Senin, April 27MAU INSTITUTE
Shadow

KETIKA BADAI FITNAH KIAN BERKOBAR; MEMOTRET FAKTA DAN KELEMAHAN KITA

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Belakangan ini, dampak perbedaan cara menyikapi perang Israel-Amerika versus Iran telah menggelinding seperti bola liar. Pro kontra beragam pihak terhadap peristiwa ini telah menyeret semua terlibat dalam kancah beradu klaim satu sama lain. Saling tuduh dan menjatuhkan pun tidak bisa dihindari di antara pihak yang berlawanan; Sesama teman sendiri atau bahkan sesama satu halaqah pengajian. Jamaah sesama jamaah, ustadz sesama ustadz, juga ustadz dengan jamaahnya. Admin group sesama admin, anggota group sesama anggota dan admin berhadapan dengan anggota groupnya sendiri.

Tema-tema yang diperselisihkan tidak lepas dari beberapa sub titik tengkar yang menggugah perdebatan satu sama lain. Di antaranya adalah: Israel-Amerika adalah dalang dari semua kekacauan, sebenarnya Israel-Amerika dan Iran adalah tiga serangkai yang tidak bisa dipisah. Kalau pun ketiganya terlibat perang, lebih disebabkan karena gagalnya diplomasi di antara mereka. Ada banyak alasan mengapa mereka harus berperang, selain kebuntuan diplomasi terkait uranium dan kepemilikan nuklir, juga pengamanan lalu lintas minyak Selat Hormuz hingga stabilitas kawasan dan penguasaan negara-negara Teluk.

Bagaimana kaitannya dengan pendudukan Israel atas Palestina, atau penguasaan Baitul Maqdis? Apakah perkara ini yang menjadi sebab Iran murka dengan memuntahkan kekuatan rudal yang dimilikinya? Atau ada sebab lain yang lebih bisa diterima dan mudah dibaca seperti halnya kematian para petingginya di Libanon? Kalau demikian adanya, benarkah serangan balik yang dilakukan Iran itu murni pembelaan untuk kaum Muslimin di Gaja Palestina? Lalu, mengapa negara-negara Teluk yang menjadi sasaran utamanya?

Selain itu, benarkah tidak ada sentimen Sunni-Syi’ah dalam kancah peperangan ini? Kalau demikian, bagaimana rekam jejak yang selama ini dilakukan Iran di negara-negara Sunni? Akankah dilupakan begitu saja dan larut dalam bayang-bayang samar di tengah seruan dan jargon “persatuan umat” di sela-sela luka menganga yang dirasakan kaum Muslimin yang pernah merasakannya seperti Syria, Libanon dan Yaman. Tentu hal ini tidak mudah untuk disimpulkan dengan tergesa-gesa, masalahnya tidak ada yang bisa dijadikan jaminan akan kebenarannya kalau aksi yang dilakukan Iran adalah murni “aksi simpatik” terhadap keberadaan kota suci Al-Quds dan jawaban atas kedegilan bangsa agresor Israel-Amerika.

Jawaban dari semua pertanyaan tersebut, sudah bisa dipastikan akan bermuara pada simpatiknya dunia saat ini akan aksi heroik yang ditampilkan Iran dengan kepiawaian dan keteduhan para pemimpin spiritual mereka, serta kesigapan dan ketangkasan Garda Revolusi-nya sebagaimana tertayangkan di berbagai media sosial. Kondisi ini benar-benar tepat waktu dan sekilas layak mendapatkan acungan jempol di tengah-tengah lemahnya negara-negara Teluk yang Sunni. Harus diakui, lemahnya peran Organisasi Kerjasama Dunia Islam [OKI] saat ini, tentu sangat berbeda dengan saat OKI sebagai Organisasi Konferensi Islam terdahulu dalam membela hak-hak negara anggotanya, terkhusus masalah qiblat pertama kaum Muslimin yang sering dipertanyakan.

Di sisi lain, ketersanderaan negara-negara Arab dalam perjanjian Abraham Accords membuat mereka tidak dapat keluar dari sikap menormalisasi hubungan yang dijalin bersama Israel dan Amerika yang berdampak pada nasib saudara-saudara kaum Muslimin di Palestina. Apa pun retorika dan argumen pembelaannya dari negara-negara Arab, sangat sulit menepis opini dan kewalahan menghadapi garangnya serangan media sosial yang berkembang.

Betapa dahsyatnya badai fitnah zaman ini; Nilai kemanusiaan yang semakin tidak berharga, nafsu angkara murka dan keserakahan dalam menguasai dunia, kezhaliman dan kebrutalan yang dipertontonkan, beragam tipu daya dan makar yang dimainkan oleh negara-negara haus kuasa telah mengoyak nurani yang teramat dalam. Salah dan benar menjadi bias mengambang di atas ketidak jelasan, antara idealita agama yang wajib dipegang teguh oleh umat dengan kenyataan geopotik penuh rekayasa yang dihadapi semakin menyulitkan dan membingungkan untuk diterka.

Jalan satu-satunya sebagai pegangan umat agar terhindar dari badai fitnah adalah berpegang pada Kitaabullaah sebagai tali-Nya yang kokoh [hablullaah al-matiin];; Di dalamnya merupakan berita masa lampau dan warta kekinian yang menceritakan hari ini dan esok [termasuk akhir zaman]. Kitaabullaah pun merupakan juru peringatan yang bijak [ad-dzaakirul hakiim] dan jalan penerang yang menunjukkan kebenaran [ash-shiraath al-mustaqiim]. Siapa yang membacanya diberi pahala, siapa berhukum dengannya pasti adil dan siapa yang berbuat dengan berpedoman dengannya pasti dibalas. Siapa pun yang merusak ajaran agama, al-kufru millatun waahidah; “sifat kekufuran adalah barisan yang satu” yang sama-sama wajib diwaspadakan.

Akhirnya, kita menjadi tersadarkan dan bahkan selangkah meyakini akan pertanyaan selama ini “Mungkinkah ini adalah gelagat tanda akhir zaman itu?” … Nabiyullah ‘Isa ‘alahis salaam belum turun kembali ke bumi, Imam Mahdi yang dijanjikan belum muncul ke permukaan dan Dajjal pun belum keluar dari tempatnya. Kenyataan pahit saat ini sudah bisa dirasakan, hakikat wujud Dajjal-nya belum nampak di hadapan namun api fitnah kesumat dan tipu muslihat kian berkobar dan benar-benar sangat dirasakan. Allaahumma innaa na’uudzu bika min fitnatil mahyaa wal mamaat ma min syarri fitnatil masiihid dajjaal

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!