tidak dapat menyembunyikan kekagumannya dengan puritanisme gerakan dakwah “wahabiyah” yang dikritisinya.

Memang disadari, hampir seluruh dunia Islam yang mengasaskan pandangan, atau mengambil sebahagian model berfikir keagamaan ulamanya pada tokoh-tokoh dimaksud; Saudi Arabia, Kuwait, Emirat, Qathar misalnya. Belakangan terlihat ganjil, terutama kalau sudah menyangkut hubungan politik-ekonomi luar negeri dan dalam negeri mereka. Sedikit banyaknya, seringkali mengikis dinding-dinding teologis yang mestinya dipelihara dan dijaga jangan sampai terkoyak.

Namun lagi-lagi, itu tidak dapat dijadikan alasan untuk menolak berbagai kiprah dan khidmat mereka pada dunia Islam yang tanpa pandang bulu. Di samping setiap negara memiliki dapur strategi masing-masing, juga memiliki target-target capaian yang diinginkan oleh negara-negara tersebut. Yang jelas, harus jujur diakui khidmat mereka sangat tinggi dalam mencerdaskan anak negeri. Adapun soal dapur negara, semua memiliki rahasia yang satu sama lain berbeda sifatnya, jadi kita tidak perlu sok banyak tahu tentang itu, melainkan sekedarnya saja.

Kembali ke perkara dasar ajaran agama, yakni Tauhiidullaah, selama ini berjalan secara wajar. Kitab-kitab yang dijadikan rujukan kajian sudah sangat popular di seantero jagat raya. Bahkan, semangat dakwah tauhid ini begitu merambah dan melaju dengan cepatnya sulit ditahan dari kejaran para pencari Tuhan dan pencari kebenaran. Maraknya sekolah, pondok pesantren, ma’had ‘aliy, fakultas-fakultas dan lembaga-lembaga yang berafiliasi pada ajaran dakwah tersebut kian gegap gempita berlomba memenuhi ruang kosong negeri. Ini adalah anugerah yang patut disyukuri, bukan air bah membahayakan yang patut diwaspadai, dan dicurigai.

Namun tentu saja, selain sudah “tahu sama tahu”, tentang model dan pedoman (manhaj) masing-masing yang berbeda, terlebih berkenaan dengan pentingnya nilai kesenyawaan dan kearifan sebagai anak bangsa yang dirasakan belum clear 100%. Kondisi semacam ini, perlu kesabaran dan ketelatenan dalam menunggu perubahannya. Mereka harus dibina dengan baik, bukan dibinasakan, karena mereka pun aset bangsa.

Masalahnya, tak semudah membalikkan telapak tangan, karena amalan masyarakat luas, kebinekaan tradisi sudah menjadi bagian kehidupan yang tak terpisahkan. Solusinya adalah, semua gerakan Islam yang ada penting memahami dan menyadari bahwa nilai-nilai “ke-Islaman” yang dipegang teguh, harus ditimbang pula dengan nilai-nilai “ke-Indonesiaan” kita. Karena itu, jangan salahkan substansi ajarannya, tapi bagaimana kita membangun sinergi dengan pola-pola hikmah, melepaskan claim identity sebagai satu-satunya pewaris yang berhak menentukan kebenaran, dan memulai hidup terbuka untuk kedamaian bersama tanpa mengorbankan keyakinan agama yang dipegang teguh itu.

Diakui atau tidak, sangat tergantung pada kejujuran nurani. Bukankah selama ini, jalinan kebersamaan memadu kasih damai sesama anak bangsa sudah banyak dijalin; para kyai lintas ormas dan gerakan dakwah sudah banyak berkumpul, para pimpinan pondok sudah sering berdiskusi, lembaga-lembaga Islam internasional sudah banyak mengundang, para pelajar pondok dari berbagai jenis keyakinan sudah bisa saling menimba ilmu. Apalagi setelah dibukanya keran penerimaan beasiswa oleh negara-negara Muslim, di antaranya Saudi Arabia yang sering disebut “markaznya Wahabi” itu. Bahkan dengan sangat cerdas, ulama senior Nahdhatul Ulama Prof. Dr. KH. Ali Musthafa Ya’qub, M.A. yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal menguraikan temuannya dalam susunan kitabnya Al-Wahabiyyah wa Nahdhatul Ulama bahwa titik temu itu benar-benar ada dan nyata antara keduanya. Di samping itu, beliau mengikhtiarkan agenda perjumpaan para Kyai dengan Fadhilatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz sebagai Mufti Kerajaan Saudi Arabia kala itu (1987).

Karenanya, sungguh tidak fair dan tentu sangat menodai kemuliaan ratusan intelektual di seluruh persada Nusantara ini, kalau semua bentuk keonaran yang tercela dan sangat dilarang agama selalu dialamatkan pada dakwah yang mulia secara pukul rata. Koq bisa dakwah Tauhid yang begitu mulia itu, menjadi obyek tuduhan yang membabi buta?. Tentu sangat tidak keren sekali !!! … “Attauhiidu awwalan tsumma ghairuh … Wallaahu yahdiinaa ilaa sabiilir rasyaad


*) Goresan ini ditulis dengan semangat pencerahan dan penuh kedamaian, di atas armada bis menuju kota intan Garut, hari Kamis, tertanggal 01 April 2021 [waktu dhuha] dalam rangka menghadiri launching buku: K.H. Aceng Zakaria; Ulama Persatuan Islam di STAIPI Garut Jawa Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!