Jumat, Oktober 30MAU INSTITUTE
Shadow

MERDEKA ITU INDAH NAMUN TIDAK MUDAH

MERDEKA ITU INDAH NAMUN TIDAK MUDAH
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien


Luapan rasa gembira bagi seluruh anak bangsa di mana pun adalah sesuatu yang wajar dan tidak salah, karena keinginan hidup merdeka adalah fithrah insâniyyah setiap jiwa manusia. Terlebih, bagi mereka yang telah turut merasakan pahit getirnya penjajahan.

Manusia dicipta dan dilahirkan ke muka bumi, pada dasarnya benar-benar murni bersih dan memiliki hak merdeka. Namun semua itu bisa berubah, hak menikmati hidup merdeka bisa terganggu dan bisa saja tidak berpihak pada dirinya, ketika banyak unsur-unsur lain yang menghalanginya. Kondisi ibu yang mengandung, bapak yang seharusnya menjaga, apabila keduanya tidak stabil dapat berpengaruh pada putera mereka yang akan lahir nanti. Demikian pula dengan lahirnya sebuah bangsa.

Karenanya, mengharapkan fithrah merdeka tidaklah cukup sebatas harapan, melainkan harus diiringi dengan ikhtiar yang benar-benar dilakukan. Tanpa ada keinginginan untuk menjaga dan memeliharanya, mustahil jalan mulus terbentang menuju kemerdekaan yang sebenarnya dapat diwujudkan.

Kaum cerdik pandai mengisyaratkan dalam untaian kalimat emasnya: “Tidak ada hasil yang memuaskan tanpa adanya kerja keras dan perjuangan. Tidak ada hasil dari perjuangan dan kerja keras yang tidak menghasilkan apa-apa. Siapa yang menginginkan mutiara, maka ia harus berani terjun di dasar lautan yang dalam, karena mutiara tidak mungkin melayang di atas permukaan.”

Sewaktu mengaji di pondok-pondok, selama belajar atas bimbingan guru-guru berwibawa di kampung halaman, seringkali kita mendengar nasihat berupa kata-kata penuh hikmah (mahfûzhat) seperti berikut::

لا نجاح مع ضعف التوكل وغياب الاستعانة … ولا نجاة مع اتباع الهوى وإيثار الراحة …

Tidak ada keberhasilan dalam perjuangan seiring lemahnya tawakkal dan ketiadaan isti’anah (memohon pada Allah) … Dan tidak ada kesuksesan seiring mengikuti hawa nafsu dan lebih mementingkan hidup santai.”

ترجو النجاة ولم تسلك مسالكها … إن السفينة لا تجري على اليَبَس

“Engkau mengharapkan keberhasilan namun tidak memperdulikan cara menempuhnya … (Ingatlah) sesungguhnya bahtera itu tidak dapat berlayar di atas daratan kering kerontang !!!”

Berpedoman pada wahyu, berkaca pada zaman dan berpijak pada pengalaman sejarah, bahwa di antara rentangan zaman yang diperlukan dalam mewujudkan cita-cita kebangkitan dan pembebasan, minimalnya 50 tahun seperti halnya dibentangkan Dr. Majid ‘Irsan al-Kilani dalam buku terbaiknya Hakadza Zhahara Jîl Shalâhiddîn wa Hakadza ‘Adat al-Quds yang diterjemahkan Asep Sobari menjadi: Model Kebangkitan Umat Islam (2019). Buku ini menjelaskan terkait upaya 50 tahun gerakan pendidikan dalam melahirkan generasi sekaliber Shalahuddin al-Ayyubi dalam merebut kembali dan membebaskan Palestina dari cengkrama pasukan salib.

Artinya, jalan panjang setengah abad, bukanlah waktu yang disia-siakan dalam menyiapkan generasi tangguh yang diberikan bekal jihad ilmu dan ilmu jihad yang benar-benar matang. Jihad ilmu adalah segudang kesiapan ilmu pengetahuan dan kecerdasan yang dipersiapkan secara maksimal, dan ilmu jihad berarti mempersiapkan strategi dan ketangkasan yang mumpuni dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi dalam menyambut kemenangan dan kemerdekaan.

Proses demi proses tersebut sangat jelas terlihat dalam isyarat wahyu yang agung; mulai dari kemenangan yang sudah dekat atau kemenangan antara (fathan qarîban), hingga kemenangan nyata yang sebenarnya (fathan mubînan) atau dalam bahasa lain pertolongan yang kuat (nashran ‘azîzan). Gugusan indah ayat-ayat tersebut dapat kita tadabburi sebagaimana berikut:

لَّقَدْ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِى قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَٰبَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al-Fath/ 48: 18)

Pada ayat sebelumnya disebutkan:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS. Al-Fath/ 48: 1)

وَيَنصُرَكَ ٱللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

“Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat.” (QS. Al-Fath/ 48: 3)

Selain itu, ada keberuntungan yang lain yang akan didapatkan dengan sangat menggembirakan, yakni keberuntungan alam akhir yang memuaskan dan tidak dapat dirasakan selama hidup di dunia. Hal ini diperuntukkan bagi mereka yang berhasil sukses dalam menjalankan keta’atan pada Allah dan rasulNya selama mengisi kehidupan ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

لِّيُدْخِلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّـَٔاتِهِمْ ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عِندَ ٱللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا

“Supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah.” (QS. Al-Fath/ 48: 5)

Lalu dikuatkan dalam ayat lain dengan surat yang berbeda sebagai berikut:

وَمَن  يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Dan siapa yang mentaati Allah dan rasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat keberuntungan yang sangat besar.” (QS. Al-Ahzâb/ 33: 71)

Sesuai makna asalnya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan: Merdeka artinya bebas dari penghambaan, penjajahan dan lain-lain; berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu atau leluasa. (Lihat: https://kbbi.web.id/merdeka.html)

Ketika kemerdekaan manusia sebagai makhluq dan hamba dikaitkan dengan Allah ‘azza wa jalla sebagai satu-satunya Tuhan pencipta, maka apa yang telah didefinisikan oleh manusia-manusia mulia seperti halnya Khalifah Umar bin Khatthab, Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash dan Juru bicara Rib’i bin ‘Amir radhiyallâhu ‘anhum pada perang Qadisiyyah ketika menghadapi Jendral Rustum dari Imperium Persia sangatlah benar, bahwa makna pembebasan adalah:

جئنا لنخرج العباد من عبادة العباد إلى عبادة رب العباد، ومن ضيق الدنيا إلى وسعتها.

“Dengan idzin Allah, Kami datang untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama manusia menuju penghambaan kepada Rabbnya manusia, dari sempitnya dunia menuju keluasannya.”

Demikian pula dengan kemerdekaan negeri tercinta, apa yang termaktub dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinea 3 sudah benar adanya: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Sekali merdeka, tetap merdeka … Hasbunallâh wa ni’mal wakîl … Ni’mal maulâ wa ni’man nashîr … Allâhu Akbar … Allâhu Akbar … Allâhu Akbar
__________

*) Tulisan ini alfaqîr sajikan sebagai bahan kajian (16-17 Agustus 2020) di Masjid Wadhhah ‘Abdurrahman Al-Bahr Pusdiklat Dewan Da’wah Tambun Selatan Bekasi, Ngaji Shubuh (Ngasuh) Jamaah Persatuan Islam Jakarta Timur di Masjid Jami’ Penggalang Matraman Jakarta dan Kuliah Dhuha di Masjid As-Syuhada Kota Harapan Indah Bekasi Kota

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com