ULAMA DAN UMMAT; MENJALIN SINERGI MEMETAKAN GERAKAN

ULAMA DAN UMMAT; MENJALIN SINERGI MEMETAKAN GERAKAN

Oleh:

H.T. Romly Qomaruddien, MA.

 

Dua tahun yang lalu, tepatnya pertengahan Januari 2015. Kota intan ramai dengan hilir mudik anak-anak muda nan energik, yang datang dari berbagai kota dan kepulauan di tanah air. Ternyata mereka itu para peserta Shilaturrahim Nasional Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia [Hai’ah al-‘Ulama wal Mutsaqqafien al-Indunisiyah], kepanjangan dari MIUMI yang tengah menyelenggarakan perhelatannya di Sumber Alam Cipanas Garut Jawa Barat.

 

Hadir dalam kesempatan itu, tokoh-tokoh muda para pimpinan MIUMI dan para utusan dari berbagai daerah. Adapun hal penting yang dapat dipetik adalah beberapa mutiara nashihat ilmiah dan mendalam terkait dengan kemuliaan dan kaderisasi ulama serta pentingnya ummat yang terbina.

 

Taushiyah yang disampaikan KH. Aceng Zakaria [tokoh ulama Jawa Barat] sebagai khutbah iftitah ini, sangat menyentuh para peserta yang hadir. Dengan gayanya yang khas, ustadz pun mengawali pemaparannya dengan membagi ulama itu menjadi empat bagian:

 

1] Ulama yang meninggal

2] Ulama yang meninggalkan

3] Ulama yang ditinggalkan, dan

4] Ulama yang ketinggalan

 

Menurutnya, ulama yang meninggal maksudnya para ulama yang sudah tiada. Ulama yang meninggalkan, mereka para ulama yang mewariskan karya-karyanya yang bermanpaat bagi generasi berikutnya. Ulama yang ditinggalkan, mereka para ulama yang sudah ditinggalkan ummatnya sendiri. Berikutnya ulama yang ketinggalan, mereka itu para ulama yang tidak mampu membaca zaman.

 

Setelah menjelaskan berbagai pandangan para mufassir, baik kalangan salaf serta nukilan ulama khalaf semisal Al-Maraghi, Ustadz Aceng[Kyai Persatuan Islam dengan segudang karya tanpa gelar] ini pun menukil pandangan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam mengklasifikasi ulama pada tiga sifat, yaitu:

 

1] Ulama yang muhlikun nafsahu wa ghairahu [membinasakan dirinya dan orang lain]

2] Ulama yang mus’idun nafsahu wa ghairahu[membahagiakan dirinya dan orang lain]

3] Ulama yang muhlikun nafsahu wa mus’idun ghairahu[membinasakan dirinya dan membahagiakan orang lain].

 

Beliau pun bertamtsil, ulama klasifikasi pertama bagaikan rokok; membinasakan dirinya dan orang lain, lalu dibuang dan puntung rokoknya diinjak-injak. Klasifikasi kedua bagaikan matahari, dia tetap bersinar ([kelihatan atau tidak] walaupun orang yang disinarinya melanggar. Sedangkan klasifikasi ketiga bagaikan lilin, dirinya terbakar meleleh namun membahagiakan orang lain.

Kemudian ustadz pun menukil kembali pertanyaan Al-Ghazali, ayyu aqsaamin anta? [kalau memang anda ulama, termasuk klasifikasi manakah anda?].

 

Hadirin yang sejak awal menyimak dengan penuh seksama butiran-butiran nashihat yang disampaikan dengan penuh sepoi-sepoi_namun menembus kedalaman jiwa itu merasakan dentumannya. _”Di sinilah pentingnya shilaturrahim [menyambungnya ikatan persaudaraan], agar terjadi shilatul ‘ilmi [menyambungnya ikatan intelektual] , dari shilatul ‘ilmi menjadi shilatul fikri [menyambungnya ikatan pikir], dan dari shilatul fikri melahirkan shilatul harakah [ikatan gerakan]” Demikian dituturkan Dr. Hamid Fahmi Zarkasy sebagai Ketua Majelis Pimpinan MIUMI dalam sambutannya sekaligus gayung bersambut atas khutbah iftitah sebelumnya.

 

Semoga jalinan sinergi yang dibangun, benar-benar menjadi berkah dan mashlahah bagi ummat dalam memetakan gerakan dakwah. Aamiin …

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com