Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Berita perang dan serangan milisi kelompok Hautsiyyiin Yaman yang menghiasi media dua bulan terakhir ini, di antaranya: 15 September 2026 terlaporkan drone Hautsi memasuki wilayah selatan yang mengarah Mekkah, 26 September 2026 pasukan Saudi mencegat dua drone yang mengarah menuju Riyadh, 3-4 Oktober 2026 dengan rudal balistiknya pasukan Hautsi membidik perusahaan minyak Aramco Riyadh, 10 Oktober 2026 mereka berhasil menyasar Bandara Internasional King Khalid Riyadh. Eskalasi perang yang semakin berkembang, berdampak pada keprihatinan dunia Islam [tidak terkecuali bagi kaum Muslimin yang menunaikan ibadah di dua tanah suci]. Terlebih setelah meletusnya perang yang dipimpin pemerintah sah Yaman dengan dukungan koalisi Kerajaan Saudi Arabia ini mendapatkan perlawanan sengit dari kelompok yang dikomandani keluarga besar Badruddin Hautsi yang mendapatkan dukungan Iran sejak lama. Peperangan yang tadinya sekadar melibatkan Amerika Serikat, Israel dan Iran, kini berkembang menjadi perang yang melibatkan negara-negara Teluk dan Timur Tengah.
Bidikan rudal Iran yang diarahkan ke beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, kini berlanjut mengarah ke kota-kota penting Saudi Arabia melalui milisi kaum Hautsi sebagai proxy Iran. Untuk mengetahui lebih dekat siapa sebenarnya kelompok Hautsi? Apa yang ditulis ‘Ali as-Shadiq [seorang peneliti dan penulis Timur Tengah] dalam bukunya Maadzaa Ta’rifu ‘anil Hautsiyyiin [2015], menjadi sangat penting untuk diketahui. Buku ini merupakan karya ringkas bercorak teologis-politis yang mengupas tentang asal-usul, ideologi, dan pergerakan kelompok Hautsi di Yaman. Tentu saja, buku ini akan memberikan edukasi mengenai penyimpangan ideologis kelompok tersebut dengan segala perspektifnya.
A. Asal-Usul dan Latar Belakang Gerakan
Kelompok ini disandarkan kepada pendirinya bernama Husein Badruddin al-Hautsi, putra dari seorang ulama besar komunitas Zaidiyyah Badruddin al-Hautsi di wilayah Sha’dah Yaman Utara [240 KM dari Shana’a]. Gerakan ini bermula pada tahun 1986-an sebagai gerakan keagamaan dan kultural lokal bernama Ittihaadus Syabaabil Mu’min yang artinya “Persatuan Pemuda Beriman”, dengan tujuan menghidupkan kembali tradisi keagamaan lokal di wilayah tersebut untuk membendung pengaruh luar.
B. Penyimpangan Ideologis
Secara ideologis, kelompok yang asalnya Jaarudiyyah ini, kini telah bergeser dari Zaidiyyah [sekte Syi’ah Yaman yang lebih dekat dengan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah] menjadi Syi’ah Itsnaa ‘Asyariyyah atau “Syi’ah 12 Imam” setelah sebelumnya terjadi pertentangan besar dengan sebahagian ulama Zaidiyyah lain seputar kepemimpinan yang tidak mensyaratkan keturunan dari jalur Hasan ataupun Husein sebagaimana pandangan Marja’ mereka Majduddin al-Muayyidi. Berikutnya [tahun 1990-an], Badruddin bin Amiruddin al-Hautsi lebih merapat dengan Revolusi Iran yang menekankan doktrin wilaayatul faqiih, pengkafiran dan celaan terhadap shahabat Nabi [terutama shahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhum], serta konsep imaamah yang ekstrem. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kedekatannya dengan lembaga pengajaran Qam Iran di bawah pimpinan Ayatullah Khomenei yang mengajarkan doktrin-doktrin keagamaan dan politik. Meminjam bahasa Dr. Raghib as-Sirjani [seorang dokter Mesir yang pakar sejarah], “dari kisah inilah petualangan komunitas Hautsi dimulai”.

C. Transformasi Militer dan Hubungan dengan Iran
Sebagai bukti keterlibatan kekuatan regional, khususnya Iran dalam memberikan dukungan materi, persenjataan, taktik dan doktrin militer kepada komunitas Hautsi untuk memperluas pengaruh Syi’ah di Timur Tengah. Bukan perkara rahasia, bagaimana milisi Hautsi melakukan upaya pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah sah Yaman, yang puncaknya berhasil menguasai ibu kota Shana’a pada tahun 2014.
