KAJIAN ZHUHUR MASJID WADHHAH ABDURRAHMAN AL-BAHR PUSDIKLAT DEWAN DA’WAH

KAJIAN ZHUHUR MASJID WADHHAH ABDURRAHMAN AL-BAHR PUSDIKLAT DEWAN DA’WAH

KUTAIBAT: Ad-Dînus Samâwy Huwal Islâm Karya Dr. Abdul Azîz bin Abdillâh al-Humaidy (Bagian ke-2)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Inna ad-Dîna ‘inda Allâhi al-Islâm

Sebagaimana kalam Allah ‘azza wa jalla:

“Sesungguhnya agama di sisi Allah itu adalah Islam” (QS. Âlu ‘Imrân/ 3: 19)

Setelah menampilkan ayat tersebut, Dr. Abdul Azîz bin Abdillâh al-Humaidy hafizhahullâh memberikan beberapa catatan penting sebagai berikut:

Pertama; Agama yang disyari’atkan (ad-dînul masyrû’) di sisi Allah ‘azza wa jalla hanya Islam, adapun selainnya merupakan produk manusia(shun’ul basyar)  dengan segala bentuknya, seperti halnya berhala-berhala dengan keragaman jenisnya.

Kedua; Tanda agama para Rasul Allah itu adalah mengajarkan “beribadah hanya pada Allah semata.” Ada banyak ayat yang memaparkan akan hal ini, di antaranya: QS. Al-Anbiyâ/ 21: 25, QS. Al-An’âm/ 6: 71, QS. Ghâfir/ 40: 66, QS. Âlu Imrân/ 3: 79-80 dan QS. An-Naml/ 27: 91.

Ketiga; Ajaran para Nabi dan Rasul adalah mengajak manusia untuk berpijak pada pokok agama berupa kepasrahan pada Allah ‘azza wa jalla dalam ketha’atan dan pengabdian.

Keempat; Banyak ayat menegaskan, bahwa Al-Islâm satu-satunya agama para Rasul (al-Islâmu dînur rusuli jamî’an). Data qur’aniyah akan hal ini, dapat dilihat pada ayat-ayat berikut:

1) Tentang Nabiyullâh Nûh ‘alaihis salâm (QS. Yûnus/ 10: 72).
2) Tentang Nabiyullâh Ibrâhim dan Ya’qûb ‘alaihimas salâm (QS. Âlu Imrân/ 3: 67 dan QS. Al-Baqarah/ 2: 130 – 132).
3) Tentang Nabiyullâh Yûsuf ‘alaihis salâm (QS. Yûsuf/ 12: 101).
4) Tentang Nabiyullâh Mûsa ‘alaihis salâm (QS. Yûnus/ 10: 84).
5) Tentang Nabi-nabi Bani Israil (QS. Al-Mâidah/ 5: 44).
6) Tentang Fir’aun dan tukang sihirnya (QS. Yûnus/ 10: 90 dan QS. Al-A’râf/ 7: 126).
7) Tentang Nabiyullâh Sulaiman ‘alaihis salâm dalam suratnya kepada Ratu Bilqis (QS. An-Naml/ 27: 31).
8) Tentang ummat Nabiyullâh ‘Isa ‘alaihis salâm (QS. Al-Mâidah/ 5: 111).
9) Tentang _Ahlul Kitâb_ dari Yahudi dan Nashrani (QS. Al-Qashash/ 28: 53).

Dr. Abdul Azîz bin Abdillâh al-Humaidy hafizhahullâh (penulis kutaib) menjelaskan, bahwa orang-orang beriman sebelum turunnya Al-Qur’an, mereka itu adalah Muslimîn (bukan Yahudi dan Nashrani).

Pandangan Para Ulama

1) Imam Abu Ja’far bin Jarîr at-Thabary:
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani lebih memilih keyahudian dan kenashraniahannya dari pada Islam (millah Ibrâhim, al-hanîfiyyah as-samhah).”

Sebagaimana dikatakan Qatâdah dan Rabi’ bin Anas rahimahullâhu ‘anhumâ, mereka menuturkan: “Mereka menjadikan keyahudian dan kenashranian, berbuat bid’ah dan meninggalkan millah Ibrahim (yakni: Islam).”

2) Imam Az-Zamakhsyary rahimahullâh (pemilik Tafsîr Al-Kasyâf): “Orang-orang Yahudi menjauh dari ikatan Islam sebagai agama para Nabi; baik dulu hingga kini mereka memisahkan diri.”

3) Imam Ibnu Manzhûr rahimahullâh (pemilik Lisânul ‘Arab): “Setiap para Nabi diutus membawakan Islam, akan tetapi tata cara ibadah mereka berbeda satu sama lain.”

4) Sebagaimana gurunya Imam Ibnu Taimiyyah al-Harrâni, Al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullâh ‘anhumâ menuturkan: “Islam merupakan agama seluruh para Nabi (dari Nabi awwal hingga Nabi akhir zaman) sekalipun mereka berbeda-beda jalan dan tata cara peribadahannya.”

Membincangkan mereka, tidak bisa lepas dari pangkal keturunannya, yakni Nabiyullâh Ibrahim ‘alaihis salâm sebagai pemimpin agama yang lurus (imâmul hunafâ) yang melahirkan keturunan para Nabi. Namun demikian, orang-orang Yahudi dan Nashrani melakukan penyimpangan terhadap ajaran Nabi-nabi mereka, hingga Al-Qur’an yang mulia membimbing kita dengan do’a dalam firmanNya:

إهدنا الصراط المستقيم، صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين

“Yâ Allâh … tunjukkanlah untuk kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka. Bukan jalan orang-orang yang Engkau benci dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.” (QS. Al-Fâtihah/ 1: 6 – 7)

Orang-orang Yahudi disebut dengan al-maghdhûbu ‘alaihim dan orang-orang Nashrani disebut dengan ad-dhâllûn yang menyebabkan mereka keluar dari Islam secara umum; Keduanya saling “mengungguli” dalam karakteristik penyimpangannya. Yahudi sangat menonjol dalam kesombongannya (al-kibr), sekalipun lebih minim kesyirikkannya. Sementara Nashrani, sangat menonjol kesyirikkannya (as-syirk), sekalipun lebih minim kesombongannya. Semua ini, dijelaskan dengan gamblang dalam kitabNya yang mulia. Wallâhul musta’ân
_____________

) In syâ Allâh masih bersambung, sebagai kuliah ‘Aqîdah dan Manhaj Madrasah Ghazwul Fikri Pusat Kajian Dewan Da’wah***

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*