Minggu, September 19MAU INSTITUTE
Shadow

MENUJU TAUHID YANG MENYATUKAN DAN MENGGERAKKAN (Ikhtiar Memotret Peta Manhaj ‘Aqiedah Persatuan Islam)

MENUJU TAUHID YANG MENYATUKAN DAN MENGGERAKKAN (Ikhtiar Memotret Peta Manhaj ‘Aqiedah Persatuan Islam)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

A. Pengantar

Bermula dari sebuah ungkapan bernada wasiat bagi rekan-rekan muda di lingkungan jam’iyyah: “Ke depan, Persatuan Islam harus sudah memiliki rumusan-rumusan baku dalam pelbagai permasalahan ‘aqiedah. Sifat dan karakteristik ahlus sunnah wal jamaa’ah yang disepakati dalam perspektif jam’iyyah menjadi sangat penting adanya, hal ini harus segera diwujudkan di mana ummat sangat membutuhkan pengetahuan tentang perbedaan antara ahlus sunnah dengan firqah-firqah lain yang semakin menjamur. Apa yang dilakukan oleh ulama-ulama lain dengan beragam temuannya bagus juga untuk diambil faidahnya”. Demikian disampaikan langsung oleh K.H. Abdul Lathif Muchtar, M.A. kepada penulis di sela-sela istirahat Simposium Nasional “Mengapa Kita Menolak Syi’ah” di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat tertanggal 21 September 1997.

Pesan seperti ini menjadi sangat penting untuk dijadikan catatan, di mana menjamurnya beragam gerakan dakwah dengan segala manhaj (baik ‘aqiedah , atau pun harakiyyah) yang ditawarkan sedikit banyaknya mempengaruhi cara pandang beragama masyarakat, khususnya ummat jam’iyyah. Maka untuk mewujudkan sebuah jam’iyyah yang benar-benar menjunjung tinggi ‘aqiedah, jamaa’ah dan imaamah (meminjam bahasa K.H. M. Isa Anshari), lahirnya pedoman baku yang dapat dijadikan rujukan, menjadi sebuah keniscayaan.

Karena itu, wawasan al-jamaa’ah dalam kehidupan berjam’iyyah menjadi ikhtiar yang harus diwujudkan demi terciptanya bunyaanun marshuush. (Petikan narasi yang sering disampaikan K.H. Shiddiq Aminullah dan K.H. Entang Muchtar, ZA.)

B. Makna Kembali Kepada Dua Pusaka

Merupakan kata kunci sikap beragama para tokoh jam’iyyah ini, adalah “kembali pada dua pusaka”. Hal ini dapat dicermati dari beberapa pandangan yang mewakili tokoh-tokohnya, di antaranya: K.H. Moenawar Chalil dalam kitabnya Kembali Kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah (1956: hlm. v) yang memaparkan bahwa: “Sungguh-sungguh mengikuti pimpinan al-Qur’an dan as-Sunnah di segala bidang kehidupan, terutama dalam bidang hukum-hukum Islam.”

Dalam kitab yang hampir mirip, judulnya Makna Kembali Kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karya K.H. A. Zakaria (2011: hlm. Pengantar) lebih ditegaskan lagi bahwa kembali kepada dua pusaka maksudnya: “Mempedomani al-Qur’an dan as-Sunnah dengan perangkat ilmu yang benar.” Demikian penulis buku ini menegaskan uraiannya.

C. Al-Islaamu Huwas Sunnah; Was Sunnatu Huwal Islaam

Laksana dua sisi mata uang yang tidak terpisah, ketika membicarakan Islam maka sudah pasti membincang Al-Qur’an dan As-Sunnah. Atau ketika disebut sunnah, berarti membincang Islam secara keseluruhan. Karenanya, para ahli ilmu memberikan kesimpulan, di antaranya:

  1. Perkataan “Al-Islaamu huwas sunnah, was sunnatu huwal Islaam; Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam”, merupakan ungkapan emas Al-Imam Al-Ajuri (Pemilik kitab As-Syarii’ah)
  2. Perkataan “Al-i’tishaamu bihablillaahi najaatun kasafiinati Nuuh, fa man rakiba najaa wa man ba’uda aghraqa; Berpegang pada tali Allah ‘azza wa jalla laksana naik ke bahtera Nabi Nuh ‘alaihis salaam. Siapa yang bersegera naik maka dia selamat, siapa yang menjauh (dengan sengaja melambatkan diri) maka bersiaplah untuk tenggelam”, merupakan ungkapan Imam Ibnu Syihab az-Zuhri [seorang shighaarut taabi’in 51-124 H.])
  3. Perkataan “Al-‘ilmu qaalallaahu wa qaala Rasuuluh wa qaalas shahaabatu hum ulul ‘irfaan … Mal ‘ilmu nashbuka lil khilaafi safaahatan bainar Rasuuli wa ra’yi fulaan; Hakikat ilmu itu firman Allah dan sabda rasulNya, juga pandangan shahabat Rasul karena memang mereka ahli ilmu … Bukanlah ilmu, engkau menyandarkan pandanganmu pada silang pendapat orang-orang dungu yang suka membanding-bandingkan sang Rasul dengan pandangan seseorang”, merupakan ungkapan pemilik kitab Nuuniyyah Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah [691-751 H.])

