Senin, Juli 15MAU INSTITUTE
Shadow

NYOROG ELMU PEMBENAHAN DIRI BERSAMA “ANAK JOHAR BARU” (Ta’ziyah Atas Wafatnya H. Soewardi Sulaiman)

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Siapa yang tidak kenal sosok H. Soewardi Sulaiman? Pria Betawi tulen kelahiran Johar Baru 1948 ini; Selain dikenal “asal jeplak”, sikapnya yang tegas terkesan “keras”, wibawa dan pembawaan dirinya pun membuat ketar ketir orang yang mengajak bicara dengannya. Namun, dibalik sikap cadasnya itu, ternyata beliau memiliki jiwa lembut yang tersembunyi [al-‘athiifah al-mustatiirah]. Beliau sering menuturkan sendiri, “Gue ini keliatannya aje keras, hati gue sebenarnya putih bersih seputih salju”, ujarnya sambil terkekeh.

Di sela-sela usianya yang telah memasuki 75 tahun, gelora semangatnya masih menggebu-gebu setiap kali diajak diskusi soal pentingnya kader perjuangan. Menurutnya, sumpah setia yang telah diikrarkan dalam “Bai’at Perjuangan” jam’iyyah untuk mewakafkan diri, hendaknya dipegang teguh dengan penuh komitmen oleh semua aktivis dakwah. Karena hal itu merupakan kata kunci kedisiplinan yang paling penting.

“Jangan mau jadi orang bodoh terus!!!”, tegasnya demikian. Narasi ini menjadi filosofi hidupnya dalam menuntut ilmu dan pengembangan diri sejak dirinya mulai sadar dan belajar agama kepada K.H. Eman Sar’an yang diakuinya sebagai orang tua. Maka tidaklah heran, pria yang hanya lulus SMA Ksatrya tahun 1970-an ini diberi gelar oleh para junior dan para stafnya dengan julukan M.Pd. yang mengandung makna “Mau Perbaiki Diri”.

Selama memimpin jam’iyyah Persatuan Islam DKI Jakarta pasca wafatnya Al-Ustadz Drs. H. Fauwzi Nurwahid Sar’an, dirinya dikenal sosok pedas kalau sudah mengkritik para ustadz yang menurutnya kurang sungguh-sungguh dalam pengembangan jamaah dan kaderisasi. Ketika al-faqir bertanya: “Rumus apakah yang membuat sebuah gerakan jam’iyyah bisa maju, berwibawa dan punya ‘peurah’ [baca: kekuatan]?” Jawabnya spontan, tidak pakai lama: “Jam’iyyah itu wajib diurus oleh orang-orang yang mau berjuang, bukan sekadar ngaji saja”. Dalam pandangannya, ada lima bentuk pengorbanan sebagai rumus kesuksesan bagi para aktivis dalam berjam’iyyah; 1) korban waktu, 2) korban tenaga, 3) korban pikiran, 4) korban harta, dan 5) korban perasaan.

Ketika ditanyakan, “Pedoman apakah yang menjadi penguat jiwa untuk menjadi kader militan dalam berjam’iyyah?” Tokoh Palang Merah Indonesia [PMI] Jakarta Pusat selama 25 tahun ini mengaku, sejak belajar memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah, tidak berhenti dirinya selalu memohon kepada Dzat Maha Pemberi “Agar dirinya menjadi orang baik, jujur dan komitmen dalam perjuangan”.

Sekalipun terbata-bata membacanya, Direktur PT Hadico Persada, Direktur Karya Imtaq Travel Jakarta, Ketua Pembina Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu (YPKLS), Ketua PW. Persatuan Islam DKI Jakarta [2018-2023], dan Penasehat PW Persatuan Islam DKI Jakarta [2023-2028] ini menyodorkan empat landasan teologis berupa ayat suci yang menjadi prinsip dasar perjuangan hidupnya; 1) Quu anfusakum wa ahliikum naaran; “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …”, 2) Kabura maqtan ‘indallaahi an taquuluu maa laa taf’aluun; “Alangkah besar dosanya di sisi Allah kalian mengatakan sesuatu yang kalian tidak melakukan …”, 3) Tahsabuhum jamii’an wa quluubuhum syattaa; “Kalian sangka mereka bersatu padu sementara hati mereka centang perenang …”, dan 4) Hadits Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Qulil haqqa wa lauw kaana murran; “Katakan olehmu yang benar sekalipun terasa pahit …”

Sebelumnya beliau sempat dirawat di RS Pusat Otak Nasional [PON] Cawang Jakarta Timur, kemudian menjalani aktivitas kesehariannya sebagaimana layaknya orang sehat, bahkan sempat memberikan sambutan pada acara “Targhib Ramadhan 1445 H.” keluarga besarnya di aula Perguruan Ksatrya. Kini Sang tokoh dikabarkan meninggalkan kita semua [Senin, 15 April 2024, jam 00.01 WIB.] setelah sebelumnya menjalani perawatan kembali di RSCM Salemba dan dilanjutkan di Radjak Hospital Salemba Jakarta Pusat.

Semoga Allah ‘azza wa jalla menerima segala amal baiknya, diampuni segala kekhilafannya, dan semua bentuk pengorbanan dalam perjuangan da’wah ilallaah-nya menjadi pewarisan nilai bagi generasi berikutnya. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun … Allaahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu … Aamiin yaa Rabbanaa.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!