Rabu, Mei 27MAU INSTITUTE
Shadow

MENGOKOHKAN IDENTITAS KE-ISLAMAN DI TENGAH GELOMBANG PERUBAHAN ZAMAN

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Selalu ada hikmah di balik peristiwa dan pelajaran di balik kejadian; Sekalipun bentangan panjang masa silam tidak mungkin dikembalikan, namun “menyebrangkan” ingatan yang pernah terjadi berabad-abad silam ke waktu sekarang merupakan kewajiban sejarah yang mesti dilakukan. Selain menjadi penjelas [bayaan], petunjuk [hudan] dan nasehat [mauw’izhah] dari Allah ‘azza wa jalla untuk manusia, juga pelajaran yang sangat berharga bagi mereka yang mau menggunakan akalnya. Al-Qur’an mengingatkan:

لقد كان في قصصهم عبرة لأولي الألباب

“Sungguh ada pada kisah-kisah mereka [para Nabi dan Rasul] sebagai pelajaran bagi yang memiliki akal pikiran.” (QS. Yuusuf/ 12: 111)

Datangnya bulan mulia Dzulhijjah, merupakan salah satu peringatan rutin dari Allah ‘azza wa jalla untuk umat manusia secara keseluruhan, bahwa hakikatnya kesatuan universal sebagai anak cucu Nabi Adam ‘alaihis salaam beserta bunda Hawwa dengan semua keturunannya di muka bumi memiliki kewajiban menjalankan kepatuhan terhadap Rabbul ‘Aalamiin dengan bimbingan para Nabi dan Rasul di setiap zamannya. Renovasi pondasi bangunan Baitullaah di masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salaam menjadi bukti nyata adanya kesinambungan ajaran tersebut hingga Nabi terakhir. Maka hal yang wajar apabila Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menuturkan dalam sabdanya:

الأنبياءُ إخوَةٌ لعَلَّاتٍ: دِينُهم واحِدٌ، وأُمَّهاتُهم شَتَّى، وأنا أوْلى النَّاسِ بعيسى ابنِ مَريمَ

“Para Nabi itu bersaudara satu sama lain [sebagai keluarga besar], agama mereka satu sekalipun induk mereka berbeda. Dan aku adalah orang yang paling dekat kekerabatannya kepada Nabi ‘Isa bin Maryam” (HR. Al-Bukhari 3443 dan Abu Dawud 4324 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh)

Sebagai suatu kesatuan, sudah semestinya mereka dibekali kesamaan konsep teologis [keyakinan, ‘aqidah] yang tidak terputus dan bertentangan. Ajaran agamanya sama dan saling menguatkan, sedangkan yang membedakan adalah tata cara bagaimana masing-masing menunjukkan cara ibadahnya. Diinuhum waahid wa syaraai’uhum mukhtalifah, itulah konsepsi utama bangunan Tauhiidullaah yang diajarkan secara berkesinambungan dan berkelanjutan dari satu generasi ke generasi lainnya membentuk mata rantai perjuangan yang tidak terputus.

Potret perjalanan tersebut merupakan cerminan gerakan dakwah yang baik; Selain berkesinambungan, juga mengakar erat kepada induknya, didukung dengan pondasi ideologis yang kokoh sebagaimana digambarkan dalam perumpamaan berikut: “Aku dan para Nabi sebelumku bagaikan seseorang yang membangun suatu gedung, lalu memperindah dan memperelok bangunan tersebut, kecuali batu-bata yang terpental dari tempatnya. Seiring dengan kekagumannya terhadap bangunan tersebut, mereka berkomentar: “Alangkah baiknya seandainya batu-bata tersebut ditempatkan kembali pada tempatnya”. Akulah batu-bata itu dan aku pengakhir para Nabi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Musthafa Muhammad ‘Amarah, Jawaahirul Bukhari wa Syarhul Qasthalani, hlm. 213).

Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang di dalamnya sarat dengan berbagai kedudukan [makaanah] dan keutamaan [fadhaail]; Dengan beragam keistimewaannya, telah banyak diuraikan para ahli ilmu dengan berbagai perspektif sebagai berikut:

Pertama; Dari perspektif sejarah, bulan ini mengingatkan tentang hakikat kesatuan umat manusia yang mensinergikan perjalanan panjang dakwah Bani Adam yang diawali dari Baitullaah sebagai tempat singgah pertama dan beribadahnya dua sejoli umat manusia ini hingga menjadi tempat berkumpulnya keturunan mereka [matsaabatan] yang datang dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai warna kulit, bahasa dan tradisi yang berbeda pula. Itulah musim haji dengan waktu-waktu yang telah ditetapkan [mulai persiapan sejak bulan Syawwal, mematangkan kesiapan di bulan Dzulqa’dah, hingga kesempurnaan pelaksanaan ibadah di bulan Dzulhijjah]. Napak tilas sejarah bapak para Nabi tersebut, kini menjelma menjadi praktek manaasik dalam peribadatan haji di tanah suci.

Kedua; Dari perspektif ‘aqidah, bulan ini mengingatkan betapa Ka’bah Musyarrafah sebagai satu-satunya syi’ar Allah di muka bumi yang telah dijadikan titik fokus [qiblat] kaum Muslimin yang bersujud menghadap Allah ‘azza wa jalla atas perintah-Nya dari arah mana saja mereka berada. Fawalli wajhaka syathral masjidil haraam, itulah narasi perintah ilahiyyah yang ditujukan kepada umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam setelah sebelumnya mereka menghadapkan wajah dan jiwa raga mereka ke masjid Al-Aqsha yang ada di Baitul Maqdis Palestina 16 bulan lamanya. Dengan meyakini sepenuh hati bahwa Ka’bah yang ada di Mekkah sebagai satu-satunya qiblat yang diimani [tidak ada qiblat tandingan lainnya] dengan sepenuh iman tanpa keraguan sedikit pun, berpegang pada rukun iman dan rukun Islam, serta tidak keluar dari Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan rasuulullaah, sungguh mereka itulah yang disebut ahlul qiblat sebagaimana dijelaskan para ulama muktabar [di antaranya Imam Abil ‘Izz al-Hanafi dalam kitabnya Syarah ‘Aqiidah at-Thahawiyyah].

Ketiga; Dari perspektif ibadah, bulan ini telah memberikan kesempatan kepada kaum Muslimin untuk sama-sama menghidupkan keutamaan yang terkandung di dalamnya; Mulai menghidupkan amalan sunnah pada 10 awal bulan Dzulhijjah, shaum ‘arafah yang keutamaannya bisa menghapus kesalahan i dua tahun berurutan [baik tahun yang telah berlalu dan tahun yang akan datang], menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu menunaikannya [istithaa’ah] ke tanah haram, menyembelih hewan udhhiyyah pada 10 Dzulhijjah hingga hari-hari tasyriq [11, 12, 13 Dzulhijjah], bertakbir, bertahlil dan bertahmid [Imam Ibnu Rajab al-Hanbali memaparkan keutamaan semua ini dalam kitabnya Bayaanul Mahajjah Fii Wazhaaif Syahri Dzilhijjah].

Keempat; Dari perspektif pendidikan akhlaq dan mu’amalah, bulan ini mengingatkan umat manusia terhadap kemuliaan keluarga Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salaam beserta ibunda mereka Hajar dan Sarah, serta keturunannya yang telah menjadikan kancah dakwah Tauhid sebagai bahtera yang membawa mereka pada keberkahan; Mulai dari ketabahan dan kesabaran Bunda Hajar dalam memelihara anaknya Ismail di gurun sahara yang tandus, dialog ayah-anak yang meruntuhkan logika manusia dalam kepatuhan dan ketaatan, serta menunjukkan “cinta di atas segala cinta” ketika mimpi menyembelih anak yang sangat dicintainya, washiyat Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq dan Nabi Ya’qub ‘alaihimus salaam [dari jalur Bunda Sarah] kepada anak-anak mereka agar mereka tidak meninggalkan bumi ini [mati] melainkan dalam keadaan Muslim. Sungguh kalimat Falaa tamuutunna illaa wa antum Muslimuun dan Huwa sammaakumul Muslimiina min qabl merupakan washiyat emas para Nabi dan penegasan kata yang wajib diingat, pesan berulang sepanjang masa.

