Kamis, April 30MAU INSTITUTE
Shadow

PENGHUJUNG RAMADHAN YANG MENDEBARKAN

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Ramadhan 1447 H tahun ini, dihadapkan dengan kenyataan yang sedang tidak biasa-biasa saja. Bukan karena persoalan perbedaan tanggal dan hari memulai ibadah shaum yang perkara itu sudah menjadi konsekuensi perbedaan fiqih penanggalan antara yang berpatokan pada kesatuan tempat melihat [wihdatul mathaali’] atau perbedaan tempat melihat [khilaaful mathaali’] dengan beragam teorinya; melihat dengan mata telanjang [ru’yah bil ‘ain], penghitungan dengan menetapkan hilal sudah muncul [hisab wujuudul hilaal], penghitungan dengan menetapkan kemungkinan hilal bisa terlihat [hisab Imkanur ru’yah], menetapkan kesaksian secara global [ru’yah ‘aalamiyah] atau perhitungan Kalender Hijriyah Global Tunggal [KHGT] yang semuanya itu telah diketahui bangunan argumennya. Namun hal ini, lebih didasarkan pada perkara lain yang berpengaruh pada keamanan dan kenyamanan dalam beribadah. Beragam ujian kini tengah dipertontonkan seakan menggoda ketabahan dan memainkan emosional orang-orang beriman yang sedang khusyu’ dan khudhu’ dalam menjalankan ibadah shaum; Mulai dari ujian berskala nasional, regional, hingga geopolitik global.

Dari persoalan gizi anak bangsa, perilaku elit yang tidak seharusnya terjadi, hingga kebablasan dalam menafsirkan ajaran agama begitu sangat gencar dalam pemberitaan nasional [baik media elektronik maupun digital]. Dalam tataran regional, kekompakan negara-negara Muslim kawasan pun diuji dalam menyikapi “perdamaian Gaza Palestina” ala agresor abad ini. Selain itu, pelanggaran hukum internasional sebagai buntut dari gagalnya diplomasi Israel-Amerika dengan Iran telah menyeret ketegangan negara-negara minyak untuk terlibat dalam perang global yang sengaja diciptakan.

Dalam keheningan malam ke-29 ini, dengan hitungan jari hari dan malam mulia Ramadhan akan segera berakhir. Kaum muslimin yang seyogianya lebih memaksimalkan amaliah detik-detik malam akhir, menjadi tercuri perhatiannya. “Malam perpisahan” sebagai bukti cinta seorang hamba terhadap Rabb-nya, menjadi terganggu konsentrasinya dikarenakan beragam situasi yang terus menari di hadapan. Semua itu mengingatkan kita akan kebenaran do’a Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang sejak awal mencontohkan untuk memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla agar rembulan yang datang bukan hanya memberikan kebaikan [khairin] dan petunjuk [rusydin] semata, melainkan keamanan dan keselamatan semesta. Imam At-Turmudzi meriwayatkan hadits dari shahabat Thalhah bin ‘Ubaidillah radhiyallaahu ‘anh berikut ini:

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ كانَ إذا رَأى الهلالَ قالَ اللَّهمَّ أهلِلهُ علَينا باليُمنِ والإيمانِ والسَّلامَةِ والإسلامِ ربِّي وربُّكَ اللَّهُ

“Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, apabila melihat rembulan [hilal], beliau membaca: Ya Allah, semoga hilal yang muncul kepada kami hilal yang membawa rasa aman dan semangat iman, membawa keselamatan dan semangat Islam. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” (HR. At-Turmudzi 3451, Ahmad 1397, Ad-Darimi 1730, Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Turmudzi 3451).

Terlebih bulan mulia Ramadhan, sebagaimana dikuatkan ulama Tabiin bernama Yahya bin Abi Katsir [w. 132 H.] yang lebih menegaskan dengan menyebut secara verbal bulan Ramadhan dalam do’anya:

اللهم سلمنا لرمضان وسلم رمضان لنا وتسلمه منا متقبلا

“Ya Allah, selamatkan kami untuk dapat menunaikan ibadah Ramadhan dan selamatkan bulan Ramadhan untuk kami. Semoga Engkau menerima amal ibadah kami.” (Imam At-Thabarani meriwayatkan dalam bab Ad-Du’aa 912 dan Imam Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’laamin Nubalaa’ 51/ 19 menyebut dengan lafazh Allaahumma sallimnii li ramadhaana)

Dua bentuk do’a tersebut sangat selaras apabila dihubungkan dengan berbagai situasi yang ada; Saat kaum Muslimin dihadapkan dengan kondisi tidak menentu yang mengancam keamanan [al-amnu, al-yumnu] dan keselamatan [as-salaamah] seperti halnya chaos, perang dan fitnah-fitnah zaman lainnya, maka kedua permohonan ini telah mengawalnya sejak awal. Sudah tentu berdo’a semata tidaklah cukup, apabila tidak menjadikan bulan mulia sebagai ajang kemanfaatan dan momentum perubahan. Kesempatan demi kesempatan Ramadhan tidak digunakannya secara optimal, sehingga waktu-waktunya bergulir secara mubadzir. Meminjam nasihat Syaikh Fauwzan bin Shalih al-Fauwzan rahimahullaah:

فإن من أدرك شهر رمضان، ومكّنه الله من الانتفاع به،فقد أنعم الله عليه نعمة عظيمة لا يعدلها شيء

“Siapa saja yang mendapati bulan Ramadhan dan Allah ‘azza wa jalla memberi kepadanya kesempatan untuk mengambil manfaat darinya, maka sungguh Allah telah memberikan kepadanya nikmat teramat besar yang tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu apapun.” (Lihat: Majaalis Ramadhan, hlm. 11).

Di sela bunyi detak dan degupnya jantung yang berdebar, mengantarkan jiwa yang papa di hadapan Rabb-nya sembari lirih mengucapkan Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii, bermunajat meminta maaf atas segala salah dan dosa yang pernah dilakukan. Juga berkata kepada diri sendiri, “Akankah Rabbul ‘Aalamiin menerima amal hamba-Nya?” … Yang jelas, dengan segala kemurahan-Nya Ramadhan demi Ramadhan akan senantiasa menyapa di setiap tahunnya, memberikan kesempatan pada setiap jiwa yang inshaaf akan posisi dirinya tanpa memperdulikan situasi dan kondisi yang tengah terjadi. Sungguh benar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melukiskan, “Cinta sejati hanya bisa diketahui saat perpisahan tiba”. Almahabbatu laa tu’rafu ‘umquhaa illaa saa’atal firaaq

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!