Rabu, April 29MAU INSTITUTE
Shadow

“UMMU THULAAB” DALAM KENANGAN

“UMMU THULAAB” DALAM KENANGAN // Sebagai santri yang pernah nyorog kepada beliau, banyak menyimpan kenangan. Hal serupa, dialami pula santri lain tentunya. Selama menjadi murid, Ustadzah Hj. Aminah Dahlan jarang memberikan pelajaran banyak-banyak, lebih banyak menasihati dan mempraktekkan “ilmu terapan” yang diperagakannya langsung, baik di kelas, di asrama, dan tempat lainnya. Dari sekian nasihat paling terngiang adalah: “Mun hoyong pinter kedah daek ngajar nyaa!!!” [artinya: “Kalau ingin pintar harus mau mengajar yaahh!!!”]. Suatu sore, beliau memanggil ke rumah hanya sekadar menunjukkan foto yang tertera di kamus Al-Munjid [karya Louis Ma’luf & Bernard Tottel, 1908]. “Ten, perhatoskeun gambar ieu. Ieu teh karuhun Ibu” [Ten, perhatikan gambar ini, foto ini nenek moyang Ibu]. Ternyata, itu fotonya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan [Mufti Makkah zaman Turki Utsmani, seorang ulama madzhab fiqih Syafi’i dan berfaham ‘aqidah Asy’ari]. Terlepas dari semua kontroversi, murid semakin faham. ✍️💟☪️ (@TenRomlyQ)

Print Friendly, PDF & Email

2 Comments

  • Mustaien Billah

    Belajar yang baik adalah mengajar. Semakin banyak mengajar, maka semakin banyak ilmu yang diperolehnya.

  • Rahmi Fauziah

    Ayahanda beliau Sayyid Abdullah Dahlan adalah keponakan dan murid Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, juga imam Masjidil Haram sebelum kemudian meninggalkan Saudi untuk safari dakwah dan pendidikan di bbrp negara Asia hingga sampai ke Garut dengan Madrasah Alkhayriyahnya.

Tinggalkan Balasan ke Rahmi Fauziah Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!