D. Ahlus Sunnah wa Ahlul Jamaa’ah

Apabila dicermati dari sisi perkembangannya, maka akan terlihat dengan jelas bahwa istilah ahlus sunnah dan ahlul jamaa’ah, juga ahlus sunnah wal jamaa’ah mengalami proses yang panjang melintasi zaman. Beberapa data menyebutkan:

  1. Sebutan al-jamaa’ah, al-ghuraba, thaaifah manshuuriin, dan firqatun naajiyah (berdasarkan hadits 73 golongan). Semua itu lebih popular di masa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Sebutan ahlus sunnah di masa Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallaahu ‘anh, untuk menyebut perbedaan dengan pihak lain yang mengagungkan hawa nafsu (ahlul ahwaa). Atau sebutan ahlus sunnah wal jamaa’ah di masa Imam Abul Hassan al-Asy’ari (Baghdad) dan Imam Abu Manshur al-Maturidi (Samarqand), yang dari keduanya melatar belakangi lahirnya Asy’ariyyah dan Maaturidiyyah. Berikutnya, pandangan Imam Az-Zabidi dalam Syarah Ihya Uluumid Diin yang memutlakkan keduanya sebagai pemilik otoritas ahlus sunnah wal jamaa’ah.
  3. Lahirnya Madrasah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (abad 7 H.) di Damascus Syria dan Madrasah Syaikhul Mujaddid Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (abad 12 H.) di Nejed Jazirah Arabia. Yang dari keduanya lahirlah gerakan muhyi atsaris salaf, yakni menghidupkan kembali ajaran para salaf. Kemudian disusul pada zaman berikutnya gerakan pembaharuan Islam Syaikh Muhammad Rasyid Ridha di Mesir (murid Syaikh Muhammad ‘Abduh) yang satu sama lain ada irisan, walau pun sebenarnya berbeda. Di satu sisi ada kesamaan dalam hal ruh pembaharuannya, namun di sisi lain ada diskursus rasionalitas yang masih terus menjadi perdebatan para ahli teologi.

E. Siapakah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah?

Pertanyaan ini menjadi sangat penting untuk dimunculkan, sehubungan terjadinya tarik menarik dan adanya klaim sepihak. Karenanya, secara sederhana paparan singkat para ulama terkemuka layak direnungkan:

  1. Ada tiga kata dalam jumlah kalimat tersebut; ahlun, sunnah, dan jamaa’ah. Dikatakan ahlun, mengandung makna ‘asyiirah, yakni keluarga atau penduduk. Seseorang disebut ahlu Makkah, karena orang tersebut penduduk kota Makkah yang mengetahui seluk beluk isi kota itu. Demikian pula dengan yang lainnya (Pandangan Ahlul Qamus dan Mu’jam semisal Imam Ibnu Manzhur rahimahullaah). Artinya, apabila dikatakan ahlus sunnah wal jamaa’ah, adalah mereka orang-orang yang memahami seluk beluk as-sunnah dan berpegang pada prinsip-prinsip al-jamaa’ah; yakni mengikuti Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.
  2. Pandangan Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah yang menyebutkan bahwa: “Penamaan ahlus sunnah wal jamaa’ah bukanlah perkara baru, ia sudah ada sejak sebelum Allah ‘azza wa jalla menciptakan Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Syafi’i rahimahumullaah”. Yang ternyata, pandangan ini bukan tanpa sandaran, melainkan bersumber pada penuturan shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu anh ketika menafsirkan QS. Alu ‘Imraan/ 3: 106 (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Tafsiir al-Qur’aanil ‘Azhiim: 1, hlm. 535)

F. Persatuan Islam dan Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah

Ada banyak pandangan para ahli, yang berkaitan dengan makna ahlus sunnah wal jamaa’ah. Apakah istilah ini lebih pada makna sifat atau nama golongan, bahkan dua-duanya. Di antara pandangan tersebut adalah:

