KEMERDEKAAN DALAM TIMBANGAN ‘AQIEDAH DAN SEJARAH

KEMERDEKAAN DALAM TIMBANGAN ‘AQIEDAH DAN SEJARAH
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Di antara sifat dan asma’ Allah ‘azza wa jalla itu adalah Yang maha Memenangkan (Al-Ghaalib), Yang maha Memberikan pertolongan (An-Nashier), juga Yang maha Membuka (Al-Fattaah), termasuk di dalamnya makna Yang maha Memerdekakan.

Dalam Al-Qur’an, tertulis adanya nama Surat Al-Fath (Surat Kemenangan) dan Surat An-Nashr (Surat Pertolongan). Keduanya memberikan penjelasan, bahwasanya “kemenangan, pertolongan dan kemerdekaan” itu hakikatnya turun dari Allah jalla jalaaluh.

Karenanya, mensyukuri kemerdekaan dalam konsepsi ‘aqiedah tidak bisa dilepaskan dari dua perkara penting; Pertama, keyakinan pada terjadinya campur tangan Allah dalam menganugerahkan kemerdekaan kepada manusia.
Kedua, keyakinan adanya kewajiban ikhtiar manusia dalam melepaskan belenggu penjajahan menuju manusia yang merdeka dan bermartabat.

Dalam bentangan sejarah, tertulis rekam jejak para penakluk dan pembebas, di mana mereka berhasil membebaskan ummat manusia dari cengkeraman penjajah; Khalifah Umar yang menaklukkan negeri adidaya Kekaisaran Romawi dan Persia, Sulthan Shalahuddin Al-Ayyubi yang membebaskan Yerussalem dari belitan Kerajaan Salib, Sulthan Muhammad II (putra Sulthan Murad) yang membebaskan Konstantinopel dari cengkeraman Kekaisaran Romawi Timur Byzantium, juga Fatahillaah yang dikenal Faletehan dalam membebaskan Pelabuhan Dagang Sunda Kelapa dari Portugis dan memberi nama “Kota Kemenangan” (Jayakarta), yaitu Jakarta tempo doeloe. Demikian pula dengan para penakluk lainnya.

Dalam jiwa mereka tertanam karakter kuat sebagai “para penakluk sejati” (Al-Faatih) yang membawa misi suci berupa “membebaskan manusia dari penyembahan sesama makhluq menuju penyembahan terhadap Allah semata” (tahrierun naas min ‘ibaadatil makhluuq ilaa ‘ibaadatil khaaliq) atau “mengeluarkan manusia dari penyembahan sesama hamba untuk menyembah Allah satu-satunya Dzat yang wajib disembah” sebagaimana dituturkan shahabat Rib’ie bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anh sebagai juru bicara pasukan Muslim dalam menjawab pertanyaan Jenderal Rustum (Panglima perang Kekaisaran Persia) ketika menyambut kedatangan pasukan shahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anh utusan Khalifah ‘Umar radhiyallaahu ‘anh sebelum terjadinya peperangan Qadisiyyah sebagaimana dijelaskan kitab-kitab Taarikh dan Sierah semisal Al-Bidaayah wan Nihaayah-nya Imam Ibnu Katsier rahimahullaah.

Itulah gambaran ketundukkan sejati berupa menghinakan diri, merendahkan diri “hanya untuk Allah semata” bukan di hadapan makhluqNya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah membentangkan masalah ini dalam kitabnya Al-‘Ubuudiyyah.

Kemerdekaan yang menjadi cita-cita semua bangsa dan impian semua insan, merupakan syarat muthlaq untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Namun apa jadinya, apabila semuanya melepaskan diri dari keimanan. Maka, dapat dikatakan “kemerdekaan” merupakan tahapan kedua setelah “kehidupan”, dan keduanya akan mendapatkan kebahagiaan sejati (fauzan ‘azhieman) apabila menjunjung tinggi keimanan.

Tidaklah sebuah kemenangan besar dapat diraih, melainkan adanya “perjuangan-perjuangan antara” yang mengantarkanya. Kemenangan yang nyata (fathan mubienan) sebagaimana yang terjadi pada peristiwa pembukaan kota Mekkah (fathu Makkah) merupakan puncak kemenangan klimaks setelah proses “kemenangan-kemenangan antara” (fathan qarieban) yang mendekatkan kepada kemenangan yang sesungguhnya.

Para mufassir besar, baik At-Thabari atau pun Al-Qurthuby dan lainnya, semuanya menyebutkan bahwa QS. Al-Fath/ 48: 1 dan QS. An-Nashr/ 110: 1 – 3 menjelaskan tentang fathu Makkah. Selain itu, shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anh memberikan paparan tambahan bahwa QS. An-Nashr merupakan tanda-tanda akhir kehidupan Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Dalam surat ini, diperlihatkan pada Rasulullaah kemenangan agama Allah yang ditandai dengan berbondong-bondongnya manusia masuk pada agama ini.

Dalam konteks kebangsaan kita, para tokoh pendahulu, di mana mereka terlibat langsung dalam mempersiapkan kemerdekaan ini tidak melepaskannya dari keterkaitan “Rahmat Allah Yang Maha Kuasa” sebagai pemberi kemerdekaan itu sendiri. Dengan demikian, betapa kita dapat merasakannya denyut jantung kemerdekaan bangsa ini tidak dapat dipisahkan dari perjuangan mengokohkan ‘aqidah tauhid yang meng-Esakan Allah dan me-Maha besarkanNya.

Dengan kalimat Allaahu Akbar dan semangat untuk Merdeka, pada akhirnya, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, negeri tercinta ini pun diproklamirkan.
__________________

Penulis adalah: Pengasuh Kajian Tsaqaafah Islaamiyyah pada www.madrasahabi-umi.com

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

1 thought on “KEMERDEKAAN DALAM TIMBANGAN ‘AQIEDAH DAN SEJARAH

  1. Subhaanallah ustadz..sungguh suatu hal yang mengharukan kita dapat memperoleh kemerdekaan yang haqiqi yaitu dapat menegakkan syari’ah Islam seutuhnya tanpa intervensi dari musuh Allah Subhaanahu wa ta’ala yang keji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com