Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Al-Qur’an adalah tali Allah ‘azza wa jalla yang kokoh [hablullaahil matiin], pemberi nasihat paling bijak [adz-dzaakirul hakiim]. Al-Qur’an mengajak manusia pada jalan yang lurus [as-shiraathul mustaqiim], Al-Qur’an pula yang membuat hawa nafsu terkendali dan menjadikan lisan seseorang tidak menjadi kabur. Para ulama dan ilmuwan di setiap zaman tidak akan pernah bosan menggali kandungannya, karena Al-Qur’an tidak akan pernah hampa oleh banyaknya pihak yang menolak. Keajaibannya tidak akan pernah pudar; Siapa yang berhujjah dengannya pasti dia benar, siapa yang mengamalkan isinya pasti dibalas, siapa yang berhukum dengannya pasti akan adil, dan siapa saja yang mengajak kepadanya pasti akan mendapatkan petunjuk jalan yang lurus.
Beberapa kabar kenabian [khabar nubuwwah] yang memberikan dorongan agar manusia termotivasi menjalin keharmonisan dengan Al-Qur’an; Yakni dengan cara berusaha bagaimana manusia bisa menjadi paham dan sadar bahwa kemuliaan hidup seseorang ditentukan pula oleh sejauhmana orang tersebut memperlakukan Al-Qur’an, meyakini bahwa Al-Qur’an bisa menjadi pembelanya di hari pembalasan [selain bisa menggugat pembacanya], bisa membuat pecintanya menjadi manusia mulia di antara manusia lainnya dan bisa memperoleh kedudukan yang tinggi karena dibersamai para malaikat-Nya. Untuk lebih meyakinkan, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menuturkan dalam bentangan sabda berikut ini:

Pertama; Peringatan Rasulullaah tentang umat yang diangkat dan dihinakan
إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما، ويضع به آخرين
“Sesungguhnya Allah meninggikan derajat suatu kaum dengan sebab berpegang teguh terhadap Kitab ini [Al-Qur’an] dan merendahkan kaum lainnya dengan sebab menelantarkan Kitab ini pula.” (HR. Imam Muslim no. 817 dari shahabat Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anh).
Kedua; Kabar Rasulullaah terkait Al-Qur’an akan menjadi hujjah [pembela atau penghujat manusia] di hari pembalasan
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Dan Al-Qur’an bisa membelamu atau bahkan menuntut dirimu.” (HR. Muslim no. 227 dari shahabat Abu Malik al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anh)
Ketiga; Berita Rasulullaah tentang kemuliaan dan keunggulan seorang Muslim yang menjaga Al-Qur’an
إن من إجلال الله: إكرام ذي الشيبة المسلم، وحامل القرآن غير الغالي فيه والجافي عنه، وإكرام ذي السلطان المقسط
“Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah adalah memuliakan orang yang sudah beruban lagi Muslim, memuliakan ahli Qur’an dengan tidak berlebihan dan tidak menyepelekannya, serta memuliakan para pemimpin yang berbuat adil.” (HR. Abu Dawud no.4843, dihasankan oleh Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrij Sunan Abu Dawud).

Keempat; Motivasi Rasulullaah tentang pahala dan kedudukan Ahlul Qur’an
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ، لَهُ أَجْرَانِ
“Orang yang mahir [lancar membaca] Al-Qur’an akan bersama para Malaikat utusan Allah yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, dia terbata-bata, dan dia merasakan berat [membacanya], maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim no. 798 dari shahabat ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anh)
Berbahagialah bagi mereka yang masih menjalin kebersamaan bersama Al-Qur’an; Apakah dengan membacanya langsung atau mengajarkannya [baik secara mahir atau belum mahir, membaca secara tahsin dan tajwid atau belum sempurna, dengan memahami terjemah dan tafsir atau tidak], mengamalkan sebahagiannya atau mengamalkan dengan sempurna, memelihara dan mengawal Al-Qur’an dengan segenap keilmuan dan kemampuan atau pun sesuai kemampuan yang bisa dilakukan [termasuk mendukung para pejuang Al-Qur’an], juga membela Al-Qur’an dari berbagai bentuk penyimpangan [baik penyimpangan makna atau penyimpangan penafsiran].

Semua itu dilakukan dalam rangka menjemput keselamatan dan kebahagiaan, serta keridhaan Allah ‘azza wa jalla di tengah-tengah pancaroba zaman. Selain sebagai kewajiban umat Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap Kitaabullaah, juga agar umat ini tidak digolongkan kepada umat yang senang mengabaikan, membelot dan menyimpang [dari ajaran Al-Qur’an] sebagaimana pengaduan Rasul-Nya. Dalam hal ini, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan dalam firman-Nya:
وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوْمِى ٱتَّخَذُوا۟ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ مَهْجُورًا
“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang diabaikan.” (QS. Al-Furqan/ 25: 30)
للهم اجعل القرآن العظيم ربيع قلوبنا، ونور صدورنا، وذهاب همومنا وأحزاننا، اللهم علمنا منه ما جهلنا، وذكرنا منه ما نسينا، وارزقنا تلاوته آناء الليل وأطراف النهار … وارزقنا تدبره والعمل به.
Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai mata air hati kami, cahaya dada kami, dan penghapus segala kekhawatiran dan kesedihan kami. Ya Allah, ajarilah kami apa yang tidak kami ketahui darinya, ingatkan kami apa yang telah kami lupakan, dan karuniakanlah kami kemampuan untuk membacanya di malam hari dan di penghujung siang … Dan karuniakanlah kami kemampuan untuk merenungkannya dan mengamalkannya. Aamiin yaa Rabbanaa
*) Tulisan singkat ini digoreskan sebagai materi Taujih Aakhirus Sanah pada acara “Khatmul Qur’an dan Pelepasan Santri Pondok Tahfizh Waadil Qur’an Persatuan Islam” [Pimpinan Al-Ustadz H. Arief Husni Majid, M.Pd.] di Aula Gedung Nusantara V MPR-RI Jl. Gatot Subroto Senayan Jakarta Pusat [Sabtu, 12 Juli 2025]

Mumtaaz Ustadz…
Mumtadz Ustadz…
Sehat, selamat & berkah.
Jangan berhenti berdakwah. Ilmunya ditunggu banyak fihak,
Alhamdulillāh sae pisan Tadz. Jazākumullāhu khair.
Hapuntèn kasuhun nyuhunkèn widi didugikeun ka nu sanesna.