Jumat, Juli 17MAU INSTITUTE
Shadow

TIDAK INGIN TERTINGGAL DALAM BERBURU KEMUALIAAN

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Merupakan kebiasaan baik Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya senantiasa mengabsen para shahabat dengan cara bertanya tentang perkara-perkara keseharian mereka, terutama dalam hal amal shalih sebagai bentuk motivasi seorang pemimpin terhadap masyarakat yang dipimpinnya.

Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh menceritakan, bahwa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajukan beberapa pertanyaan simpatik kepada para shahabatnya seperti berikut:

مَن أصبَحَ مِنكُمُ اليومَ صائِمًا؟

Siapa di antara kalian yang hari ini menunaikan ibadah shaum [shaum sunnat, tathawwu’]?

قال أبو بَكرٍ رَضيَ اللهُ عنه: أنا،

Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallaahu ‘anh menjawab: “Saya”.

قال: فمَن تَبِعَ مِنكُمُ اليومَ جِنازةً؟

Rasulullaah bertanya lagi: Lalu siapa di antara kalian yang hari ini mengiringkan jenazah?

قال أبو بَكرٍ رَضيَ اللهُ عنه: أنا،

Abu Bakar as-Shiddiq menjawab lagi: “Saya”

قال: فمَن أطعَمَ مِنكُمُ اليومَ مِسكينًا؟

Rasulullaah bertanya lagi: Lalu siapa di antara kalian yang hari ini memberikan makanan untuk orang miskin?

قال أبو بَكرٍ رَضيَ اللهُ عنه: أنا،

Abu Bakar as-Shiddiq menjawab lagi: “Saya”

قال: فمَن عادَ مِنكُمُ اليومَ مَريضًا؟

Rasulullaah bertanya lagi: Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang yang sakit?

قال أبو بَكرٍ رَضيَ اللهُ عنه: أنا،

Abu Bakar as-Shiddiq menjawab lagi: “Saya”

فقال رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: ما اجتَمَعنَ في امرِئٍ، إلَّا دَخَلَ الجَنَّةَ.

Berikutnya Rasulullaah menuturkan: “Siapa saja orangnya yang mampu melakukan semua itu dalam satu waktu yang sama, melainkan wajib baginya masuk surga Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim, no. 1028 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh)

Pertanyaan-pertanyaan tersebut nampak seperti sederhana, namun kandungan maknanya sangat membekas di hati para shahabatnya. Suasana ini menunjukkan, betapa kedekatan, keakraban dan kehangatan antara Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan para shahabat begitu sangat terasa, mempesona dan menunjukkan bahwasanya komunikasi mereka sangat sehat dan hidup, serta menggairahkan..

Cerminan kehidupan yang digambarkan hadits ini, semakin memberikan pembenaran bahwa mereka merupakan generasi utama yang selalu “tidak merasa puas” dengan amalan yang telah dilakukan. Mereka “selalu merasa kurang” dan “mencari terus” kemuliaan amal. Dalam bahasa wahyu, mereka disebut sebagai “ahli warits al-Qur’an” yang senantiasa berburu kebaikan [saabiqun bil khairaat] sebagaimana ditunjukkan ayat berikut:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami; Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada [pula] yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan idzin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Faathir/ 35: 32)

Ulama Tafsir abad ini, di antaranya Syaikh ‘Abdurrahman Nashir as-Sa’di rahimahullaah menuturkan: “Maksud kalimat mereka yang terpilih dari umat ini; Ada umat yang menganiaya diri mereka sendiri dengan perbuatan-perbuatan maksiat selain kekafiran, ada umat pertengahan yang hanya melakukan hal-hal yang diwajibkan kepadanya dan meninggalkan yang diharamkan, ada pula umat yang lebih dahulu berbuat kebaikan, yakni mereka orang-orang yang selalu bersegera melakukan dan bersungguh-sungguh hingga mengalahkan yang lainnya. Yang terakhir ini senantiasa menunaikan yang fardhu, banyak mengerjakan amalan sunnah, serta meninggalkan perkara haram dan makruh sekalipun.” (Lihat: Taiysiirul Kariimir Rahmaan Fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan Lis Sa’di, 1416: hlm. 809)

Lain kisah mulia shahabat Abu Bakar radhiyallaahu ‘anh [nama aslinya ‘Abdullah bin Abi Quhafah], lain pula kisah shahabat lain bernama Anas bin Nadhar radhiyallaahu ‘anh. Dirinya mengadukan penyesalan kepada Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, karena absennya kosong tidak terlibat perang Badar. Anas bertekad dengan berjanji akan membayar penyesalannya itu dengan mendaftarkan diri dalam peperangan berikutnya. Saat perang Uhud ditabuh, tibalah waktunya Anas untuk bergabung di dalamnya. Ketika kecamuk perang mulai reda, orang-orang sibuk mencarinya. Ternyata, kini Anas sudah menjadi syahid yang ditandai dengan 80 luka bekas sayatan pedang dan tusukan tombak musuh. Untaian kalimat emas yang sempat keluar dari lisannya sebelum berperang [ketika ditanya shahabat Sa’ad bin Mu’adz radhiyallaahu ‘anh]: “Aku telah mencium wanginya aroma surga di balik bukit Uhud”, kemudian Anas pun merangsek maju mengayunkan pedangnya di saat sebahagian para shahabat lain mulai pesimis disebabkan kabar hoaks yang menyebar tentang wafatnya sang Rasul akhir zaman. (Lihat: Nasib ar-Rifa’i, Taiysiirul ‘Aliyyil Qadiir, 3/485)

Menurut Imam Bukhari rahimahullaah, peristiwa ini terkait erat dengan ayat berikut:

مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا۟ مَا عَٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada [pula] yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah [janjinya].” (QS. Al-Ahzab/ 33: 23)

Satu orang shahabat berbuat, maka yang lain berlomba mengikutinya. Itulah cermin shahabat senior Abu Bakar radhiyallaahu ‘anh, yang sering diikuti shahabat lainnya. Ketika diri merasa tidak berguna dikarenakan tidak turut serta ambil bagian dalam perjuangan, maka segera bereaksi cepat mencari kesempatan dan peluang. Itulah sosok seorang shahabat Anas bin Nadhar radhiyallaahu ‘anh, yang telah menunaikan janjinya di hadapan Dzat Penciptanya. Saat jiwa mulai terguncang dan keheranan melihat kegigihan barisan pejuang Uhud, mental pun mulai jatuh dan berubah menjadi simpati. Hidayah pun mulai turun, kemudian berikrar dengan dua kalimah syahadat, lalu berjanji dan menginginkan kematian seperti syuhada Uhud. Itulah sosok shahabat Khalid bin Walid radhiyallaahu ‘anh yang wafat di tempat pembaringannya, walaupun cita-citanya mati di medan laga.

Sebagai nasihat penguat bagi diri, alangkah malu dan ruginya apabila di tengah-tengah longgarnya waktu yang tersedia, kita membiarkan diri ini “duduk manis” dan berpangku tangan tidak ikut terlibat dalam barisan perjuangan semampu yang bisa dilakukan. Bukankah Allah ‘azza wa jalla mengisyaratkan, “Tidaklah mereka itu, orang-orang yang mengubah [janjinya] di hadapan yang Maha menyaksikan”. Wa maa baddaluu tabdiilan

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!