Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Bersyukur malam ini [Ahad, 9/08/2026], bisa menghadiri acara “Malam Ta’aakhi” bersama rekan-rekan peduli Palestina; Tidak ada kata lelah, apalagi bosan untuk membincangkan perkara yang teramat penting, yakni “Palestina Merdeka”. Suasana semakin hangat dan bergairah ketika pertemuan ini dihadiri langsung oleh Syaikh Dr. Marwan Abu Ros [Lajnah Al-Quds] bersama aktifis lainnya dari Persatuan Ulama Palestina. Sejumlah tokoh nasional dari para pimpinan Ormas Islam dan pegiat kemanusiaan pun turut hadir di Al-Jazeera Cipinang Cempedak Jakarta Timur pada malam yang penuh berkah ini.
Sudah menjadi rahasia Allah ‘azza wa jalla, di balik peristiwa demi peristiwa yang terjadi mengenai bumi qiblat pertama ini, selalu ada kuasa-Nya yang senantiasa memberikan jawaban terhadap sikap manusia; Antara siapa yang masih peduli dan siapa yang kurang, bahkan tidak peduli sama sekali terhadap saudaranya. Semuanya itu tentu berpulang kepada sejauhmana keterpanggilan jiwa dan kepahaman seseorang tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi. Setiap jiwa yang masih hidup, tentu masih memiliki tanggung jawab untuk bisa melakukan sesuatu yang bisa dilakukan. Kalau pun tidak bisa menyalakan lampu Al-Aqsha, setidaknya terlibat dalam menyokong minyaknya agar pelita itu tetap menyala.
عَنْ مَيْمُونَةَ مَوْلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَقَالَ ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ وَكَانَتْ الْبِلَادُ إِذْ ذَاكَ حَرْبًا فَإِنْ لَمْ تَأْتُوهُ وَتُصَلُّوا فِيهِ فَابْعَثُوا بِزَيْتٍ يُسْرَجُ فِي قَنَادِيلِهِ
Dari Maimunah, budak sahaya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya dia pernah berkata, “Wahai Rasulullah, berilah fatwa kepada kami tentang Baitul Maqdis?” Maka Nabi menjawab dengan sabdanya, “Datangilah ia dan shalatlah di dalamnya”. Ketika itu di negeri tersebut terjadi peperangan, “Jika kalian tidak dapat shalat di dalamnya, maka utuslah seseorang dengan membawa minyak untuk dinyalakan di tempat-tempat pelitanya.” (HR. Abu Dawud, no. 386).

Sebagaimana dijelaskan Syaikh Marwan, dalam perkembangan terakhir di kawasan Gaza tidak kurang 56.000 anak-anak telah menjadi Yatim, 17.000 para istri telah menjadi Janda dan ribuan anak kecil lainnya yang masih selamat namun mereka ditinggalkan keluarganya dan hidup sendirian. Ribuan rumah mereka hancur lebur, sehingga harus tinggal di tenda-tenda yang tidak bisa menahan teriknya panas dan melawan dinginnya cuaca. Selain sulitnya Tim medis untuk masuk ke kawasan ini, juga diperparah dengan ketiadaan fasilitas sanitasi, membuat semakin menyebarnya penyakit kulit [eksim] yang menyerang umumnya penduduk.
Pasca perdamaian BOP, menurutnya media mereka telah banyak berbohong kalau di Gaza tidak ada lagi genocida. Karena itu, dengan adanya pembukaan blokade seperti yang dilakukan dalam gerakan Global Sumud Flotilla [GSF] yang merupakan inisiatif maritim sipil internasional untuk menembus blokade laut Israel di Jalur Gaza. Gerakan ini membawa ribuan relawan dan bantuan kemanusiaan berupa makanan, air bersih, serta obat-obatan dari berbagai manca negara. Semakin banyak kapal atau perahu yang melakukan ekspedisi dan menembus blokade, semakin terbongkar aib dan kebobrokkan mereka di mata internasional.
Dengan semangat kemerdekaan bangsa Indonesia di bulan Agustus ini, Syaikh Marwan mengajak kepada segenap orang yang masih peduli: Filisthiin kulla yauwmin … Wa haadzihi majaalul ‘amal lil qariib wal ba’iid. “Tiada hari tanpa perjuangan Palestina … Ini adalah ladang amal kita, baik umat yang dekat dengan Al-Aqsha maupun yang jauh darinya”. Kami sedang menggalakkan hari ini seruan ukhuwwah dan ihtimam, yakni memperhatikan nasib para pejuang yang masih bertahan di Gaza dengan segala kemampuan yang dimiliki mereka. Dengan tekanan kalimat meninggi, setelah gempa besar “Thuufan al-Aqshaa” bagi Israel, maka puluhan gerakan semisal sumud ini bisa menjadi gempa besar bagi Israel berikutnya.

Ketika Syaikh Marwan ditanya tentang sikap pro dan kontra kaum Muslimin dalam masalah perang yang melibatkan Amerika, Israel dan Iran, serta dampaknya bagi Timur Tengah. Terlebih dihubungkan dengan masalah ‘aqidah, maka Syaikh menjawab: “Masalah ‘aqidah itu sangat penting, namun saat kita memiliki musuh bersama tidak elok dan kurang tepat apabila agenda fokus kita keluar dari prioritas yang seharusnya kita hadapi. Mengenai masalah sektarianisme [seperti halnya kemunculan Khawarij dan Syi’ah], merupakan masalah yang telah terjadi dalam sejarah sejak berabad-abad lamanya. Sekali lagi, kita tidak boleh keluar dari fokus kita membela Palestina.
Terkait pentingnya persatuan ulama umat, Syaikh Marwan menegaskan: “Mempersatukan ulama sama halnya dengan menyatukan negara, saat ulamanya bersatu maka negara pun bersatu. Mempersatukan ulama berarti mempersatukan pandangan para ulama, ketika ulama terjadi perbedaan maka mereka wajib mengembalikan perbedaan pandangannya kepada pokok yang disepakati [yakni menyelamatkan al-Aqsha hukumnya wajib sebagaimana isyarat al-Qur’an dan as-Sunnah]”.
Sejak tahun 1970-an, Allaahu yarhamh Dr. Mohammad Natsir telah mengingatkan: “Bahwa kita akan mampu menghadapi Israel dan sekutunya hanya dengan ‘aqidah Islamiyah. Tetapi, menurutnya, bukan ‘aqidah Islamiyah yang di bawah bibir, yang kosong daripada amal. ‘Aqidah Islamiyah yang dimaksud adalah ‘aqidah yang beramal, yang inter-Islamic sekurang-kurangnya, kalau tidak internasional. Karena itu, kata Natsir, “kita harus melihat bahwa masalah Palestina bukanlah masalah lokal, bukanlah masalah orang Arab, bukanlah semata-mata masalah teritorial, tapi adalah masalah Islam dan umat Islam seluruhnya”.
“Satu darah dan satu ukhuwwah”, demikian jargon ini terus dikumankangkan. Satu darah, berarti sama-sama darah kaum Muslimin. Sedangkan satu ukhuwwah, adalah persatuan iman yang wajib selalu dipersatukan. Di balik kemerdekaan Negara Indonesia, ada andil mereka dalam perjuangan bangsa. Demikian pula di balik perjuangan mereka, selalu ada tanggung jawab kita bersama. Kalaulah kita belum mampu membebaskannya, setidaknya jangan pernah redupkan api semangat para pejuangnya!! Allaahummanshuril Muslimiina fii Filisthiin wa fii kulli buldaanil Muslimiin.

Alhamdulillah. Jazaakumullahu khar Tadz. Mohon izin share