Oleh: Teten Romly Qomaruddien

“Anak muda, janganlah antum ragu menyampaikan kebenaran dari sumbernya; Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka [orang kafir dan pengikutnya] saja berani menyampaikan gagasannya, masa kita yang menyampaikan kebenaran tidak berani melakukannya. Namun satu saja syaratnya, antum harus yakin!!”. Itulah saat perjumpaan dengan “pria pejantan” yang mewarisi dialektika Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan dan Tuan Ahmad Hassan kalau sudah terlibat dalam diskusi. Pertemuan tersebut bukanlah tanpa sebab, sebelumnya Guru kami Al-Ustadz Abdul Wahid Alwi menelpon kami yang tengah berada di acara Simposium Nasional tentang “Mewaspadai Bahaya Paham Komunisme Gaya Baru” [Juni 2016] bersama Panglima TNI Jendral TNI Gatot Nurmantyo [saat itu]. Via handphone Ustadz Wahid mengabarkan: “Antum ditunggu di kantor, ada tamu istimewa”. Sesampainya di tempat, rupanya tamu yang dimaksud adalah Al-Ustadz Muhammad Thalib yang telah siap memberikan nasihat dan berbagi pengalaman dakwahnya.
Pria produktif yang menulis buku Syarah Masaailul Jaahiliyyah dengan terjemahan “Membersihkan Diri dari Kepercayaan dan Perilaku Jahiliyah”, buku tsaqafah “Melawan Upaya Penghancuran Islam di Indonesia” [sebanyak 3 jilid] dan “Pluralisme Agama”, penulisan Mushhaf Al-Qur’an dengan model “Tarjamah Tafsiiriyyah”, juga penulisan buku-buku “kacang goreng” [saking larisnya] tentang keluarga dan bimbingan praktis, kini dipanggil ke haribaan Allah ‘azza wa jalla dengan membawa bekal sebongkah amalan, segudang pengalaman, keringat perjuangan yang patut menjadi keteladanan bagi generasi dakwah berikutnya.
Sebuah kisah menarik dan heroik tentang apa yang pernah Ustadz M. Thalib lakukan, yaitu ketika menghadapi para Doktor dan Guru Besar Tim penulis “Fiqih Lintas Agama” dari Paramadina yang digelar di aula UIN Syarif Hidayatullah Jakarta [awal tahun 2000-an]. Dengan berondongan pertanyaan Ustadz M. Thalib yang “mematikan” lawan debatnya, membuat para pembicara kewalahan untuk menjawabnya. “Dari judul cover bukunya saja sudah salah”, sergahnya memulai pembicaraan. “Mengapa buku ini diberi judul “Fiqih Lintas Agama?, sementara isinya meremehkan fiqih Islam dan tidak memuat sedikit pun fiqih-fiqih agama lain, justru sebaliknya hanya menelanjangi fiqih para ulama madzhab Ahlus Sunnah sekaliber Imam As-Syafi’i rahimahullaah, bukankah judulnya fiqih lintas agama? Harusnya di dalamnya ada perbandingan fiqih Yahudi, fiqih Nashrani, fiqih Hindu, fiqih Budha, dan lain-lain”.

Berikutnya, Ustadz M. Thalib melanjutkan serangan narasinya: “Andaikan ilmu para pemateri ini diikat dan dikumpulkan menjadi satu, jangankan dibandingkan dengan ilmunya Imam As-Syafi’i, bahkan dibandingkan dengan “kotorannya” saja tidak akan sebanding”. Untaian kalimat “makjleb” ini yang membuat suasana menjadi hening dan membuat semua pemateri kebingungan untuk menjawab. Itulah sekelumit kisah unik yang diputar kembali di hadapin kami mengenang perjalanan dakwah mujaadalah-nya lima tahun silam. Kisah tersebut membuat kami kagum akan keberaniannya dan sekaligus sangat menghormatinya. Di kemudian hari [tahun 2004] debat publik itu diabadikan oleh Majelis Mujahidin dalam tulisan lengkap berupa buku yang berjudul “Kekafiran Berfikir Sekte Paramadina”.
Terlepas pro kontra orang menilai suatu cara berdialog, istifaadah yang bisa diambil dari sosok seorang M. Thalib adalah keteguhannya dalam bersikap, berprinsip akan kebenaran, serta ketangkasannya dalam berargumen mengingatkan setiap pemangku dakwah pada nasihat Syaikhul Mujaddid Muhammad bin ‘Abdul Wahhab At-Tamimi rahimahullaah [1115-1206 H.] ketika menafsirkan QS. Al-An’aam [6] ayat 112 berikut ini: “Terkadang musuh-musuh Tauhid itu memiliki banyak ilmu, beragam pustaka dan berbagai ketangkasan argumen [QS. Al-Mukmin/ 40: 83], maka wajib menghadapi mereka.dengan memahami Agama Allah dan menjadikan hujjah-hujjah Allah serta berbagai keterangannya dalam mengalahkan mereka. Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah dan seorang awam yang ahli Tauhid bisa mengalahkan seribu orang musyrik.” (Lihat: Kasyfus Syubuhaat, tp. thn, hlm. 9)
Kini singa dakwah itu telah meninggalkan kita, setelah sebelumnya sempat dirawat di RSUP Sardjito Yogyakarta dan wafat pada hari Senin, 28 September 2026 [jam 19.30 WIB.]. Semoga Rabbul ‘Aalamiin menempatkannya pada maqaaman mahmuudan dan kita yang masih hidup mampu mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari amal dakwahnya. Allaahummaghfirlahu war hamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkhalahu
Penulis adalah: Peserta Mudzakarah 1000 Ulama yang diselenggarakan Majelis Mujahidin [05 Agustus 2018] dengan Tema: “Peran Islam dalam Menjaga Kedaulatan NKRI dan Meneguhkan Kepemimpinan Islam” di Gedung ‘Aisyah Kota Tasikmalaya Jawa Barat
