Kamis, September 10MAU INSTITUTE
Shadow

BER-ISLAM ALA SHAHABAT NABI; IKHTIAR MENJADI GENERASI PEWARIS KEBAIKAN

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Saat kata “Islam” disebut, maka tidak ada yang lebih tepat untuk disandarkan terhadap kata tersebut melainkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula, saat menyebut keduanya tidak bisa dilepaskan dari sumber yang diturunkan dan dibawakan, yakni Kitaabullaah dan Sunnah Nabi. Karena itulah, tidak keliru apabila para ulama selalu menyandingkan antara Islam dengan Sunnah bagaikan dua keping mata uang yang tidak terpisah.

Pandangan tersebut selaras dengan ungkapan Imam Abu Muhammad bin Hasan bin ‘Ali bin Khalaf al-Barbahari [w. 329 H.] yang menegaskan “Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam” sebagaimana diuraikannya:

اعلموا أن الإسلام هو السنة، والسنة هي الإسلام، ولا يقوم أحدهما إلا بالآخر. فمن السنة لزوم الجماعة، فمن رغب عن الجماعة وفارقها فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه، وكان ضالا مضلا.

“Ketahuilah, sesungguhnya Islam itu adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam. Tidak akan tegak salah satunya, melainkan saling mengokohkan satu sama lain. Maka merupakan bagian dari Sunnah, adalah komitmen terhadap al-jama’ah [yakni sikap mengikuti Nabi dan para shahabatnya]. Siapa yang menjauh dari al-jama’ah dan menyelisihinya sungguh melepaskan ikatan Islam dari bahunya, ia pun bisa tersesat dan menyesatkan orang lain.” (Lihat: Syarhus Sunnah 1/ 30)

Sikap komitmen dan keteladanan setelah kepada Nabi, mengapa harus mengikuti para shahabatnya? Jawabannya adalah karena mereka generasi pewaris yang membangun pondasi pertama dan utama peradaban Islam di masa kenabian. Al-Barbahari melanjutkan paparannya sebagai berikut:

والأساس الذي تبنى عليه الجماعة، وهم أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ورحمهم الله أجمعين، وهم أهل السنة والجماعة

“Dan pondasi yang membangun komitmen al-jama’ah itu, adalah para shahabat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam [semoga Allah merahmati]. Mereka itulah sejatinya Ahlus Sunnah wal Jama’ah …” (Lihat: Syarhus Sunnah 1/ 30)

Tali simpul dalam paparan tersebut, senada dengan yang disampaikan shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anh sebelumnya tentang keutamaan mereka. Menurutnya:

من كان منكم متأسيا فليتأس بأصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فإنهم كانوا أبر هذه الأمة قلوبا، وأعمقها علما، وأقلها تكلفا، وأقربها هديا، وأحسنها حالا; قوم اختارهم الله لصحبة نبيه، وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوا آثارهم فإنهم كانوا على الصراط المستقيم.

“Siapa di antara kalian yang ingin meneladani seseorang [selain Nabi], maka teladanilah para shahabat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu dikarenakan mereka paling lembut hatinya, paling mendalam ilmunya, paling sedikit kekeliruannya, paling dekat petunjuknya dan paling baik kedudukannya. Mereka adalah kaum yang dipilih untuk menemani Nabinya dan menegakkan agamanya. Kenalilah keutamaan mereka dan ikuti jejak langkahnya, karena sesungguhnya mereka ada pada jalan yang lurus.” (Lihat: Ibnu ‘Abdil Bar, Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, hlm. 1810 dan Al-Harawi, Dzammul Kalaam, hlm. 188 dari jalan Salam bin Miskin, dari Qataadah).

Sungguh para shahabat, merupakan cerminan manusia teladan yang paling berhak dijadikan sosok utama dikarenakan sifat-sifat mulia yang melekat padanya; Memiliki ilmu dan sangat menjunjung tinggi keilmuan, menjaga keikhlasan, mengikuti Kitaabullah dan Sunnah Nabi, memelihara kemuliaan akhlaq, semangat dalam berjihad dan senantiasa membersihkan jiwa [tazkiyatun nafs].

Tidak berlebihan, apabila Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah [w. 751 H.] melantunkan bait syair pujiannya tentang sekelumit kehidupan mereka:

في الليل رهبان، وعند جهادهم لعدوهم من أشجع الأبطال

Pada malam hari mereka menjadi ahli ibadah, sedangkan ketika berjihad melawan musuh mereka pahlawan yang sangat berani

وإذا بدأ علم الرهان، رأيتهم يتسابقون بصالح الأعمال

Ketika telah tampak bendera perang, maka engkau akan melihat mereka berlomba-lomba berburu amal shalih

Karakteristik para shahabat itu, merupakan bahagian dari tanda-tanda sifat rabbaaniy. Selain keutamaan berjihad, mereka termasuk dalam kategori pemaknaan lima pengertian yang sering disebutkan; Orang yang bergelut dengan ilmu [al-‘ulamaa], orang yang sangat paham agama [al-fuqahaa], orang yang sangat memelihara kelembutan jiwa [al-hulamaa], orang yang senantiasa bersikap bijak [hukamaa] dan orang yang selalu menjaga nilai ketakwaan [al-atqiyaa] sebagaimana diisyaratkan Ibnu Qutaibah, Ibnul Jauzi dan Imam Al-Bukhari rahimahumullaahu ‘anhum ketika menafsirkan ayat berikut:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا۟ رَبَّٰنِيِّۦنَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ ٱلْكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tidak wajar bagi seseorang yang Allah berikan kepadanya Kitab, hukum dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi [ia berkata]: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali ‘Imraan/ 3: 79)

Ulama Tafsir kontemporer Syaikh ‘Abdurrahman Nashir as-Sa’di [w. 1376 H.] memberikan uraian singkatnya sebagai berikut:

الربانيين: أي العلماء العاملين المعلمين الذين يربون الناس بأحسن تربية ويسلكون معهم مسلك الأنبياء

“Yang dimaksud rabbaaniyyiin adalah ahli ilmu yang mengamalkan ilmunya, membimbing umat manusia dengan sebaik-baiknya bimbingan dan mereka menjalani hidup [di muka bumi] ini dengan perangai yang ditempuh para Nabi.” (Lihat: Nashir as-Sa’di, Taisiirul Kariimir Rahmaan, hlm. 232).

Dengan demikian semakin jelas dan terang, bahwa tidak ada manusia yang layak dijadikan panutan dan keteladanan [setelah Rasulullaah], terlebih dalam beragama melainkan keteladanan para shahabat Nabi [qudwatus shahaabah]. Kalaulah generasi abad ini ingin mewarisi kebaikan dalam segala hal ihwal kehidupan, maka bercerminlah pada kehidupan generasi emas ini. Bercermin hidup keduniaan terhadap para shahabat, sangatlah menakjubkan. Bercermin cara beragama terhadap mereka, sangatlah mempesona. Ber-Islam ala shahabat itu, memang tidak ada duanya. Wallaahu yahdiinaa ilaa as-shiraath al-mustaqiim

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!