Sabtu, September 25MAU INSTITUTE
Shadow

LIKULLI ZAMAANIN HADHAARATUN WA LIKULLI HADHAARATIN THARIIQATUN WA MANHAJUN

LIKULLI ZAMAANIN HADHAARATUN WA LIKULLI HADHAARATIN THARIIQATUN WA MANHAJUN
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

“Setiap zaman ada peradabannya, setiap peradaban ada metode dan pedoman bagaimana menaklukkan peradaban itu”.

Untaian kalimat ini, belakangan begitu sangat terkesan untuk diungkapkan. Di mana, semua kita sangat merasakan betapa zaman terus melaju jauh, peradaban pun kian banyak mengalami perubahan. Maka sudah bisa dipastikan, betapa ikhtiar untuk menaklukkan peradaban pun membutuhkan metode dan pedoman yang sesuai. Keselaran ini adalah sebuah keniscayaan karena memang Islam adalah diinun hadhaaratun shaalihun likulli zamaanin wa makaanin; “Agama yang menjunjung tinggi peradaban yang senantiasa selaras dengan situasi dan kondisi”.

Banyak hal yang patut kita renungkan, perjalanan kehidupan yang terbentang begitu panjangnya; Di dalamnya ada masa-masa perintisan, di dalamnya pula ada masa-masa perkembangan. Ada masa-masa keemasan dan kegemilangan, namun ada pula masa-masa kejatuhan dan keterpurukan. Namun demikian, setelah semua itu ada pula yang disebut dengan masa-masa kebangkitan.

Islam sebagai agama yang paripurna, mengingatkan itu semua; Baik peringatan yang bersifat qur’aaniyyah, yakni kabar suci yang tergambar dalam Al-Qur’an. Atau pun yang bersifat khabar nubuwwah, yakni berbagai isyarat kenabian yang dijelaskan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya yang shahih. Selain itu, ada juga yang bersifat siyarun (bentuk jamak dari siirah), yakni ragam peristiwa yang terjadi pada zaman ke zaman.

Yang bersifat qur’aaniyyah; contoh populer, bagaimana Allah ‘azza wa jalla menjelaskan hikmah di balik ujian kekalahan kaum Muslimin di perang Uhud, di mana sebelumnya kaum Muslimin dianugerahi kemenangan total di perang Badar. Demikian pula siklus perjuangan yang terjadi setelahnya, berjalin berkelindan membentuk mata rantai pelajaran yang tak terputus.

Yang bersifat khabar nubuwwah; contoh paling familiar adalah sinyalemen Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang fase-fase kekuasaan. Mulai dari fase kenabian (nubuwwah), fase khalifah agung yang empat (khulafaaur raasyidiin), fase raja-raja menggigit dan diktator (mulkan ‘aadhan wa jabariyyatan). Kemudian disusul berikutnya dengan kekuasaan yang diharapkan seperti di zaman kepemimpinan khalifah Nabi (khilaafatan ‘alaa minhaajin nubuwwah). Uraiannya dapat dilihat dalam kitab Al-Islaam karya Sa’ied Hawwa atau kitab Al-Bai’at karya Syaikh Ramly Kabi’ ‘Abdurrahman.

Yang bersifat siyarun; banyak contohnya sebagaimana dijelaskan para ulama siirah. Bagaimana Al-Imam Jalaluddin As-Suyuthy rahimahullaah memaparkan dalam kitabnya Taarikhul Khulafaa terkait integritas kepemimpinan para khalifah. Tak kalah menariknya kitab-kitab yang mengiringinya seperti Itmaamul Wafaa Fie Siiratil Khulafaa oleh As-Syaikh Muhaammad Al-Khudhary Beik atau Tahdziib Taarikh at-Thabary; Taarikhul Umam wal Muluuk oleh Shalih Khuraisat. Demikian pula Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah dalam kitabnya Al-Bidaayah Wan Nihaayah yang merincikan lintasan peristiwa dunia, mulai terciptanya Adam ‘alaihis salaam hingga hancur leburnya bumi Muslimin dengan ragam peristiwa dahsyat yang dilaluinya (termasuk serbuan pasukan bengis Tatar Mongolia Jengis Khan), juga kehancuran akhir zaman (nihaayatul fitan wal malaahim). Dalam kajian kontemporer, bisa juga direnungkan kupasan bahasan yang dituturkan secara apik oleh Dr. Ahmad Ramadhan Ahmad dalam kitabnya Al-Khilaafah Fil Hadhaarah al-Islaamiyyah.

Qaddarallaah, tanpa mengkaitkan sama sekali dengan datangnya tahun baru Masehi 2021, paparan ini diketengahkan. Melainkan, secara berbarengan renungan ini tengah al-faqir sampaikan dalam daurah-daurah tadriibiyyah yang disampaikan pada para santri, para mahasiswa, aktivis muda sebagai motivasi juang dalam pembelajaran “mewakafkan diri” pada agamanya. Adapun dengan para sahabat juang dan para Tuan Guru (masaayikh dan asaatidz), menjadi bahan introspeksi untuk lebih bersemangat lagi dalam melahirkan anak-anak didik putra ideologis sebagai “punggawa-punggawa peradaban”.

Di tengah keprihatinan atas segala ujian yang menimpa ummat, seyogianya harapan itu mesti ada, masih terbentang luas … Harapan untuk hidup baru, harapan menuju suasana lebih indah, harapan untuk hidup mulia, harapan untuk lebih berjaya dan ujung harapan lainnya. Ini semua menjadi dorongan tersendiri dalam rangka memupuk jiwa untuk selalu berada pada barisan “madzhab optimis”, bukan pada kerumunan “madzhab pesimis”.

Untuk yang terakhir, ingin rasanya mengulang kembali wasiat sang Guru terkait peradaban. Kyai pesantren kami, Ustadzunal Faadhil KH. Sjihabuddin bersama Ustadzah Hj. Aminah Dahlan Allaahu yarhamhumaa (Dua sejoli tokoh berdirinya Pesantren Persatuan Islam wilayah Garut Jawa Barat) pernah menuturkan dengan bahasa khas Tatar Pasundan: “Satuntung urang nuturkeun batur, urang bakal tukangeun batur. Kahareup, urang kudu bisa jadi hareupeun batur”. Apabila diterjemahkan, kurang lebih seperti ini: “Selama kita mengikuti pola orang lain, maka kita akan berada di belakang orang lain. Ke depan, kita harus mampu menjadi orang yang berada di depan orang lain”. Selamat bermujaahadah … Wallaahu yahdiinaa subulas salaam
____

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah Persatuan Islam (Komisi ‘Aqidah), Anggota Fatwa MIUMI (Perwakilan Jawa Barat), Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat, Kaprodi KPI STAIPI Jakarta dan Ketua Bidang Kajian dan Ghazwul Fikri Dewan Da’wah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!