Minggu, September 19MAU INSTITUTE
Shadow

ALLAH ITU FA’AALUN LIMAA YURIID

ALLAH ITU FA’AALUN LIMAA YURIID
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Qaddarallaah … Harusnya hari ini menunaikan tugas di Jakarta; di samping ada pertemuan, ada agenda lain juga di kampus tercinta. Namun, ngak jadi dikarenakan rapatnya telah diganti dengan zoom meeting dan kampus yang dituju sedang menjalankan sterilisasi kesehatan.

Agenda pun berubah … Beres-beres rumah dan menertibkan buku-buku jadi pilihan. Seperti biasa, kalau benahi buku terkadang sering tercuri pandangan dengan hal-hal yang dianggap menarik hingga gagal fokus pada agenda semula. Kalau tidak larut membaca judul-judul buku, atau melirik pernak-pernik unik yang ditemukan di laci lemari atau pun di sela-sela lembaran-lembaran kitab.

Kali ini, kedua mata tersorot pada sobekan kertas tanpa identitas bertuliskan kata-kata indah mempesona. Setelah dibaca bolak-balik dan diingat-ingat, nampak tulisan tersebut milik salah satu anakku. Lalu kembali dieja, kutemukan mutiara di dalamnya ada bait syair tanpa nama. Ternyata, bait syair tersebut miliknya sang penyair besar Abu Thayyib Al-Mutanabbi yang wafat tahun 354 H.

Akhirnya, pikiran ini pun melayang ingatan pada seorang Guru Besar Sastra di Ummul Qura Makkah bernama Prof. Dr. Abdullah bin Ahmad al-‘Athas yang pernah mengajarkan syair-syair tokoh dimaksud. Adapun kitab-kitab susunannya yang pernah dibagikan waktu itu (tahun 2009), di antaranya Diraasatul Adabi al-‘Arabi dan Al-Masrihul Madrasi Fil Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Su’uudiyyah. Bahkan, melalui beliaulah aku dan rekan-rekan berkesempatan masuk ke gedung pertunjukkan sastra Naadi Makkah yang ada di tengah-tengah kota.

Kembali pada sobekan kertas anakku, di mana tertulis di dalamnya (entah murni kata-katanya atau catatan kajian seseorang dan lainnya), kusadur ulang apa adanya seperti salinan ini:

“Ada sebuah ucapan, atau ungkapan yang sering kita dengar, “Tajrir riyaah bimaa laa tasytahis sufun; Terkadang angin tertiup, tidak sesuai dengan keinginan nelayan”. Tapi, bagaimana seorang Muslim menghadapi hal itu? Ketahuilah bahwa semua taqdir Allah Subhaanahu wa Ta’aala pasti baik buat kita, karena Allah tidak bertindak melainkan tindakannya berdasarkan ilmu dan hikmah. Apa pun yang menimpa, apa pun yang terjadi dengan keluarga, dengan anak-anak, dengan usaha kita. Katakanlah: qaddarallaah maa syaa-a fa’ala.

Kemudian, dalam sobekan itu berlanjut: “Seorang Muslim mengatakan, itu taqdir Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan Allah bertindak sesuai apa yang Ia kehendaki, fa’aalun limaa yuriid … Dan dalam semua kondisi, seorang Muslim harus berada di antara dua hal; Nikmat yang Allah berikan kepada dia, dia bersyukur dan mushibah yang datang kepada dia, dia bersabar. Itulah kunci kebahagiaan seorang hamba ketika hidup di muka bumi ini.”

 

Setelah membaca potongan sobekan tersebut, bergegas kucari versi lengkap syair Al-Mutanabbi tadi, alhamdulillaah ketemu:

ما كل مايتمنى المرء يدركه … تجري الرياح بما لاتشتهي السفن

“Tidak semua apa yang diidam-idamkan seseorang itu dapat diraih … Terkadang angin laut itu tertiup tak sesuai dengan harapan sang nelayan.”

Sungguh indah, sangat menyentuh dan penuh dengan muhaasabah diri syair ini. Semoga asa yang kita citakan menjadi buah harapan di masa datang. Namun dengan penuh sadar, aral melintang kerapkali datang menghadang. Benar para ulama menasihatkan, shabar itu ada dua macam; shabar atas ujian yang kita senangi dan shabar atas cobaan yang tidak kita senangi. Di situlah hakikat ujian iman. Allaahu yahdiinaa sabiilar rasyaad

____

✍️ Goresan jentik jemari ini dihaturkan sebagai tadabbur di kolom Hikmah MadrasahAbi-Umi.Com (Selasa, 05 January 2021. Bakda ‘ashar Jelang maghrib)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!