BULAN AKAL SEHAT DAN BULAN BERSIH HATI (Memetik Hikmah Tarbiyah dan Tazkiyah)

BULAN AKAL SEHAT DAN BULAN BERSIH HATI (Memetik Hikmah Tarbiyah dan Tazkiyah)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Tiada bulan yang lebih mulia selain bulan ramadhan; Bulan yang sejak diturunkannya kewajiban shaum benar-benar memiliki panduan apik dengan karakteristik seruannya yang khas. Karena keunggulannya itu, maka bulan ini pun diberi gelar induknya semua bulan (sayyidus syuhûr).

Diawali dengan panggilan baik nan indah (husnun nidâ) يا أيها الذين آمنوا yang menunjukkan bahwa objek yang diseru, bukanlah manusia sembarangan, melainkan orang-orang beriman. Berikutnya disodorkankan pula penggalan informasi pengalaman perjalanan ummat masa lampau yang juga sama-sama menunaikan shaum, terwujud dalam kalimat كما كتب على الذين من قبلكم. Lalu ayat pembuka ini pun ditutup dengan kalimat penutup yang indah pula (husnul intihâ) dengan menjelaskan hikmah di balik disyari’atkannya shaum, لعلكم تتقون yaitu menjadi peribadi-peribadi yang bertakwa (Lihat: QS. Al-Baqarah/ 2: 183).

Kemudian disusul dengan keharusan dan harapan-harapan lainnya; in kuntum ta’lamûn, la’allakum tasykurûn, laallahum yarsyudûn dan laallahum yattaqûn menjadi kalimat yang dipilih sekaligus mewakili tujuan yang ingin dicapai mengapa seseorang harus menjalani shaum (Lihat: QS. Al-Baqarah/ 2: 184 – 187).

Gegap gempitanya penyambutan ramadhan begitu berasa, memunculkan kesadaran hakiki tanpa dipaksa (inshâf). Drastisnya perubahan sikap manusia yang ditandai dengan berlombanya daya amal yang tinggi (tanâfus, hirsh), disertai peningkatan-peningkatan lainnya yang mengarah pada perjuangan total dengan gelora jiwa yang membara (ghîrah). Semua itu, menunjukkan antusiasme untuk mewujudkan ramadhan sebagai madrasah tarbiyah semakin berasa dan beraroma.

Terbinanya kembali nilai keimanan (tarbiyah îmâniyyah), tumbuhnya kembali nilai spiritual (tarbiyah rûhiyyah), tergugahnya kembali sensitivitas sosial (tarbiyah ijtimâiyyah), hidupnya kembali moralitas (tarbiyah akhlâqiyyah) dan bangkitnya kembali semangat berjuang (tarbiyah jihâdiyyah) menjadi tanda-tanda utama adanya pergerakkan massif dan terstruktur untuk mencapai optimalisasi ramadhan yang berkualitas, sehingga ramadhan benar-benar dirasakan sebagai bulan yang mendorong akal sehat , mental yang kuat dan moral yang terpuji.

Dalam hal ini, ulama senior kontemporer Syaikh Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawy berhasil menguraikan ragam manfaat shaum sebagai hikmah tarbiyah dan tazkiyah sekaligus dalam kitabnya Al-‘Ibâdah Fiel Islâm sebagai berikut:

1. Membentuk ketahanan rohani (rûhani); yaitu dengan ibadah shaum, manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya.

2. Menyehatkan jasmani; yaitu dengan menjalankan ibadah shaum seseorang dapat mengatur dan menertibkan fungsi perut, di mana kurangnya memelihara perut dan mengisinya secara berlebihan bisa menimbulkan penyakit.

3. Mendidik kesabaran; yaitu tahan banting terhadap berbagai godaan. Ketika seseorang mampu menciptakan daya tahan menghadapi kesulitan, berarti dia akan mampu menumbuhkan daya juang untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang lebih kompleks.

4. Menguatkan kemauan; yaitu ketika seseorang mampu mengatasi berbagai kesulitan, maka semakin mendorong dirinya meningkatkan kemauan untuk berjuang.

5. Mengenal nikmat Ilahy; yaitu seseorang akan lebih menyadari akan nikmat yang dianugerahkan Allah ‘azza wa jalla kepadanya seiring hilangnya nikmat itu sendiri dari tangannya setelah seharian menunaikan ibadah shaum.

6. Mendidik perasaan santun dan belas kasihan; yaitu seseorang akan turut merasakan betapa lapar dan dahaganya orang-orang lemah dan miskin setelah dia merasakan dari pengalamannya selama shaum.

7. Latihan berserah diri; yaitu apabila seseorang menjalankan ibadah shaum, maka hal ini dapat menumbuhkan loyalitas ketaatan dan kepatuhan serta kedisiplinan.

Bahkan, banyak saksi medis dari para ahli dan ilmuwan yang telah membuktikan risetnya, betapa ibadah shaum sangat mempengaruhi terhadap kesehatan seseorang. Sekedar menunjukkan contohnya, di antara ilmuwan yang memberikan kesaksiannya adalah:

1. Dr. Allan Coutt yang menceritakan: “Menahan nafsu makan dan mengaturnya dapat mendatangkan 27 pangkal kesehatan yang paling baik.” (Lihat: H.Z.A. Ahmad, Bunga Rampai Ajaran Islam 9/ 161)

2. Dr. Dakar (Pakistan) menyebutkan: “Ibadah shaum tidak akan merubah keseimbangan cairan badan, berat badan dan kadar gula secara berarti.” (Ahmad Sanoesi, Bunga Rampai Ajaran Islam 14/ 109)

3. Dr. Yuri Nikolayev (Ahli penyakit jiwa di Moskow) menceritakan: “Pengalaman selama 30 tahun menghadapi lebih 10.000 pasien, maka dapat disimpulkan bahwa membatasi macam makanan (atau diet semacam itu) sangat menolong bagi pengobatan para penderita penyakit.” (H.Z.A. Ahmad, Bunga Rampai Ajaran Islam 9/ 161)

Subhânallâh … tabârakallâh … Semua itu sangatlah nyata, betapa ibadah shaum merupakan ibadah yang penuh mashlahat. Jangankan kemashlahatan hidup di hari kemudian, bahkan mengarungi kehidupan dunia fana sekalipun. Karena itu, shaum menjanjikan hidup sehat lahir dan batin; sehat akal fikirannya, sehat pula jasmani (fisik, khalq) dan mental kejiwaannya (psikis, khulq). Wallâhu a’lam bis shawwâb
______________

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAI Persatuan Islam Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*