  1. “Ahlus Sunnah wal jamaa’ah, kebalikannya dari ahlul bid’ah wal firqah.” (Dipetik Syaikh Abdus Salam bin ‘Abdul Kariem dalam kitabnya Al-Jamaa’ah wal Firqah Li Syaikhil Islam Ibni Taimiyyah (1995).
  2. “Telah datang perintah bersatu, agar tidak lepas dari al-jamaa’ah. Maksudnya adalah agar tidak lepas dari al-haq dan senantiasa mengikutinya sekalipun sedikit yang berpegang padanya, sedangkan yang menyalahinya sangat banyak, sebab al-haq itulah yang dipegang al-jamaa’ah yang pertama kali pada zaman Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Dan janganlah terpengaruh oleh banyaknya ahli bathil sesudah mereka.” (Dipetik K.H. E. Abdurrahman dalam Recik-recik Dakwah, 1993: hlm. 83 dari perkataan Abu Syamah [guru Imam Nawawi] dalam kitab Al-Baahits ‘alaa Inkaaril Bida’ wal Hawaadits)
  3. “Bahwa ahlus sunnah wal jamaa’ah itu ialah orang atau kelompok orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta menjauhkan diri dari syirik dan bid’ah.” (Keputusan Sidang Dewan Hisbah pada tanggal 27 Muharram 1416 H./ 26 Juni 1995 M. di Bandung)

Dalam memaknai istilah mulia tersebut, ulama-ulama Persatuan Islam lebih memaknainya dengan makna sifat; baik sifat perorangan atau sifat kelompok. Yang jelas, berpegang teguh pada Kitabullah dan sunnah nabiNya, serta menghindari syirik dan bid’ah menjadi karakteristiknya.

G. Peta Manhaj ‘Aqiedah Persatuan Islam

Sekedar memotret seperti apa peta manhaj ‘aqiedah Persatuan Islam, tanpa bermaksud mendahului (karena belum ada sidang khusus terkait masalah ini), maka potret ini setidaknya menjadi perhatian para penuntut ilmu. Beberapa hal penting yang dapat dipelajari adalah sebagai berikut:

  1. Terkait sumber hukum Islam; Al-Qur’an dan As-Sunnah benar-benar diyakini sebagai sumber petunjuk (mashdarul hudaa) yang disepakati (muttafaq ‘alaih). Demikian pula dalam perkara ‘aqiedah.
  2. Wilayah ‘aqiedah merupakan ranah keyakinan yang bersifat baku (qadhiyah tauqiefiyyah), berbeda dengan wilayah fiqih yang memerlukan anasir lain sebagai sumber ijtihad dalam Islam; ijma‘, qiyas, mashlahah mursalah, istihsaan, saddud dzariiah, dan lain-lain yang oleh sebahagian ulama masih diperselisihkan (mukhtalaf ‘alaih).
  3. Dengan kedudukan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber petunjuk, maka keduanya menjadi landasan ‘aqiedah Islamiyah menurut Persatuan Islam, di mana Ahlus sunnah wal jamaa’ah menjadi bingkainya.

H. Menuju Kesamaan Literasi Manhaj ‘Aqiedah Persatuan Islam

Dalam usianya menuju genap memasuki 100 tahun (1923-2021), sudah tentu lahirnya panduan khusus (manhaj khaashshah) terkait ‘aqiedah, adalah sesuatu yang sangat dirindukan. Karenanya, gagasan segera diterbitkannya kitab Risalah Tauhid yang diprakarsai Komisi ‘Aqiedah Dewan Hisbah, akan menjadi souvenir indah yang sangat dinantikan oleh ummat, khususnya warga jam’iyyah.

Namun, belum hadirnya panduan risalah tauhid yang disepakati, tidak berarti selama ini mengabaikan prinsip-prinsip dasar ‘aqiedah. Justru dalam prakteknya, kitab-kitab daras tauhid seperti halnya Al-‘Ubuudiyyah, Iqtidhaaus Shiraathil Mustaqiim Limukhaalafati Ashhaabil Jahiim, Al-Furqaan Baina Auwliyaair Rahmaan wa Auwliyyaais Syaithaan, Al-Furqaan Bainal Haq wal Baathil, Al-‘Aqiedatul Wasithiyyah dan karya-karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah lainnya kerapkali menjadi rujukan para asatidz di Pesantren Persatuan Islam.

