Rabu, Mei 13MAU INSTITUTE
Shadow

SABIILUL MU`MINIIN VERSUS SABIILUL MUJRIMIIN; KEMANAKAH ARAH PERJALANAN UMAT DIARAHKAN?

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Barisan yang mendukung kebenaran dan barisan yang mendukung kebatilan senantiasa ada dalam kehidupan perjalanan manusia; Keduanya saling berhadap-hadapan, beradu pengaruh dalam menarik simpatik seiring kecondongan manusia terhadap salah satunya. Para ulama dan pemegang amanah dakwah biasa menyebutnya dengan menggunakan narasi pertarungan antara hak dan batil [as-shiraa’ bainal haq wal baathil]. Mereka yang mengharapkan kebaikan, sudah tentu akan memilih barisan yang pertama. Sedangkan mereka yang condong terhadap kerusakan lebih memilih barisan yang kedua. Adapun yang sulit membedakan keduanya, dengan sendirinya berada dalam kebingungan. Tidaklah kebingungan itu terjadi pada diri manusia, melainkan mereka yang mengabaikan ilmu dan tidak berupaya mendapatkannya.

Saat manusia tidak mengetahui duduk perkara suatu masalah, maka ketidaktahuannya merupakan sesuatu yang dimaklumi. Namun, saat manusia melakukan penyimpangan setelah datangnya ilmu kepada mereka [baik mencari tahu dengan sendirinya atau diberi pengetahuan oleh pihak lain], maka perkara demikian merupakan penentangan yang disengaja. Meminjam bahasa wahyu a-andzartahum am lam tundzirhum laa yu’minuun; “Kamu beri peringatan mereka atau tidak diberi peringatan, mereka tetap tidak beriman”. Di sinilah peran al-amru bil ma’ruuf wan nahyu ‘anil munkar berlaku bagi setiap Muslim. Dengan datangnya perkara baik, maka kebenaran akan muncul. Demikian pula, dengan hilangnya perkara munkar, maka kebatilan akan sirna. Al-Qur’an mengisyaratkannya dengan kalimat jaa’al haqq wa zahaqal baathil.

Agar manusia senantiasa berpijak pada kehidupan yang baik, Allah ‘azza wa jalla menurunkan para Nabi dan Rasul di setiap zamannya sebagai pemandu dan pembimbing terhadap umatnya. Aturan yang telah Allah ‘azza wa jalla tetapkan, itulah yang disebut syir’ah. Sedangkan apa yang dibimbingkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai keteladanan, itulah yang disebut dengan minhaaj. Dengan keduanya, manusia menjadi tahu dan paham, bahwa hakikat pengetahuan yang pertama dan utama untuk diketahui adalah ilmu tentang Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah, para ulama menyebut dua pedoman utama tersebut [yakni Kitaabullaah dan Sunnah] sebagai sumber petunjuk [mashdarul hudaa].

Sejarah menunjukan, siapa yang memelihara dan membela ajaran Allah dan Rasul-Nya berarti mereka itulah ahlul haqq. Siapa yang dengan sengaja mengobarkan peperangan terhadap keduanya berarti merekalah ahlul baathil yang sengaja berdiri tegak sebagai penentang keduanya. Mereka adalah orang-orang yang berusaha merusak, memerangi dan membuat kerusuhan di muka bumi sebagaimana digambarkan dalam ayat-Nya [QS. 5: 33].

Sebagai contoh, pihak-pihak yang secara aktif memerangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin antara lain kaum kafir Quraisy dan musyrikin Mekkah yang menyiksa, mengusir dan memerangi umat Islam sejak awal dakwah digaungkan hingga berbagai perang besar di Madinah [Perang Badar, Uhud, dan Khandaq]. Berikutnya kaum Munafiqin yang berpura-pura Islam namun berkhianat bergunting dalam lipatan dan bekerja sama dengan musuh untuk menjatuhkan kaum Muslimin. Tidak terkecuali kalangan Yahudi dan Nashrani, serta Kabilah Arab dan pihak-pihak yang melanggar perjanjian damai [seperti pelanggaran terhadap Piagam Madinah] dan membantu para sekutu untuk menyerang Madinah.

