Mendamaikan Perselisihan Ulama dan Umara

MENDAMAIKAN PERSELISIHAN ULAMA DAN UMARA;  Itulah kesimpulan risalah ‘Iedul Fithri 1438/ 2017 yang dipaparkan Allaahu yarhamh Bapak A.M. Fatwa di halaman Kampus Perbankan Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta Pusat. Laki-laki kelahiran Bone (1939) yang dikenal dengan politisi senior ini termasuk aktivis kritis lintas zaman; mulai orde lama, orde baru hingga orde reformasi. Dedikasi politiknya dalam menyuarakan aspirasi ummat, ditunjukkannya dalam perjuangan orde-orde berikutnya di Gedung MPR-RI . Banyak karya yang diwariskannya, di samping pengalamannya yang malang melintang. Sekedar mengetahui pola pikirnya dalam bersiasat, dapat dipahami dari khutbah ‘iedul fithri yang terakhirnya itu. Dengan mengambil tema: Belajar dari Perselisihan Ulama dan Umara pemilik nama Andi Mapetahang (A.M.) ini menunjukkan kepada siapa dirinya berguru dan mengambil keteladanan dalam berpolitik santunnya itu. Sejumlah nama besar kerapkali disebutkannya, dan untaian bijak bernas seringkali dikutipnya dari mereka.
Dalam risalah ini, dirinya ingin menyampaikan pesan, bahwa negara sangat mengharapkan kehadiran ulama yang berwibawa dan mumpuni, di samping umara yang negarawan. Disebutkannya nama-nama semisal Mr. Kasman Singodimedjo, Dr. Mohammad Natsir, Buya Hamka, Mr. Moh. Roem, KH. Moh. Isa Anshary, KH. E.Z. Muttaqien, Yunan Nasution dan lain-lain. Sebaliknya, apabila terjadi perselisihan antara umara dan ulama, maka yang terjadi adalah penderitaan dan kehancuran.

A.M. Fatwa memberikan contoh-contoh sejarah, bagaimana derita ummat yang diakibatkan karenanya; Zaman Kekhilafahan, ketidak harmonisan Khilafah Umayyah yang berujung diperintahkannya Hajjaj bin Yusuf (Gubernur Iraq) untuk menangkap Sa’id bin Zubair, ketidak harmonisan Khilafah ‘Abbasiyah yang memusuhi Imam-imam madzhab. Konteks Nusantara, Sunan Amangkurat l (Raja Mataram) pernah berlaku bengis kepada ulama dan keluarga, serta pengikutnya (Rijklof van Goens, pejabat VOC mencatatnya 5000 hingga 6000 tewas karena kezhalimannya). Konteks Orla dan Orba, ditangkapnya sejumlah tokoh Masyumi tanpa proses pengadilan, juga diperlakukannya tokoh-tokoh ummat kharismatik dan peristiwa berdarah Tanjung Priok menunjukkan adanya ketidak harmonisan umara dengan ulama.

Menurutnya, bagi para ulama -terlepas dari ujian yang dialaminya- merupakan kemenangan sejati, namun bagi umara merupakan kemenangan semu. Mengapa demikian? Dirinya menjawab, karena dorongan para ulama jelas; motivasinya al-amru bil ma’ruuf dan an-nahyu ‘anil munkar serta tanggung jawab moral untuk melindungi ummatnya. Lebih jauh dari itu, ulama merupakan ahli waris para Nabi (waratsatul anbiyaa) yang telah teruji kesabaran dan kelapangannya.

Terakhir, masih menurutnya, ulama dan umara hakikatnya sama-sama pemimpin. Yang pertama memimpin atas dasar kwalitas keilmuan dan keperibadiaannya, di mana kawasannya tak terbatas waktu dan teritorial. Adapun yang kedua memimpin karena hasil dari proses sistem politik, di mana waktu dan teritorialnya dibatasi.

Baca Juga:

MUI dan Tanggung Jawab Kebangsaan

Untuk menggambarkan bagaimana kelapangan para ulama, dan sikap kenegarawan penguasa, Pak Fatwa menyebut tokoh kharismatik Mohammad Natsir dan Gubernur legendaris Ali Sadikin. Ketegangan keduanya terjadi karena menyangkut dana judi untuk pembangunan ibu kota, Pak Gubernur marah besar dengan mengatakan: “Jika Mohammad Natsir dan tokoh-tokoh Islam tidak setuju dana judi digunakan untuk membangun jalan-jalan di Jakarta, suruh saja mereka naik helikopter kalau mau keluar rumah”. Namun hal itu tidak terlalu lama, di mana keduanya dipertemukan dalam ibadah haji tahun 1974, keduanya pun terlibat dalam perbincangan hangat dari hari ke hari seputar pembangunan ibu kota dan masalah lain yang lebih luas. Selanjutnya, kedua pemimpin ini pun bergandeng tangan dan duduk bersama dalam gerakan moral politik Petisi 50 menghadapi orde baru hingga Presiden Soeharto banyak mengubah kebijakan politiknya, khususnya terhadap ummat Islam. Akhirnya, setelah merasakan besarnya manfaat dekat dengan ulama, Ali Sadikin berkata: “Ternyata jika kita dekat dengan ulama, membangun Jakarta menjadi terasa lebih mudah”.

Demikian Allaahu yarhamh bapak A.M. Fatwa mengakhiri kisah hebatnya, lalu berpesan dan berharap agar kita semua senantiasa berdo’a dan berusaha “bagaimana mewujudkan keharmonisan ulama dan umara agar hidup bernegara lebih damai dan tidak membuang-buang energi untuk sesuatu yang tidak perlu …”

Selamat jalan pak A.M. Fatwa, semoga generasi kemudian dapat mengikutimu, bahkan harus lebih baik darimu… Allaahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafiehi wa’fu ‘anhu … Aamiin.

(#Diringkas oleh TenRomlyQ di Bis Mayasari 9A sepanjang perjalanan Bekasi-Jakarta, Tarikh 14/12/17 🌙🕋🕌📚🇲🇨)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*