Kamis, September 23MAU INSTITUTE
Shadow

SEHAT ITU TIDAK MURAH DAN TIDAK MUDAH, BERSYUKURLAH !!!

SEHAT ITU TIDAK MURAH DAN TIDAK MUDAH, BERSYUKURLAH !!!
Oleh:

Teten Romly Qomaruddien

Seiring waktu yang terus berlalu, keadaan yang terus berjalan, dan kondisi yang terus bergulir … Semuanya melaju iringi taqdir hidup di bumi, dan menapak qadar yang Maha kuasa selama di dunia. Tak ada yang tahu persis, sesungguhnya apa yang bakal dialami oleh masing-masing diri. Kebaikankah atau keburukankah yang akan didapat, ujian kesenangan atau ujian kesengsaraan yang bakal dialami? Jawabannya sangat tergantung pada rahasia Allah ‘azza wa jalla yang sangat tersembunyi.

Dua pekan ini (lebih 15 hari), ada kondisi yang dapat dirasakan kurang wajar; hilangnya tenaga, kurangnya semangat, sirnanya selera makan, penciuman yang tak berfungsi, bahkan mual, sakit sampai ke ulu hati, hingga pening di kepala kerap terasa. Tentu yang dirasakan ini, tak sekadar dirasakan diri ini semata, namun dialami juga oleh sedulur lainnya. Mengingat, kondisi cuaca yang ada, sangat memungkinkan siapa pun dapat tergejala karenanya. Kita wajib menerima keadaan duka ini, tanpa harus mencela cuaca yang sudah menjadi kehendak Dzat yang Maha Perkasa.

Berkali-kali diri ini diingatkan; betapa saudara-saudara kita merasakan ujian yang lebih dari sekedar yang kita rasakan; Mulai dari vonis menderita serius akibat wabah yang menyebabkan harus terpisah dari sanak keluarga, atau pun derita bawaan yang memang sudah ada sejak semula. Suasana makin terasa menyayat jiwa, ketika masjid dan mushalla seolah berlomba saling bersahut-sahutan mewartakan bahwa si fulan bin fulan telah dipanggil ke Rahmatullaah, demikian pula suara sirine ambulance yang begitu sangat mengiris hati dan menghentak dada. Sungguh tanda-tanda itu terasa sangatlah dekatnya. Innaa lillaahi wa Innaa ilaihi raaji’uun 3x … Telah berpulang ke rahmatullaah fulan bin fulan dalam usia sekian tahun. Semoga almarhum-almarhumah diterima iman dan Islamnya di sisiNya”. Demikian alunan itu terdengar, di waktu pagi, siang, sore hari, hingga malam hari.

Kalaulah pemandangan serupa hanya terjadi di radius lingkungan rukun warga, masih mudah menghitungnya. Tiga, hingga lima orang dalam sehari. Bagaimana dengan satu kampung, satu dusun, satu desa, satu kecamatan, dan seterusnya? Betapa bagi Allah ‘azza wa jalla tak ada yang sulit, walau harus membinasakan seluruh manusia, dan seisi bumi sekalipun.

Hanya ada dua pilihan, ketika kita dihadapkan kondisi seperti ini; Bersiap menata ajal dengan psikologi kematian yang rapih, atau optimis untuk bertahan hidup dengan segala ikhtiar penuh iman? Disinilah pentingnya, terus mengeja kata dengan do’a. Meniti karir hidup yang tersisa dengan amal shaleh yang masih bisa dilakukan. Maka, saling mengingatkan sesama saudara, menjadi barang mahal yang sangat berharga dan wajib diperjuangkan.

Betapa keberadaan teman yang selalu mengingatkan, saudara yang selalu menyapa bahagia, jamaah dan handai tolan yang selalu memberi semangat, dan orang-orang istimewa yang selalu perhatian. Terima kasih kakak dan adik-adik, terima kasih anak-anak, terima kasih teman dan sahabat juang, terima kasih jamaah dan handai tolan, terima kasih rumah sehat, terima kasih petugas kesehatan masyarakat. Terutama sekali, terima kasih wahai orang tua yang selalu mendo’akan, serta para guru yang turut memberikan dorongan. Semuanya larut dalam ta’aawun dan berkontribusi demi kehidupan ke depan yang lebih baik dan bermakna. Tanpa kalian semua, sungguh hamba yang faqir bukan siapa-siapa …

Benar apa yang disampaikan para guru, betapa Rasul yang mulia berulang kali mengingatkan, agar kehidupan yang kita cintai sungguh diyakini merupakan ujian. Demikian pula kematian, sungguh diyakini merupakan ujian pula. Karena itulah, tak henti-hentinya kita diperintahkan untuk selalu munajat: “Allaahumma innii a’uudzu bika min fitnatil mahyaa wal mamaat; Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung padaMu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian.”

Selain itu, sungguh kehidupan alam akhir kelak, jauh lebih kekal dari kehidupan kita saat ini. Tidak berlebihan apabila ada pepatah Melayu yang menuturkan, agar kita benar-benar mempertimbangkan keduanya: “Kejarlah dunia, pasti tak dapat. Kalau pun dapat, pasti tak banyak. Kalau pun banyak, pasti kau tak puas. Kalau pun puas, pasti tak akan lama. Tapi kalau akhirat kau kejar, pasti dapat. Sudahlah dapat, pasti banyak. Sudahlah banyak, pasti kau puas. Sudahlah puas, pasti abadi selama-lamanya.”

Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal, semoga sehat dan berkah selalu menyertai kita semua … Allaahumma innii a’uudzu bika minal barashi wal junuuni wal judzaami wa min sayyi’il asqaam … Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin


✍️ Ditulis bakda shalat ‘ashar, hari Senin, tertanggal 05 Juli 2021 (sebagai tahadduts bin ni’mah pasca isolasi mandiri) di kediaman rumah juang Pusdiklat Dewan Da’wah Setiamekar Tambun Selatan Bekasi 17510

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!