Kamis, September 17MAU INSTITUTE
Shadow

GORESAN HIKMAH UNTUK HADIAH ILMIAH YANG PENUH HIKMAH

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Sebahagian para junior anak didik telah menghaturkan hadiah terbaiknya; Mulai dari: Pemikiran Pendidikan Mohammad Natsir [Dr. Ceceng Wildan Hasan], Filsafat Bahasa Dalam Era Digital [Dr. Rijal Arham], Selamatkan Indonesia dengan Dakwah [Dr. Dwi Budiman], Konsep Toleransi Dakwah Mohammad Natsir [Dr. Lukman Ma’sa], Teologi Mu’tazilah Abad Ini [Dr. Imam Taufiq al-Khothob], Ahmadiyah di Indonesia; Data & Fakta [Rahmat Ramadhan, Lc., M.H.], Patah Tak Tumbuh Hilang Tak Berganti [Kumpulan Tulisan Tokoh Masyumi Oleh Hadi Nur Ramadhan], Menyemai Akidah Memetik Akhlak [Terjemahan Al-‘Aqiidah as-Shahiihah wa Atsaruhaa fis Suluuk Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Mankabo Oleh Aan Handriyani, M.Ag.], Goat Of Da’wah Mohammad Natsir My Roman Empire [Tim Penulis: Wildan Hasan, Noufal al-Zahra, Aldy Istanzia Wiguna, Imanuddin Kamil, Mahmud Faaz, Agung Aditya Subhan, Rahmat Ramadhan] dan beberapa karya rekan sejawat seperti halnya Artawijaya, serta rekan lainnya yang belum disebutkan.

Malam ini [Sabtu, jam 19.30 WIB.] sepulang menunaikan amanah dakwah dari Pangalengan Bandung Jawa Barat, bingkisan berupa paket telah siap menyambut. Subhaanallaah, sungguh hadiah yang indah, sebuah buku berjudul Epistemologi Sunnatullah; Kajian Tafsir Tematik Multidisipliner karya Dr. Uus Mauludin sangat menantang untuk dibaca. Tentu saja, bagi para junior yang belum “menyetor” karyanya, sebagai Guru dengan senang hati akan membacanya dan siap istifaadah terhadap kandungan isi bukunya.

Setelah sedikit jeda rehat sambil menurunkan keringat, dengan penuh semangat al-faqir pun menyempatkan waktu untuk membacanya sebagaimana membaca buku-buku lainnya. ‘Alaa kulli haal, salah satunya buku hadiah yang dikirim terakhir ini memiliki kesimpulan bahwa di dalamnya merupakan sebuah ajakan untuk lebih memahami kandungan makna “sunnatullaah” yang lebih komprehensif dan integral dengan pendekatan tafsir tematik multidisipliner. Memang benar, Al-Qur’an sebagai bahasa wahyu merupakan teks yang hidup dan sangat membutuhkan beragam perspektif dalam memahaminya.

Wahyu sebagai cahaya langit dan akal sebagai cahaya bumi, maka pencarian dan penemuan dari dua cahaya tersebut menjadi modal utama manusia untuk bisa dipercaya sebagai khaliifatullaah fil ardh. Dalam bahasa yang berbeda, menurut buku ini: “Ada dua sayap yang harus selalu tumbuh secara seimbang dalam pencarian pengetahuan; Sayap iman dan sayap ilmu. Iman tanpa ilmu dapat menjelma fanatisme, sedangkan ilmu tanpa iman dapat melahirkan keangkuhan. Bila keduanya berpadu dalam bingkai sunnatullah, maka lahirlah insan yang beradab, mengenal Tuhannya, memahami alam ciptaan-Nya dan mampu memakmurkan bumi dengan ilmu yang penuh hikmah.”

Dengan terkirimkannya beragam hadiah ilmiah dari para anak didi ini, memacu kembali adrenalin intelektual dalam penjelajahan khazanah keilmuan formal akademik yang telah sekian lama tertunda. Bukan berarti tidak pernah belajar lagi, melainkan belajar di balik layar cakrawala hamparan ilmu tanpa ruangan kelas. Bagaikan menemukan mutiara terpendam, kiriman berharga tersebut benar-benar memotivasi diri untuk mengejar ketertinggalan. Benar para ahli hikmah menasihatkan: al-‘ilmu yu’taa wa laa ya’tii; “Ilmu hanya bisa didatangi, dan ia tidak akan bisa datang sendiri”. Para murid … terima kasih, kalian telah menginspirasi!! Allaahu nuurus samaawaati wal ardhi

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!