D. Antara Slogan dengan Realita
Dalam buku ini dinukilkan, beberapa slogan yang sering muncul di kalangan Hautsi: Allaahu Akbar, Al-Mauwtu Li-Amrika, Al-Mauwtu Li-Israiil, Al-La’nah ‘alal Yahuud, An-Nashru lil Islaam [Allah Maha Besar, Matilah Amerika, Matilah Israel, Terkutuklah Yahudi, Kemenangan bagi Islam] dan narasi lainnya. Sebagai penulis, ‘Ali as-Shadiq memberikan kritik tajam bahwa slogan tersebut hanyalah alat propaganda untuk meraih simpati dunia. Pada realitas di lapangan, korban utama dari agresi, pengeboman dan kekejaman militer Hautsi justru adalah masyarakat Muslim Ahlus Sunnah di Yaman, rusaknya masjid-masjid, serta lembaga-lembaga sekolah Al-Qur’an.

E. Beragam Jargon Membahayakan
Di akhir tulisan buku berharga ini, menginformasikan beberapa petikan pemimpin Hautsi As-Sayyid Husein Badruddin al-Hautsi yang sangat membahayakan:
- Sikapnya terhadap dua shahabat besar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang dimuliakan: “Demi menghargai perasaan kaum Sunni, baik yang ada di negeri Yaman atau di luar Yaman. Dulu kami berdiam diri dengan sepenuh keyakinan, bahwa Abu Bakar dan Umar merupakan orang tua yang keliru, durhaka dan pelaku kesesatan.” (Dipetik dari Duruusun min Hadyil Qur’aanil Kariim, Surah Al-Maaidah, Pelajaran ke-4, 16/ 1/ 2002)
- Sikapnya terhadap tiga Khalifah Rasulullah, Mu’awiyah dan ‘Aisyah ridhwaanullaah ‘alaihim yang dimuliakan: “Generasi As-Salafus Shalih itu adalah mereka yang mempermainkan umat, mereka adalah pokok kezhaliman dan pemecah belah umat. Karena yang paling menonjol terlintas dalam pikiran yang menyebut generasi terdahulu yang shalih adalah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mu’awiyah, ‘Aisyah, ‘Amr bin ‘Ash dan Mughirah bin Syu’bah. Hal ini pun merupakan kesia-siaan.” (Dipetik dari Duruusun min Hadyil Qur’aanil Kariim, Surah Ali ‘Imraan, Pelajaran ke-2, 9/ 1/ 2002)
- Sikapnya terhadap Revolusi Iran: “Sesungguhnya setiap pihak yang menentang terhadap revolusi Islam Iran bersama Imam Khomenei, kami menyaksikan negara demi negara pasti merasakan akibat yang mereka lakukan.” (Dipetik dari Duruusun min Hadyil Qur’aanil Kariim, Khathara “Dukhuulu Amrikal Yamana”, 3/ 2/ 2002)
- Sikapnya terhadap pribadi Imam Khomenei: “Imam Khomenei adalah pemimpin yang adil, bertakwa dan do’anya tidak mungkin ditolak sebagaimana dijelaskan dalam hadits.” (Dipetik dari Duruusun min Hadyil Qur’aanil Kariim, “Khathara Dukhuulu Amrikal Yamana”, 3/ 2/ 2002)
- Sikapnya terhadap dakwah yang dikembangkan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab: “Teroris yang sesungguhnya adalah kaum Wahabi.” (Dipetik dari Ash-Sharkhah fii Wajhil Mustakbiriin, 17/ 1/ 2002)
F. Penutup
Melalui buku ini, ‘Ali As-Shadiq menyimpulkan bahwa gerakan Hautsi bukan sekadar fenomena konflik politik internal Yaman, melainkan ancaman ideologis dan keamanan serius bagi dunia Islam, khususnya wilayah Teluk dan dua kota suci [Haramain]. Karenanya, diserukan kepada umat Islam untuk memahami hakikat gerakan ini agar tidak teperdaya oleh propaganda mereka yang banyak menggunakan jargon-jargon pembelaan “mengatas namakan” Islam. Wallaahul Musta’aan