Keberadaan orang yang mengikuti petunjuk [ar-rusyd] dan orang yang mengikuti kesesatan [al-ghayy] sungguh telah jelas dipaparkan dalam Al-Qur’an; Siapa pun yang mengingkari thaaguut [segala sesuatu yang menyimpang dan keluar dari jalan Allah ‘azza wa jalla] dan beriman hanya kepada Allah, berarti mereka itulah orang-orang yang berpegang pada al-‘urwatul wutsqaa, yakni ikatan tali Allah yang sangat kokoh dan tidak terputus. Sementara mereka yang senang menyombongkan diri, berbuat kerusakan dan lalai akan mengingat ayat-ayat Allah, mereka itulah yang lebih senang memilih jalan kesesatan dan penyimpangan [sabiilul ghayy] dari pada memilih jalan petunjuk [sabiilur rusyd] itu. Al-Qur’an mengisyaratkan:

لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama [Islam]; Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 256)

سَأَصْرِفُ عَنْ ءَايَٰتِىَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَإِن يَرَوْا۟ كُلَّ ءَايَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا۟ بِهَا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلْغَىِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُوا۟ عَنْهَا غَٰفِلِينَ

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat[Ku], mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.” (QS. Al-A’raf/ 7: 146)

Dalam konteks kekinian, sekalipun zaman ini telah jauh dari masa kenabian [‘ahdun nubuwwah], zaman para pemimpin utama yang diberi petunjuk [‘ahdul khilaafah ar-raasyidah], tidak berarti kosong dari orang-orang baik; Kalau pun tidak ada cerminan prima sebaik-baik generasi atau sebaik-baik umat manusia [khairul quruun, khairun naas], paling tidak masih ada generasi yang menakjubkan keimanannya di sisi Allah [a’jabukum imaanan ‘indallaah]. Mereka hidup jauh dari zaman kenabian dan jauh pula dari kehidupan tiga zaman utama [shahaabat, taabi’iin dan taabi’ut taabi’iin] yang disebut al-quruunuts tsalaatsah al-mufadhdhalah. Namun mereka tetap tegak lurus di atas jalan kebenaran semampu yang mereka bisa lakukan dengan tidak meninggalkan tali Allah dalam keadaan zaman yang berubah-ubah sekalipun. Mereka tetap berpegang teguh hingga hayat dikandung badan, yakni hingga kematian menjemputnya. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membahasakannya dengan kalimat hattaa yudrikakal mautu wa anta ‘alaa dzaalika.

Saat kemusyrikan, kekufuran, kemunafikan, kefasikan dan kezhaliman dengan segala sifat, karakteristik dan turunannya, sudah sangat jelas dipaparkan Al-Qur’an dan hadits Nabi. Sampai di sini, umat manusia dengan penuh sadar mempercayainya walaupun bisa jadi dirinya tidak bisa dipisahkan dari sifat-sifat tersebut. Namun demikian, tidak ada satu pun yang akan rela apabila predikat dan identitas tersebut disematkan pada dirinya. Karena itulah apabila sebuah pengakuan tanpa diiringi dengan kepahaman yang telah menjadi standar ke-Islaman seseorang bisa melahirkan predikat dan identitas baru sebagai varian di zaman yang penuh kebingungan. Syirik tanpa sadar, kufur tanpa sadar, munafiq tanpa sadar, faasiq tanpa sadar dan zhalim tanpa sadar. Semua itu bisa terjadi pada siapa saja, bergerak dan beraktivitas di lini mana saja dalam kehidupan ini [termasuk dalam ranah atas nama agama dan dakwah sekalipun].

Untuk memotret diri dan arah kehidupan umat, serta perjuangan yang telah dan sedang sama-sama dilakukan, hanya ada dua kategori penisbatan yang ditegaskan Al-Qur’an. Apakah perjalanan umat ini lebih diarahkan untuk menempuh “jalan kaum beriman” [sabiilul mu’miniin] ataukah lebih diarahkan menapaki “jalan kaum pelanggar, pendosa, penyimpang, atau pendurhaka” [sabiilul mujrimiin]? Allah ‘azza wa jalla menjawabnya dengan ayat-ayat agung berikut ini:

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

“Dan siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’/ 4: 115)

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلأيَٰاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ ٱلْمُجْرِمِينَ

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran [supaya jelas jalan orang-orang yang shaleh] dan supaya jelas pula jalan orang-orang yang berdosa/ durhaka.” (QS. Al-An’aam/ 6: 55).

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!