Demikian pula dengan Kitaabut Tauhiid, Masaailul Jaahiliyyah, Fadhlul Islaam, Kasyfus Syubuhaat dan karya-karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan berbagai versi syarahnya. Di antaranya Fathul Majiid oleh Syaikh Abdurrahman Aalu as-Syaikh atau pun Al-Qaulul Mufiid Syaikh Muhammad Shalih al-‘Utsaimin. Adapun yang populer belakangan, kitab ‘Aqiedatut Tauhiid karya Syaikh Shalih bin Fauzan dan Mujmal I’tiqaad A’immatis Salaf karya Syaikh Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turky atau Al-Walaa’ wal Baraa’ karya Syaikh Al-Qahthaany.

Selain itu, ada juga yang menjadikan rujukan Al-Wahyul Muhammadiy Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, Aqidah Islam Syaikh Sayyid Sabiq dari Al-Azhar Mesir, ‘Aqiedatul Mu’min Syaikh Abu Bakar al-Jazaairy, Al-‘Aqiedatu Fiellaah Syaikh Umar Sulaiman al-Asyqar dan Mukhtasharul Aqiedah al-Islaamiyyah Syaikh Thariq Suwaidan.

Kepedulian terhadap ilmu ‘aqiedah ini pun ditunjukkan oleh ulama perintis dan sejumlah tokoh senior, serta barisan asatidz muda dari kader-kader jam’iyyah saat ini. Di antara literasi internal yang dapat ditemukan adalah:

  1. Kitab At-Tauhid (Tuan A. Hassan, 1966)
  2. Adakah Tuhan? (Tuan A. Hassan, 1969)
  3. Kembali Kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah (K.H. Moenawar Chalil, 1955)
  4. Parasit Aqidah (Al-Ustadz A.D. Elmarzdedeq, tp. tahun)
  5. Aqidah Islam Dumasar Qur’an Jeung Hadits (K.H. Muh. Syarief Sukandi, 1991)
  6. Mengenal Manhaj As-Salaf Dalam Aqidah (Al-Ustadz Dahlan Bashri At-Thohiry, 1411 H.)
  7. ‘Ilmut Tauhied 1, 2 dan 3 (Al-Ustadz A. Zakaria bin Ahmad Kurkhi, 1988 dan 1995)
  8. Makna Kembali Kepada Al-Qur’an & As-Sunnah (K.H. A. Zakaria, 2011)
  9. Kumpulan Keputusan Sidang Dewan Hisbah Persatuan Islam (PERSIS) Tentang ‘Aqidah (Tim Dewan Hisbah, 2008)
  10. Thuruq al-Istinbaath; Metodologi Pengambilan Hukum [perhatikan tentang rumusan ‘aqiedah] (Tim Dewan Hisbah, 2018)
  11. Risalah Tauhid (Komisi Aqiedah Dewan Hisbah, [masih proses])
  12. Risalah Aqidah (Teten Romly Qomaruddien, dkk., 2019)
  13. Pengantar Memahami Aqidah Islam (Romly Qomaruddien Abu Yazied, 2009)
  14. Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah; Menyingkap Makna Meluruskan Istilah (Teten Romly Qomaruddien, 2017)
  15. Kuliah ‘Aqidah dan Manhaj (Teten Romly Qomaruddien, 2018)
  16. Karena keterbatasan pencarian, mungkin masih ada literasi lain yang belum dimasukkan.

I. Penutup

Itulah potret garis besar terkait peta manhaj ‘aqiedah Persatuan Islam dalam pandangan penulis yang faqir ilmu; Sekalipun jauh dari sempurna dan tidak mewakili tokoh-tokoh ulamanya, paling tidak ada gambaran untuk mengantarkan mubaahatsah kita dalam berbagai kesempatan yang penuh berkah dalam membersamai jama’ah.

Kepada Allah ‘azza wa jalla jualah kita memohon bimbingan dan tambahan ilmuNya yang bermanfaat. Semoga dengan menggeliatnya kembali pengkajian ‘aqiedah dengan berbagai perspektifnya dalam memetakan makna “kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah” dapat mengantarkan pada ikhtiar menuju Tauhid yang menyatukan dan menggerakkan. Camkan baik-baik, sesungguhnya ilmu Tauhid adalah “asyraful ‘uluum”, yakni semulia-mulianya ilmu yang berhubungan langsung dengan keimanan ummat manusia terhadap Rabbul ‘Aalamiin. Rabbanaa zidnaa ‘ilman warzuqnaa fahman … Allaahumma faqqihnaa fid diin


Penulis adalah: Anggota DH PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Anggota LDK dan Anggota Komisi Pengkajian & Penelitian MUI Pusat, Ketua Bidang Kajian & Ghazwul Fikri Dewan Da’wah, Mudier ‘Aam PPI 81 Cibatu Garut, dan Ketua Prodi KPI STAIPI Jakart

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!