Oleh: Teten Romly Qomaruddien

“Lahir ditolong orang, sakit dirawat orang dan mati pun digotong orang. Lantas apa yang kita sombongkan, kalau segala sesuatu masih membutuhkan keterlibatan orang?”
Demikian pesan moral yang sering ditemukan pada tulisan kaos bagian belakang anak-anak remaja. Sekalipun terkesan “iseng”, namun memberikan kesan mendalam bahwa hidup memang tidak bisa sendirian. Artinya adalah prinsip hidup “silih asah, silih asuh dan silih asih” merupakan kunci pergaulan dan interaksi sosial sesama manusia untuk saling memperhatikan, mengayomi dan menebar kasih sayang satu sama lain. Terlebih kehidupan sesama yang dibingkai dengan tali ikatan iman dan kebersamaan berjuang.
Intinya adalah bagaimana seseorang mampu membangun kesadaran diri, bahwa tidak ada yang bisa menghitam putihkan kehidupan seseorang melainkan Dzat yang Maha menghidupkan dan mematikan itu sendiri. Selain manusia yang mengupayakan dengan segenap kemampuannya, namun Allah ‘azza wa jalla jualah yang memiliki kehendak untuk terjadinya sesuatu. Al-Qur’an menjelaskan:
وَهُوَ ٱلَّذِى يَتَوَفَّىٰكُم بِٱلَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِٱلنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰٓ أَجَلٌ مُّسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur[mu] yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’aam/ 6: 60)
Lalu Allah ‘azza wa jalla melanjutkan ayat-Nya dengan menegaskan bahwa tidak ada kedudukan yang lebih tinggi melebihi kedudukan-Nya. Jangankan dibanding dengan Dzat yang Maha agung, dibandingkan dengan makhluk lain yang sama-sama diciptakan-Nya seperti halnya para malaikat masih juga tidak sepadan. Allah ‘azza wa jalla mengingatkan:
وَهُوَ ٱلْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِۦ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ
“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. Al-An’aam/ 6: 61)

Karena itulah, segala sesuatu akan dikembalikan kepada Allah ‘azza wa jalla yang menguasai segalanya. Tidak ada yang lebih mampu mengendalikan segala perkara manusia kecuali diri-Nya; Melalui para malaikat-Nya, Allah selesaikan semua urusan makhluk dan segala yang terjadi dalam ciptaannya itu. Dalam hal ini Allah menegaskan pada ayat berikutnya:
ثُمَّ رُدُّوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ مَوْلَىٰهُمُ ٱلْحَقِّ ۚ أَلَا لَهُ ٱلْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ ٱلْحَٰسِبِينَ
“Kemudian mereka [hamba Allah] dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum kepunyaan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.” (QS. Al-An’aam/ 6: 62)
Namun dalam praktiknya, bukanlah perkara mudah untuk menghilangkan keangkuhan diri atas keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki. Dalam waktu yang bersamaan, terkadang sebahagian manusia sebagai makhluk merasa memiliki segala kemampuan. Maka dengan sendirinya, tanpa sadar manusia tersebut mengangkat dirinya sebagai orang yang “paling mampu” mengerjakan segala urusan dan bahkan menutup kesempatan manusia lain untuk menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.

Terlebih apabila dihiasi dengan perasaan “paling bersih” di antara manusia lainnya dari perkara perbuatan hati yang tersembunyi [merasa diri besar/ kibr, bangga akan kelebihan diri/ ‘ujub, adanya kedengkian/ hasad, teperdaya dengan kemampuan diri/ ghuruur, dll.] yang bisa melahirkan sikap merasa sangat terancam oleh kemampuan dan kelebihan orang lain. Prilaku narsistik semacam ini disebut juga oleh sebahagian ahli kesehatan mental sebagai superiority complex.
Sikap seperti itu bukan sekadar merusak kejiwaan pelakunya, melainkan bisa menjadi bumerang dan benalu bagi yang lainnya; Bisa merusak pertemanan, membahayakan pergaulan, mengganggu kebersamaan dalam aktivitas, bahkan bisa melenyapkan ketulusan diri dan keikhlasan orang lain [termasuk dalam perjuangan dan keumatan]. Berupaya menjadi orang bersih merupakan suatu keharusan, namun mendeklarasikan diri sebagai orang “paling bersih” merupakan kehinaan. Berusaha untuk tetap berjuang merupakan kewajiban, namun memproklamirkan diri sebagai orang yang “paling berjuang” dengan segala sikap turunannya merupakan kenistaan. Falaa tuzakkuu anfusakum Huwa a’lamu biman ittaqaa, “Janganlah kamu mengatakan dirimu suci, Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa itu”. Demikian QS. An-Najm/ 53: 32 mengingatkan para hamba-Nya.
Agar cerminan sikap “saling menghargai” terasa masih ada dalam perjuangan, maka sudah seyogianya satu sama lain mampu mendudukan dirinya secara proporsional untuk bisa “saling mengorangkan”. Semua itu patut dilakukan dalam rangka menjaga kesetaraan dalam kebersamaan perjuangan, agar tidak ada pihak lain yang merasa tidak dilibatkan dan ditinggalkan. Ibarat kata pepatah bijak: “Jika kamu berada di lingkungan yang salah; Sehebat apa pun kemampuan dirimu, kamu hanya akan dianggap seperti manusia pinggiran. Nilai dirimu tidak akan pernah terlihat, jika kamu berdiri di tempat orang yang tidak menghargai kualitasmu. Kalau hal itu terjadi, maka kamu mesti menemukan panggungmu sendiri!”. Fa’tabiruu yaa uulil abshaar

Sangat cocok untuk pembinaan jam’iyyah.
Meningkatkat Soliditas & Mempertebal solidaritas….
Sangat cocok untuk pembinaan jam’iyyah.
Meningkatkat Soliditas & Mempertebal solidaritas….
Sangat cocok untuk pembinaan jam’iyyah.
Meningkatkat Soliditas & Mempertebal solidaritas….