Kelima; Dari perspektif berbangsa dan bernegara, bulan ini telah mengingatkan umat manusia bahwa al-amru bil ma’ruuf wan nahyu ‘anil munkar tidak cukup disampaikan kepada masyarakat semata, melainkan berhadapan dengan keluarga terdekat sendiri seperti halnya ayahnya ‘Azar sang “pemahat patung”, juga kekuatan mapan seperti penguasa Namrudz. Saat kekuatan logika penguasa yang rapuh dalam melumpuhkan dakwah intelektual, seringkali “logika kekuatan” pun diberlakukan untuk memberangus kebenaran sampai ke akar-akarnya. Berkaca pada pengalaman panjang, akhirnya Nabi Ibrahim berhasil merancang kekuatan ke depan yang lebih terpogram dan visioner, yakni kekuatan dakwah yang dimulai dari kekuasaan yang paling minimalis, yaitu membangun “keluarga tangguh” yang dibentuk dari pribadi-pribadi yang militan. Lahirnya keturunan orang-orang shalih dan mereka yang menentangnya, baik dari jalur Ismail yang melahirkan bangsa Arab atau keturunan Ya’qub bin Ishaq yang melahirkan bangsa Israil menunjukkan kepada manusia bahwa “pertarungan kebenaran dengan keburukan” [ash-shiraa bainal haq wal baathil] bisa terjadi dari rumpun sendiri.

Keenam; Dari perspektif nilai [value], betapa ketakwaan merupakan kunci utama dalam kedudukan umat manusia. Allah ‘azza wa jalla tidak pernah membeda-bedakan suatu kaum, melainkan karena ketakwaannya. Demikian pula dengan segala amal perbuatan manusia, segala sesuatu yang dilakukan menjadi sia-sia tanpa makna apabila tidak diiringi dengan ketakwaan. Tidak terkecuali peringatan bulan haji dan kurban ini yang menyebutkan “Sebaik-baik bekal [bagi yang menunaikan haji] adalah ketakwaan” [QS. 2: 197] dan “Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darah hewan yang dikurbankan, melainkan ketakwaannya” [QS. 22: 37]. Betapa sulitnya menjaga ketakwaan, Rasulullaah pun sampai mengisyaratkan ke dadanya dengan tangannya sebanyak tiga kali, At-taqwaa haa hunaa. “Takwa itu letaknya di sini”. (HR. Muslim 2564 dan At-Turmudzi 1927 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh)

Masih banyak perspektif lainnya yang belum bisa diuraikan dan dikaji secara sempurna, paling tidak dari berbagai perspektif ini bisa diambil beberapa kesimpulan berharga untuk dijadikan pedoman sebagai ikhtiar dalam rangka mengokohkan identitas ke-Islaman di tengah perubahan zaman. Likulli zamaanin hadhaaratun wa likulli hadhaaratin thariiqatun wa manhajun, “Setiap zaman memiliki peradabannya dan setiap peradaban memiliki cara dan model bagaimana menaklukkan peradaban tersebut”.

Waktu terus melaju, cuaca terus berubah dan musim pun terus berganti. Ada banyak permasalahan di hadapan umat yang membutuhkan jawaban segera; Dari problematika internal umat seperti halnya ketidak pahaman terhadap ‘aqidah dan syari’ah Islam [dengan segala turunan ajarannya], diperparah dengan tantangan eksternal umat berupa berbagai upaya yang bisa menyimpangkan mereka dari ajaran agamanya. Dalam bahasa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [Dar’ut Ta’aarudhil ‘aqli wan naqli 5/ 378}: “Tidaklah terjadi kebid’ahan dan kesesatan yang merajalela pada umat ini, melainkan sebabnya adalah semakin kurangnya menampakkan perkara sunnah dan petunjuk Nabi [dalam maknanya yang luas]”. Tidak terkecuali hilangnya keteladanan para elit [termasuk elit agama] yang kerapkali mempertontonkan kerusakannya dengan tanpa merasa dosa di hadapan masyarakatnya dengan alasan “kekeliruan” tersebut masih bisa dimaklumi dan dinormalisasi.

Perubahan zaman sesuatu yang pasti terjadi, mengantisipasi dengan segala bentuk ikhtiar merupakan kewajiban yang tidak boleh berhenti. Mutiara terpendam perjalanan bulan Dzulhijjah bukanlah kisah bualan tanpa makna, melainkan gugusan suci penuh arti dan menginspirasi bagi siapa pun yang masih memiliki hati nurani. Selamatnya peradaban sangat tergantung sejauh mana umat mampu memelihara identitas ke-Islaman dan menjaga kualitas keimanan.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!