Minggu, September 19MAU INSTITUTE
Shadow

BERENANG DI DUA MUARA KEBERKAHAN

BERENANG DI DUA MUARA KEBERKAHAN
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Terhitug sejak diputuskannya itsbat Ramadhan 1442 H. oleh pemerintah melalui Kemenag RI, hari ini Jum’at tertanggal 16 April 2021 adalah hari keempat Ramadhan kita. Hari ini pula tercatat sebagai jum’atan pekan pertama kaum Muslimin di seluruh dunia.

Jum’at bertemu jumat, Ramadhan bertemu Ramadhan. Dua momentum indah untuk berharap didengarnya beragam permohonan, permintaan, bahkan keluhan. Di samping pujian dan sanjungan, hari ini juga waktu yang tepat untuk munaajat, yakni menyodorkan keinginan dan menepis segala kesempitan.

Gugurnya dosa dan kesalahan terjaminkan di hari ini, sekalipun yang dihapus bukanlah dosa-dosa besar (kabaair), melainkan dosa-dosa kecil (shaghaair) sebagaimana sabda Rasul panutan:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat yang lima waktu, Jum’at sampai bertemu Jum’at, Ramadhan sampai berjumpa Ramdhan dapat menghapus dosa yang dilakukan, selama terhindar dari dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhaa).

Fadhilatus Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz rahimahullaah berkomentar terkait hadits ini, yang menurutnya jumhur ahli ilmu mengatakan bahwa yang dihapus itu adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar seperti meninggalkan shalat, meninggalkan shaum, meninggalkan zakat dan lain-lain tidak termasuk yang dimaksud hadits ini. (Lihat: Majmu’ Fatawaa Ibnu Baz dalam Tweet resminya).

Namun demikian di hari ini, mengalirnya keutamaan ibadah jum’at yang bersenyawa dengan bulan mulia Ramadhan sungguh perpaduan yang sangat indah di mana dua keberkahan berada pada satu muara yang bersamaan.

Jum’at dengan sederet keutamaan, dan Ramadhan dengan beragam aliran kebaikan. Keduanya saling melengkapi menghiasi orang-orang beriman yang menjalankan agamaNya. Keringnya tenggorokan karena haus, baunya mulut, dan laparnya perut membuat keikhlasan dan ketulusan jiwa jauh lebih berasa dibanding dengan hari-hari biasanya. Terlebih di hari Jum’at yang di dalamnya ada waktu-waktu afdhal untuk mengajukan permohonan.

Dalam Ash-Shahiihain terdapat keterangan bahwa Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh menuturkan perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“فِيْهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا.”

“Di hari jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permohonannya akan dikabulkan. Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” (Shahih al-Bukhari 1/ 224 dan Shahih Muslim 2/ 584)

Khabar ini tentunya masih mengundang tanya, walau pun sebagian ulama telah berupaya memberikan penjelasannya. Bisa jadi, semua ini memberi pelajaran betapa keseluruhan waktu di hari ini sangatlah mulia. Dengan tidak disebutkan waktu khusus, menjadi motivasi bahwa menyia-nyiakan kesempatan di hari mulia merupakan sesuatu yang merugi.

Namun demikian, Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menuturkan pandangannya dalam kitab Zaadul Ma’aad (1/ 389), bahwa waktu yang dimaksud adalah bakda ‘ashar. Menurutnya, pandangan ini pula yang dipegang para salaf. Adapun yang dijadikan alasan adalah sabda Rasul berikut:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Hari jum’at itu dua belas jam. Tak ada seorang Muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud 6/ 12 dan An-Nasai 3/ 99-100 dari shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anh)

Itulah dua muara keberkahan yang dimaksud, semoga apa yang menjadi asa dan harap, benar-benar menjadi indah pada waktunya. Tak akan lari cita dikejar, selama ikhtiar dan iman pada qadarNya menjadi pegangan. Allaahumma innaa nas’aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa kulla ‘amalin maa yuqarribunaa ilaa hubbika … “Yaa Allah, kami memohon padaMu anugerah cintaMu dan cinta siapa pun orang yang mencintaiMu, serta (anugerahkan dari sisiMu untuk kami) segala amal yang bisa mendekatkan kami akan cintaMu.” Aamiin yaa Mujiibas saailiin


✍🏻 Artikel ini Al-Faqir tulis di waktu dhuha pada hari Jum’at, 16 April 2021 (04 Ramadhan 1442 H.) jelang menuju tempat tugas jum’ah di Masjid Bina Ilmu Kayumanis Matraman Jakarta Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!